Ekonomi
Surplus Dagang Juni 2025 Menyusut ke Level US$4,10 Miliar
Indonesia catat surplus dagang USD4,10 miliar pada Juni 2025. Ekspor tumbuh tahunan tapi melemah bulanan. BPS sebut tren surplus capai 62 bulan.
MPN Indonesia 4 Agustus 2025 - Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$4,10 miliar pada Juni 2025, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).
Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$4,30 miliar.
Penurunan terjadi seiring pelemahan kinerja ekspor nasional pada periode yang sama.
Ekspor Indonesia tercatat sebesar US$23,44 miliar, terdiri dari ekspor nonmigas senilai US$22,33 miliar dan ekspor migas US$1,11 miliar.
Meski secara tahunan (YoY) ekspor tumbuh 11,29%, pertumbuhan ini tidak cukup untuk menahan laju impor yang mencapai US$19,33 miliar.
Rinciannya, impor nonmigas sebesar US$17,11 miliar dan migas US$2,22 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa tren positif neraca perdagangan terus berlanjut.
“Pada Juni 2025, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$4,10 miliar,” ujar Pudji dalam rilis resmi BPS, Jumat (1/8).
Komoditas Penyumbang Surplus dan Defisit
BPS mencatat beberapa komoditas utama penyumbang surplus perdagangan Juni 2025, yaitu:
- Lemak dan minyak nabati (HS 15)
- Bahan bakar mineral (HS 27)
- Besi dan baja (HS 72)
Sementara itu, komoditas yang mencatatkan defisit di sektor migas antara lain:
- Minyak mentah
- Hasil minyak
Surplus dari sektor nonmigas tercatat sebesar US$5,22 miliar, yang didukung peningkatan ekspor produk seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari–Juni 2025 mencatat surplus US$19,48 miliar. Dari jumlah tersebut, sektor nonmigas menyumbang US$28,31 miliar.
Ekonom Proyeksi Surplus Menyusut
Sebelum data resmi dirilis, sejumlah ekonom memproyeksikan penyusutan surplus pada Juni 2025.
Menurut konsensus Bloomberg dari 24 ekonom, surplus diperkirakan sekitar US$3,45 miliar.
Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk., Hosianna Evalita Situmorang, memperkirakan surplus masih berada di kisaran US$4,20 miliar, ditopang ekspor kelapa sawit, logam dasar, dan komponen elektronik ke AS dan Tiongkok.
“Ekspor diperkirakan masih tumbuh kuat sebesar 10% (YoY),” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Andry Asmoro, memproyeksikan surplus lebih rendah di angka US$3,32 miliar karena lonjakan impor dan melemahnya permintaan ekspor.
“Hal ini sejalan dengan peningkatan impor dari China, sementara ekspor melambat akibat melemahnya permintaan dari India dan China,” tegas Andry, pada Kamis (31/7).
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
