Connect with us

Berita

Celios Ragukan Tujuan Danantara sebagai Penggerak Pertumbuhan usai Suntik Rp16,3 Triliun ke Garuda Indonesia

Celios menilai suntikan Danantara atas PT Garuda Indonesia tidak efektif, mengingat perusahaan itu mengalami sejumlah masalah keuangan.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn (85)
Celios Ragukan Tujuan Danantara sebagai Penggerak Pertumbuhan usai Suntik Rp16,3 Triliun ke Garuda Indonesia | Gambar: Dok. Danantara Indonesia

MPN Indonesia 7 Juli 2025 - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melalui PT Danantara Asset Management (Persero) menyuntikkan dana Rp6,65 triliun kepada Garuda Indonesia dan anak usahanya, Citilink Indonesia, dalam bentuk pinjaman pemegang saham (shareholder loan).

Langkah ini merupakan bagian dari total komitmen dukungan investasi senilai USD1 miliar atau sekitar Rp16,3 triliun dari Danantara.

Dari total dana yang disalurkan, Rp1,82 triliun dialokasikan untuk Garuda Indonesia dan Rp4,83 triliun untuk Citilink Indonesia.

Dana tersebut akan digunakan untuk keperluan maintenance, repair, and overhaul (MRO) terhadap 10 armada pesawat Garuda dan 15 pesawat Citilink.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, menyebut bahwa dukungan dari Danantara merupakan langkah strategis untuk mendukung transformasi jangka panjang perusahaan.

Namun, langkah tersebut menuai sorotan dari Center of Economic and Law Studies (Celios).

Peneliti Ekonomi Celios, Jaya Darmawan, meragukan efektivitas suntikan modal tersebut sebagai bentuk investasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Tujuan Danantara Dipertanyakan

Menurut Jaya Darmawan, suntikan dana dari Danantara justru menimbulkan pertanyaan tentang arah dan tujuan lembaga tersebut sebagai penggerak pertumbuhan.

Ia menilai bahwa secara return on investment (ROI), investasi kepada Garuda Indonesia sangat riskan mengingat perusahaan tersebut sudah lama mengalami persoalan keuangan dan membutuhkan efisiensi manajerial, bukan tambahan modal.

“Terkait suntikan modal Danantara ke Garuda hingga RP16,3 triliun ini malah menimbulkan pertanyaan akan tujuan dari Danantara yang diklaim sebagai penggerak pertumbuhan,” ujar Jaya kepada MPN Indonesia, Kamis (3/7).

“Karena secara ROI sangat riskan hasilnya, mengingat sudah lama mengalami masalah keuangan dan lebih membutuhkan efisiensi manajerial dibanding tambahan suntikan modal,” imbuhnya.

Baca Juga:  Serangan AS ke Iran Sebabkan Harga Bitcoin Anjlok

Pemerintah-DPR Harus Rumuskan Mitigasi Risiko

Celios juga menilai bahwa pemerintah dan DPR harus merumuskan regulasi mitigasi risiko terhadap Danantara.

Hal itu mencakup batasan terhadap investasi berisiko tinggi, persyaratan cadangan likuiditas, serta transparansi keuangan melalui audit berkala oleh BPK.

Jaya menegaskan bahwa Danantara sebagai entitas investasi baru juga belum memiliki regulasi mitigasi risiko yang memadai.

“Danantara harus berpikir sebagai engine of investment dengan mindset baru dan lebih segar dibanding hanya meneruskan apa yang selama ini dilakukan BUMN,” ucapnya.

Kritik terhadap Investasi Energi

Tak hanya investasi ke sektor penerbangan, Celios juga mengkritisi strategi investasi Danantara di sektor energi.

Menurut Jaya, investasi seharusnya difokuskan pada transisi energi yang benar-benar berkelanjutan dan berkeadilan.

Ia menilai bahwa fokus pada geothermal, gas, dan biomassa hanya memperpanjang ketergantungan pada energi fosil yang rentan terhadap volatilitas harga dan berisiko menimbulkan deforestasi.

“Ini buruk untuk investasi jangka panjang dan berkelanjutan,” kata Jaya.

Celios berharap Danantara mampu memilih sektor bisnis yang lebih produktif, mampu menciptakan lapangan kerja, memberikan return optimal, dan tetap berada dalam prinsip keberlanjutan.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending