Connect with us

Berita

Karyawan China Menang Gugatan Rp796 Juta Setelah Dipecat Karena Ketiduran

Pria di China menang gugatan Rp796 juta usai dipecat karena tidur siang di kantor. Pengadilan nilai pemecatan berlebihan dan tidak adil.

Actress 1299250

Published

on

Karyawan China Menang Gugatan Rp796 Juta Setelah Dipecat Karena Ketiduran
Karyawan China Menang Gugatan Rp796 Juta Setelah Dipecat Karena Ketiduran. Gambar : msn.com

MPN Indonesia 3 Desember 2024 - Seorang pria asal China bernama Zhang memenangkan gugatan senilai Rp796 juta setelah dipecat oleh perusahaannya karena ketahuan tidur siang di meja kerja.

Peristiwa unik ini terjadi di Taixing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok tenggara, dan menjadi sorotan publik karena memperlihatkan sisi lain dari budaya kerja yang keras di negara tersebut.

Dipecat Karena Tidur Siang Selama 1 Jam

Zhang, yang telah bekerja selama dua dekade sebagai manajer departemen di sebuah perusahaan kimia, tertidur selama sekitar satu jam di mejanya setelah lembur hingga larut malam.

Insiden tersebut terjadi pada awal tahun ini dan terekam oleh kamera pengawas perusahaan. Dua minggu setelah kejadian, departemen sumber daya manusia (SDM) perusahaan merilis laporan yang menyatakan bahwa Zhang tertangkap tidur karena kelelahan.

Laporan tersebut disertai percakapan melalui aplikasi WeChat antara Zhang dan staf SDM. Ketika ditanya berapa lama ia tertidur, Zhang menjawab, “Sekitar satu jam atau lebih.”

Berdasarkan insiden ini, perusahaan mengklaim bahwa tindakan Zhang melanggar peraturan disiplin tanpa toleransi, yang menjadi dasar pemecatannya setelah berkonsultasi dengan serikat pekerja.

Dalam pemberitahuan resmi yang diterbitkan oleh perusahaan, dinyatakan bahwa Zhang melakukan pelanggaran serius terhadap kebijakan perusahaan.

Meskipun ia telah bekerja sejak 2004 dengan kontrak kerja terbuka, tindakannya dinilai tidak sesuai dengan standar yang berlaku.

Gugatan ke Pengadilan

Merasa diperlakukan tidak adil, Zhang membawa kasus tersebut ke pengadilan. Selama proses evaluasi, Pengadilan Rakyat Taixing menemukan bahwa meskipun perusahaan memiliki hak untuk memutuskan kontrak kerja akibat pelanggaran, tindakan tersebut harus memenuhi persyaratan tertentu, seperti adanya kerugian signifikan yang ditimbulkan.

Baca Juga:  Prabowo Batal ke China, Ingin Pantau Masalah dalam Negeri

Menurut hakim Ju Qi, tidur siang di tempat kerja adalah pelanggaran pertama Zhang selama masa kerjanya yang panjang dan tidak menyebabkan kerugian serius bagi perusahaan.

Pengadilan juga mencatat kontribusi Zhang selama 20 tahun bekerja, termasuk promosi dan kenaikan gaji, yang mencerminkan kinerja baiknya.

Keputusan Pengadilan

Pengadilan akhirnya memutuskan bahwa pemecatan Zhang bersifat berlebihan dan tidak masuk akal.

Perusahaan diperintahkan untuk membayar ganti rugi sebesar 350.000 yuan atau sekitar Rp796 juta.

Reaksi Publik

Kasus Zhang memicu diskusi luas di media sosial China. Sebagian besar warganet sepakat bahwa tidur siang di tempat kerja bukanlah tindakan yang patut dicontoh.

Namun, mereka juga menilai bahwa pemecatan sebagai konsekuensi dari tindakan tersebut terlalu keras. Beberapa netizen bahkan merasa iri dengan keberuntungan Zhang yang memperoleh kompensasi besar dari kasus ini.

“Tidur siang di tempat kerja memang salah, tetapi tindakan perusahaan terlalu keras. Jika kesalahan kecil seperti ini bisa berujung pemecatan, maka proses pemberhentian karyawan menjadi terlalu mudah,” komentar salah satu pengguna media sosial.

Netizen lainnya menyatakan dukungan atas keputusan pengadilan, menyebutnya sebagai tindakan yang sah dan adil.

Trending