Connect with us

Berita

Sebut Hantavirus Berbahaya, Menkes Bicara ke WHO untuk Skrining

Pemerintah Indonesia meminta panduan WHO terkait deteksi dini Hantavirus guna mengantisipasi potensi penyebarannya.

Logompn

Published

on

Sebut Hantavirus Berbahaya, Menkes Bicara ke WHO untuk Skrining
Sebut Hantavirus Berbahaya, Menkes Bicara ke WHO untuk Skrining. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 8 Mei 2026 - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) untuk meminta panduan skrining terkait Hantavirus yang dilaporkan menginfeksi tiga orang di kapal pesiar MV Hondius di Tanjung Verde dan berlayar di wilayah Argentina.

Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi penyebaran penyakit menular tersebut ke Indonesia, menyusul laporan kasus yang masih terkonsentrasi di kapal pesiar itu.

Budi menegaskan, berdasarkan informasi yang diterima pemerintah, penyebaran Hantavirus belum meluas ke wilayah lain di luar kapal tersebut.

“Kita sudah koordinasi dengan WHO. Kita minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya, tetapi dari hasil masukan yang kami terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum nyebar ke mana-mana,” kata Budi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/4).

Budi menyatakan, Hantavirus merupakan virus yang berbahaya sehingga perlu langkah deteksi dini dan penguatan surveilans.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini fokus memastikan kesiapan sistem skrining dan laboratorium guna menghadapi potensi penyebaran penyakit menular tersebut.

Persiapan Skrining dan Penguatan Surveilans

Kementerian Kesehatan menyiapkan sejumlah langkah teknis untuk mendukung deteksi dini Hantavirus.

Budi menjelaskan, pemerintah mempersiapkan kemungkinan penggunaan rapid test maupun reagen khusus untuk pemeriksaan melalui mesin polymerase chain reaction (PCR).

“Ini kan virus yang lumayan berbahaya. Yang kita lakukan, kita mempersiapkan agar skriningnya kita punya, apakah itu dalam bentuk rapid test kayak Covid-19 dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR,” tuturnya.

Menurut Budi, Indonesia memiliki kesiapan infrastruktur laboratorium yang lebih baik dibandingkan sebelumnya karena kapasitas mesin PCR sudah tersedia dalam jumlah besar sejak pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Pemprov Jakarta Luncurkan Smart Posyandu

“Kita beruntung sekarang kan mesin PCR kita sudah banyak. Jadi untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah. Cuma dipastikan reagennya mesti khusus,” kata Budi.

Ia juga menekankan, fokus pemerintah saat ini adalah penguatan sistem surveilans untuk memastikan respons cepat apabila ditemukan indikasi penyebaran Hantavirus di dalam negeri.

“Jadi sekarang kita masih fokus ke surveilans-nya, supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat,” ujarnya.

Bahaya Hantavirus

Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa Hantavirus termasuk penyakit menular jenis zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

Ia menyebut reservoir utama virus ini adalah hewan pengerat, terutama tikus liar.

Penularan paling sering terjadi ketika manusia menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang membawa virus.

“Yang perlu dipahami, Hantavirus umumnya bukan menyebar dari manusia ke manusia, melainkan dari lingkungan yang terkontaminasi,” ujar Dicky saat dihubungi Kompas.com, dikutip MPN Indonesia pada Jumat (8/5).

Ia menjelaskan, meski penularannya tidak semudah Covid-19, Hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan serius pada tubuh, terutama paru-paru, termasuk kerusakan pembuluh darah dan kebocoran cairan di paru-paru yang dapat mengganggu proses pernapasan.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending