Connect with us

Ekonomi

OJK Sebut Utang Paylater Warga RI Tembus Rp24 Triliun per Juli 2025

OJK mencatat porsi kredit Buy Now Pay Later (BNPL) dari sektor perbankan mencapai 0,30 persen dari total kredit perbankan.

Logompn

Published

on

Ojk sebut utang paylater warga ri tembus rp24 triliun per juli 2025, naik 33%
OJK Sebut Utang Paylater Warga RI Tembus Rp24 Triliun per Juli 2025, Naik 33% | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 9 September 2025 - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa porsi kredit Buy Now Pay Later (BNPL) dari sektor perbankan mencapai 0,30 persen dari total kredit perbankan.

Nilai tersebut setara dengan Rp24,05 triliun, meningkat 33,56 persen per Juli 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka ini menunjukkan kenaikan dari bulan sebelumnya, yakni Juni 2025, yang mencatatkan baki debet sebesar Rp22,99 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 29,75 persen.

Jumlah rekening yang menggunakan layanan BNPL perbankan juga mengalami pertumbuhan.

Pada Juli 2025 ada 28,25 juta rekening paylater. Sebelumnya, pada Mei dan Juni masing-masing tercatat ada 26,96 juta dan 24,79 juta rekening.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Agustus bahwa data tersebut diperoleh dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

“Per Juli 2025, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK, tumbuh 33,56 persen yoy Rp24,05 triliun dengan jumlah rekening mencapai 28,25 juta,” ujar Dian.

Pertumbuhan BNPL di Perusahaan Pembiayaan

Selain di sektor perbankan, perusahaan pembiayaan atau multifinance juga mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam pembiayaan BNPL.

Pada Juli 2025, nilai kredit paylater yang disalurkan oleh multifinance mencapai Rp8,81 triliun.

Pertumbuhan tahunan mencapai 56,74 persen, naik dari bulan sebelumnya yang tumbuh 55,75 persen.

Kinerja Perbankan Nasional 2025 Tetap Stabil

OJK memproyeksikan bahwa kinerja sektor perbankan nasional pada 2025 akan tetap stabil.

Pertumbuhan kredit diperkirakan termoderasi dibandingkan tahun sebelumnya, sejalan dengan pendekatan perbankan yang lebih berhati-hati terhadap penyaluran kredit di segmen berisiko tinggi.

Baca Juga:  Prabowo Hapus Utang Petani dan Nelayan Maksimal Rp500 Juta untuk Badan Usaha, Rp300 Juta untuk Perseorangan

Meskipun demikian, ekspansi tetap dilakukan pada sektor yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional dan memiliki prospek yang baik.

Dian menegaskan bahwa infrastruktur perbankan masih terjaga sehingga layanan keuangan kepada masyarakat tetap berjalan secara optimal, meskipun terdapat dinamika sosial-politik di berbagai daerah.

Ia juga menyatakan bahwa OJK terus berkoordinasi dengan berbagai lembaga, termasuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), untuk mengantisipasi potensi gangguan terhadap stabilitas sistem perbankan.

“OJK selaku otoritas perbankan akan terus memantau dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan terhadap berbagai potensi gangguan terhadap kinerja bank, gangguan terhadap stabilitas sistem perbankan, dan kepercayaan publik,” kata Dian.

Total Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh

Secara keseluruhan, intermediasi perbankan tetap stabil. Total penyaluran kredit perbankan per Juli 2025 tumbuh 7,03 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp8.043,2 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit tercatat sebagai berikut:

  • Kredit investasi: tumbuh 12,42 persen
  • Kredit konsumsi: tumbuh 8,11 persen
  • Kredit modal kerja: tumbuh 3,08 persen

Sementara itu, berdasarkan kepemilikan, pertumbuhan tertinggi terjadi pada kredit dari kantor cabang bank asing yang naik 9,90 persen yoy.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending