Connect with us

Berita

Lapisan Es Pegunungan Jayawijaya Menyusut Drastis, Kini Tersisa 4 Meter

Es Pegunungan Jayawijaya menyusut drastis hingga 4 meter akibat perubahan iklim dan El Nino. BMKG sebut ini bukti nyata dampak pemanasan global di Indonesia.

Actress 1299250

Published

on

Lapisan Es Jayawijaya Menyusut Drastis, Kini Tersisa 4 Meter
Lapisan Es Jayawijaya Menyusut Drastis, Kini Tersisa 4 Meter. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 3 Desember 2024 - Ketebalan es di Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah, dilaporkan mengalami penyusutan signifikan.

Berdasarkan pengamatan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sisa ketebalan es hanya sekitar empat meter.

Data ini diperoleh melalui survei terhadap tongkat pengukur (stake) yang dipasang di Puncak Sudirman, titik tertinggi di wilayah tersebut.

Hasil Pengukuran dan Penurunan Ketebalan Es

BMKG mengungkapkan adanya penurunan drastis ketebalan es dibandingkan pengamatan sebelumnya.

Pada tahun 2010, ketebalan es mencapai 32 meter. Namun, antara November 2015 hingga Mei 2016, ketebalannya menurun menjadi 5,6 meter.

Survei terbaru menunjukkan ketebalan es saat ini tinggal empat meter, berdasarkan stake yang telah tersingkap.

“Terakhir ada 14 stake yang sudah tersingkap, artinya ketebalan gletser diperkirakan tinggal empat meter,” ujar Donaldi Sukma Permana, Koordinator Bidang Standardisasi Instrumen Klimatologi BMKG, Senin (2/12/2024).

Faktor Penyebab dan Dampak Fenomena Alam Ini

Penyusutan es Jayawijaya ini dikaitkan dengan fenomena El Nino yang memicu cuaca ekstrem dan mempercepat pencairan es.

Donaldi juga mengungkapkan bahwa survei terbaru pada November 2024 menunjukkan penurunan luas permukaan es yang signifikan.

Pada tahun 2022, luas permukaan es di Puncak Sudirman tercatat 0,23 kilometer persegi, namun kini menyusut menjadi hanya 0,11–0,16 kilometer persegi.

Selain tantangan ilmiah, kondisi ini juga menjadi kendala logistik bagi tim survei BMKG dan PT Freeport Indonesia.

Jika sebelumnya survei dilakukan dengan trekking atau helikopter yang mendarat langsung di permukaan es, sejak 2017 pengukuran hanya bisa dilakukan menggunakan analisa gambar visual dan pengamatan terhadap stake yang ditanam.

Baca Juga:  Gerhana Matahari Cincin 17 Februari Bisa Dilihat di Mana? Ini Lokasinya!

“Survei ini akan terus kami lakukan untuk mendokumentasikan es di Papua yang sudah dalam tahap sulit untuk mempertahankannya lagi,” tambah Donaldi.

Bukti Perubahan Iklim yang Tidak Terbantahkan

BMKG menegaskan bahwa pencairan es di Pegunungan Jayawijaya menjadi salah satu bukti nyata perubahan iklim.

Laporan dari Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG menyebutkan bahwa suhu global telah meningkat sebesar 1,45 derajat Celcius dibandingkan masa pra-industri.

Di Indonesia, rata-rata kenaikan suhu mencapai 0,15 derajat Celcius per dekade, dengan wilayah seperti Papua Pegunungan, Kalimantan, Sumatera bagian selatan, dan sebagian kecil Sulawesi mencatat laju peningkatan yang lebih tinggi.

Albert C., Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, memproyeksikan bahwa Indonesia berpotensi melampaui ambang batas suhu global sebesar 1,5 derajat Celcius pada pertengahan abad ke-21 jika tren kenaikan ini terus berlanjut.

Trending