Connect with us

Berita

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia, Ini Penjelasannya

BMKG mengungkap fenomena suhu panas ekstrem yang melanda wilayah selatan Indonesia, disebabkan oleh pergerakan semu Matahari dan minimnya tutupan awan.

Actress 1299250

Published

on

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia, Ini Penjelasannya
BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia, Ini Penjelasannya. Gambar : Dok. zoom.earth

MPN Indonesia 30 Oktober 2024 - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini memberikan penjelasan terkait suhu panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

BMKG menyebutkan bahwa fenomena ini dipicu oleh pergerakan semu Matahari serta minimnya tutupan awan, yang memperparah efek panas harian terutama di wilayah selatan Indonesia.

Hingga Senin (28/10), suhu tertinggi tercatat di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mencapai 38,4 derajat Celsius.

Faktor Utama: Pergerakan Semu Matahari

Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama cuaca panas yang melanda Indonesia adalah posisi Matahari yang berada di sekitar 8 hingga 9 derajat Lintang Selatan.

Posisi ini membuat wilayah seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menerima paparan sinar Matahari langsung, sehingga meningkatkan suhu permukaan tanah.

“Panas ini adalah siklus panas terik harian akibat pergerakan semu Matahari,” ujar Guswanto pada Selasa (29/10).

Fenomena tahunan ini menyebabkan Matahari tampak bergerak dari satu titik lintang ke titik lainnya, sehingga variasi suhu terasa signifikan di wilayah tertentu.

Minimnya Tutupan Awan Selama Musim Kemarau

Selain posisi Matahari, BMKG menjelaskan bahwa suhu panas di wilayah selatan Indonesia juga diperparah oleh minimnya tutupan awan.

Kepala Pusat Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyebutkan bahwa sebagian besar wilayah selatan Indonesia masih mengalami musim kemarau, sementara beberapa daerah mulai memasuki masa peralihan ke musim hujan.

Kondisi ini menyebabkan cuaca cerah dengan minim awan di beberapa daerah, khususnya pada siang hari, yang memungkinkan sinar Matahari masuk tanpa hambatan.

Baca Juga:  BMKG Ungkap Jakarta Bukan Wilayah Rawan Puting Beliung

“Kondisi ini membuat penyinaran Matahari tidak terhalang oleh awan, sehingga suhu terasa sangat terik,” ujar Andri.

Ia menambahkan bahwa angin Muson Timur yang masih aktif juga memengaruhi minimnya tutupan awan, khususnya di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.

Wilayah Terdampak dan Potensi Berlanjutnya Cuaca Panas

BMKG memprediksi bahwa cuaca panas di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Lampung, Sumatera Selatan, Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, kemungkinan akan berlanjut sepanjang bulan Oktober.

Suhu di beberapa daerah diperkirakan mencapai 37 hingga 38,4 derajat Celsius, terutama pada siang hari.

Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Fenomena Khusus BMKG, Miming, mengungkapkan bahwa suhu maksimum telah terdeteksi di Majalengka (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), dan Bima (Nusa Tenggara Barat), dengan suhu mencapai lebih dari 37 derajat Celsius dalam 24 jam terakhir.

Menurut Miming, kondisi ini masih dalam kategori normal dan tidak memengaruhi pola musim secara signifikan, meskipun intensitas suhu panas tetap perlu diwaspadai.

Ciri Masa Peralihan Musim dan Langkah Antisipasi

BMKG mengaitkan suhu panas ini dengan ciri khas masa peralihan musim, di mana pola hujan cenderung terjadi pada sore hingga malam hari, didahului oleh udara panas di pagi dan siang hari.

Beberapa wilayah di selatan khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sering mengalami cuaca panas terik pada siang hari yang diikuti hujan ringan pada sore hari.

BMKG mengimbau masyarakat untuk mengambil tindakan pencegahan terhadap dampak suhu panas ekstrem ini, seperti mengonsumsi cukup air untuk menghindari dehidrasi, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan.

Penggunaan pelindung seperti topi, payung, dan kacamata hitam juga disarankan untuk melindungi diri dari paparan sinar UV.

Baca Juga:  BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem 10-16 November, Waspada Banjir & Angin Kencang

Selain itu, penggunaan tabir surya dianjurkan untuk melindungi kulit dari radiasi ultraviolet.

Imbauan BMKG terkait Kebakaran dan Isu Lingkungan Sosial

Terkait isu lingkungan sosial, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan membakar sampah atau lahan terbuka, terutama di kawasan hutan, untuk menghindari potensi kebakaran yang dapat diperparah oleh suhu tinggi dan cuaca kering.

BMKG juga mendorong pemerintah daerah untuk melakukan penyiraman di wilayah rawan kebakaran guna mencegah kebakaran yang bisa dipicu oleh teriknya Matahari.

BMKG menekankan pentingnya langkah antisipasi dari masyarakat dan pemerintah untuk mengurangi risiko dampak negatif suhu panas terhadap kesehatan dan lingkungan.

Trending