Connect with us

Ekonomi

Bank Indonesia Pangkas Suku Bunga jadi 4,75%

Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%.

Logompn

Published

on

Bank indonesia pangkas suku bunga jadi 4,75%
Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers pada Rabu (17/9) | Gambar: YouTube/Bank Indonesia Channel

MPN Indonesia 18 September 2025 - Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75%.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16-17 September 2025.

Pengumuman disampaikan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers pada Rabu (17/9).

Selain BI Rate, BI juga menurunkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,75% dan Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%.

“Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 September 2025 memutuskan untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75%,” ujar Perry Warjiyo, dilihat MPN Indonesia dari YouTube Bank Indonesia.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat sebesar 0,30% (ptp) pada September 2025 (per 16 September) dibandingkan akhir Agustus lalu.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2025 tercatat sebesar 2,31% (yoy), tetap terkendali berkat menurunnya inflasi inti dan administered prices (AP).

BI Empat Kali Turunkan Suku Bunga Tahun Ini

Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kebijakan penurunan suku bunga ini dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Langkah ini mempertimbangkan inflasi 2025-2026 yang diperkirakan tetap dalam sasaran 2,5% ±1%, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamentalnya.

“Ke depan BI akan terus mencermati prospek pertumbuhan ekonomi dan inflasi dalam memanfaatkan ruang penurunan BI Rate dengan mempertimbangkan nilai tukar rupiah,” tegas Perry.

Baca Juga:  Destry Damayanti Resmi jadi Gubernur BI Sementara Gantikan Perry Warjiyo

Sejak awal 2025, BI telah memangkas suku bunga sebanyak empat kali, masing-masing 25 bps pada Januari, Mei, Juli, dan Agustus dari posisi 6,00% di Desember 2024.

Ekonomi Global Masih Lemah

BI menilai bahwa kebijakan moneter akomodatif masih diperlukan karena kondisi ekonomi global masih lemah.

Perry menyampaikan bahwa perekonomian dunia mengalami perlambatan akibat tarif resiprokal AS dan tingginya ketidakpastian global.

Pertumbuhan ekonomi global 2025 diperkirakan lebih rendah dari prakiraan sebelumnya, sekitar 3,0%.

Di Amerika Serikat ada keyakinan melemahnya konsumsi rumah tangga dan naiknya pengangguran.

Kinerja ekonomi di Tiongkok juga mengalami penurunan ekspor dan permintaan domestik khususnya investasi karena tarif AS.

Sementara ekonomi di Eropa dan Jepang menurun karena penurunan ekspor. Namun di India, pertumbuhan ekonomi sedikit meningkat karena stimulus fiskal.

Langkah Kebijakan Lanjutan

Untuk mendukung kebijakan penurunan suku bunga, Bank Indonesia juga menerapkan sejumlah strategi lanjutan, antara lain:

Strategi operasi moneter pro-market, meliputi:

  • Penyesuaian suku bunga instrumen moneter dan swap valas.
  • Penurunan SRBI dan pembelian SBN di pasar sekunder.
  • Penguatan peran dealer utama untuk meningkatkan transaksi SRBI dan repo.

Stabilisasi nilai tukar rupiah, melalui:

  • Intervensi transaksi spot, DNDF domestik, dan NDF luar negeri.
  • Pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK)

Berdasarkan sektor prioritas dalam Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Peningkatan digitalisasi sistem pembayaran

Termasuk penguatan kerja sama QRIS Antarnegara dan QRIS Tanpa Pindai (TAP).

Kerja sama internasional

  • Memperkuat sistem pembayaran
  • Mendorong penggunaan mata uang lokal
  • Promosi investasi-perdagangan sektor prioritas.

(AKM/NID/RAD)

Trending