Connect with us

Berita

Pernah Hampir Nyerah, Ini Cerita Carina Joe yang Berhasil Ciptakan Vaksin Oxford-AstraZeneca

Prof. Carina Joe menceritakan perjuangan beratnya saat mengembangkan vaksin Oxford–AstraZeneca, bekerja hingga 20 jam per hari selama pandemi tanpa bantuan tim.

Logompn

Published

on

Pernah hampir nyerah, ini cerita carina joe yang berhasil ciptakan vaksin oxford astrazeneca
Prof. Carina Joe. Gambar : Instagram/@carina.joe1

MPN Indonesia 31 Oktober 2025 - Prof. Carina Joe mengungkapkan perjalanan akademiknya serta tekanan besar yang ia alami saat terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca.

Dalam wawancara di kanal YouTube Metro TV pada Kamis (30/10), ia menceritakan bahwa dirinya telah menjadi profesor di usia 35 tahun.

“Jadi saat saya menjadi profesor umur 35 tahun,” ucap Prof. Carina dalam wawancara tersebut, dikutip MPN Indonesia pada Jumat (31/10).

Proyek Vaksin Dikerjakan Seorang Diri di Tengah Pandemi

Prof. Carina menyebut titik terberat dalam kariernya terjadi ketika mengerjakan proyek vaksin di masa pandemi.

Ia menghadapi kendala besar akibat kebijakan lockdown yang membuat perekrutan ilmuwan pendukung menjadi tidak mungkin dilakukan.

“Waktu itu kan memang pandemi jadi kerjaannya banyak, cuman karena situasinya lockdown, jadi kita tidak bisa merekrut saintis-saintis yang bisa membantu kita,” katanya.

Selain keterbatasan tenaga, tenggat waktu proyek juga sangat ketat.

“Dikasih waktu satu setengah bulan untuk membuat semua prosesnya, yang biasanya dilakukan selama dua-tiga tahun oleh mungkin sekelompok orang, misalnya minimum enam orang. Pada saat itu saya harus kerjakan sendiri,” ujarnya.

Bekerja 18–20 Jam Sehari Tanpa Libur

Untuk menyelesaikan proyek dalam waktu singkat, Prof. Carina bekerja tanpa henti hingga 18–20 jam sehari selama enam bulan penuh.

“Kerjanya ya lama, 18 sampai 20 jam sehari, tujuh hari seminggu, selama enam bulan,” jelasnya.

Ia mengaku tidak memiliki waktu untuk aktivitas lain selain bekerja.

“Enggak bisa selain kerja, ya enggak ada aktivitas lain. Makan pun dikirim ke laboratorium tiga kali sehari,” lanjutnya.

Baca Juga:  Berisiko Hepatitis! Ini Penyakit Serius yang Bisa Muncul Gara-gara Malas Cuci Tangan

Selama masa tersebut, ia bahkan dilarang keluar dari laboratorium demi mencegah paparan COVID-19.

“Mereka bilang, ‘Saya enggak boleh keluar dari lab. Takutnya kena COVID dan enggak jalan proyeknya,’” imbuhnya.

Meski berisiko tinggi, ia tetap diminta bekerja tanpa henti.

“Mereka bilang, ‘Kalau kena COVID ya tetap harus bekerja,’” ungkapnya.

Koordinasi Global Lewat Zoom

Proyek vaksin AstraZeneca melibatkan kerja sama dengan 15 negara dan 25 lembaga riset di seluruh dunia. Namun, seluruh koordinasi dilakukan secara daring.

“Ketemunya, ngomongnya hanya pakai Zoom karena ya jarak jauh, dan saya harus melatih mereka untuk melakukan sama yang saya lakukan di laboratorium di Oxford,” terangnya.

Prof. Carina mengaku pada tahap ini ia mulai kelelahan dan sempat meminta bantuan.

“Saya sudah capek sekali. Saya sudah minta bantuan ke supervisor saya, tapi bilangnya, ya lebih cepat kalau saya yang kerjakan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa melatih ilmuwan baru dalam waktu singkat tidak memungkinkan.

“Kalau saya training saintis yang baru, belum tentu sesuai dengan standar,” tambahnya.

Kondisi tersebut membuatnya sempat memutuskan untuk berhenti dari proyek.

“Saya bilang, ‘Oke, mulai saat ini saya mau berhenti, saya mau keluar dari proyek ini.’ Ini mungkin memasuki bulan kelima saya kerja sendiri kan,” jelasnya.

Arahan dari Pihak Oxford

Prof. Carina menjelaskan bahwa kebijakan untuk mengerjakan proyek secara mandiri merupakan keputusan dari pihak universitas.

“Mungkin itu keputusan dari petinggi Oxford sih untuk saat itu ya. Karena semua eksperimennya tidak boleh ada yang gagal karena kita dikejar deadline dan uji klinisnya sudah ditetapkan,” pungkasnya.

Ia menegaskan bahwa waktu yang tersedia tidak cukup untuk melatih orang baru, karena belum ada yang memahami proses riset yang ia jalankan.

Baca Juga:  Virus Nipah Mewabah di India, 100 Orang Dikarantina

“Saya tidak bisa ambil waktu untuk mentrain orang yang baru, karena di Oxford itu belum ada yang mengerti prosesnya itu,” tutupnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending