Connect with us

Berita

Korban Banjir-Longsor Aceh Alami Trauma Berat, Akui Selalu Takut saat Hujan Turun

Korban banjir bandang dan longsor di Aceh alami trauma berat, takut hujan, gangguan tidur, hingga risiko PTSD.

Logompn

Published

on

Korban banjir longsor aceh alami trauma berat, akui selalu takut saat hujan turun
Korban Banjir-Longsor Aceh Alami Trauma Berat, Akui Selalu Takut saat Hujan Turun. Gambar: Dok. BNPB

Aceh, MPN Indonesia 28 Desember 2025 - Korban banjir bandang dan longsor di Aceh mengalami trauma berat hingga memengaruhi kondisi psikologis mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak penyintas mengaku merasa takut setiap kali hujan turun, bahkan mengalami gangguan tidur hingga sering melamun.

Hal ini disampaikan oleh dr Insan Sarami Artanoga, dokter spesialis kesehatan jiwa dari Kabupaten Bener Meriah.

Di posko pengungsian, kondisi emosional para korban kian mengkhawatirkan.

Sejumlah pengungsi, seperti Ratnawati (54) dan Warno (56), menunjukkan gejala stres berat seperti sering melamun, emosi, dan gangguan tidur.

Anak-anak juga mengalami perubahan perilaku seperti menangis tanpa henti dan kesulitan tidur.

“Banyak sekali perubahannya. Minta turun, pulang. Semalaman tidak bisa tidur, menangis terus, 24 jam menangis,” ujar Ratnawati yang mengungsi di Jembatan Tamiang, dikutip MPN Indonesia dari laman BBC, Minggu (28/12).

Menurut psikolog klinis Yulia Direzkia, dampak psikologis bencana kali ini dinilai lebih berat dibanding tsunami Aceh 2004.

Ketidakmampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar penyintas—seperti makanan, air bersih, tempat tinggal, dan layanan medis—disebut sebagai penyebab utama memburuknya kondisi mental para korban.

“Ketika basic need-nya tidak terpenuhi, itulah yang akhirnya nanti menjadi trauma yang berat,” ujar Yulia.

Penanganan Trauma Diperlukan Segera

Sejak awal Desember lalu, layanan Mobile Clinic yang dipimpin oleh dr Insan telah menjangkau sejumlah posko pengungsian di Bener Meriah.

Tim ini terdiri dari tenaga medis lintas disiplin yang memberikan layanan kesehatan umum serta pendampingan psikologis.

Anak-anak diberikan terapi bermain seperti mewarnai dan bermain bola, sedangkan orang dewasa menjalani psikoterapi suportif dan teknik relaksasi.

Baca Juga:  Pemprov Jabar Bongkar Penyebab Longsor Tebing Arjasari Bandung: Hutan Jadi Kebun Palawija

Namun, layanan ini menghadapi tantangan akses karena medan sulit dan keterbatasan jumlah tenaga kesehatan jiwa.

Sementara itu, di Aceh Tamiang, layanan konseling psikologi belum tersedia di posko pengungsian.

Nursahati, warga Desa Suka Jadi yang kini mengungsi di atas Jembatan Tamiang bersama keluarga, menyatakan perlunya layanan ini.

“Perlu sih, terutama untuk anak-anak ini supaya menghilangkan trauma,” katanya.

Di lokasi tersebut, pengungsi harus menghadapi panas terik, nyamuk, debu, serta hujan yang merembes ke dalam tenda.

Kondisi ini diperparah dengan lambatnya pemenuhan kebutuhan dasar.

Sejumlah penyintas masih menggunakan air parit untuk mencuci, dan listrik belum sepenuhnya pulih.

Psikolog menyebut, trauma yang tak tertangani dapat berkembang menjadi gangguan stres akut dan bahkan PTSD dalam enam bulan ke depan.

Gejalanya meliputi kilas balik peristiwa, ledakan emosi, menghindari pembicaraan soal bencana, hingga gangguan psikosomatis.

Dampak Bencana

Banjir bandang dan longsor yang terjadi akhir November di Aceh menyebabkan dampak luas.

Aceh Tamiang menjadi wilayah paling terdampak. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Desember 2025, tercatat sebanyak 1.106 orang meninggal dunia, 175 orang hilang, 147.236 rumah rusak di tiga provinsi yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Khusus di Aceh Tamiang, terdapat 10.720 unit rumah rusak dan 200.000 warga mengungsi.

Presiden RI melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa penanganan telah dilakukan secara nasional sejak 26 November, melibatkan lebih dari 50.000 personel gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan. Pemerintah juga telah mengerahkan lebih dari 100 unit kapal, pesawat, dan helikopter, serta alat berat dari berbagai daerah.

Meski demikian, psikolog menyoroti belum tersedianya Psychological First Aid (PFA) secara luas di lokasi terdampak.

Baca Juga:  Vilmei Bangun 137 Rumah Sementara untuk Korban Bencana Aceh

Tiga tahap PFA—mengamati, mendengarkan, dan menghubungkan penyintas dengan bantuan—belum bisa diterapkan karena belum terpenuhinya kebutuhan dasar.

“Masalahnya di bencana yang kali ini, mau link ke siapa? Dapur umumnya mana? Posko medis mana?” ujar Yulia.

Kompleksitas Bencana

Penanganan bencana kali ini dinilai lebih kompleks dibanding tsunami Aceh 2004.

Wilayah terdampak bersifat sporadis, tersebar di banyak titik seperti Banda Aceh, Meulaboh, Aceh Besar, dan Aceh Tamiang.

Selain itu, faktor ekologis seperti pembabatan hutan turut memperburuk dampak bencana.

Selain penyintas, trauma juga dirasakan oleh relawan, aparat, tenaga kesehatan, jurnalis, hingga masyarakat luas yang terus terpapar pemberitaan. Fenomena ini dikenal sebagai secondary trauma.

Kapasitas tenaga psikolog di Aceh juga terbatas, hanya sekitar 60 orang, dan hanya sebagian kecil yang memiliki kompetensi penanganan trauma berat.

(AKM/NID/RAD)

Trending