Connect with us

Viral

Pasar Rawamangun jadi Tempat Favorit Warga untuk Berburu Takjil!

Pasar Rawamangun tetap ramai jadi tujuan berburu takjil Ramadan 2025. Beragam menu dijajakan dengan harga terjangkau, meski cuaca jadi kendala pedagang.

Logompn

Published

on

Pasar rawamangun jadi tempat favorit warga untuk berburu takjil!
Pasar Rawamangun jadi Tempat Favorit Warga untuk Berburu Takjil! Gambar: MPN Indonesia/Arie

MPN Indonesia 21 Maret 2025 - Pasar Rawamangun di Pulogadung, Jakarta Timur, kembali menjadi pilihan utama warga untuk berburu takjil selama Ramadan 2025.

Berbagai jenis makanan dan minuman khas buka puasa dijajakan para pedagang, mulai dari es buah segar, bubur kampiun, cendol Bandung, hingga kue basah.

Antusiasme masyarakat dalam mencari hidangan berbuka di pasar ini tetap tinggi, meskipun jumlah pengunjung sempat mengalami fluktuasi sepanjang Ramadan.

Pasar Rawamangun Masih Ramai Dikunjungi Pembeli

Kepala Pasar Rawamangun, Alvi Rahim, mengungkapkan bahwa jumlah pedagang yang menjajakan takjil selama Ramadan 2025 masih tetap ramai seperti tahun-tahun sebelumnya.

Para pembeli tidak hanya berasal dari sekitar Rawamangun, tetapi juga dari luar kawasan.

“Tentunya sejak awal Ramadan ramai banget yang berburu takjil di Pasar Rawamangun, tapi pada pertengahan puasa turun sedikit pembeli. Tapi jelang akhir Ramadan biasanya akan ramai pembeli kembali,” ujar Alvi kepada MPN Indonesia di Pasar Rawamangun, pada Rabu (19/3).

Takjil yang dijual di Pasar Rawamangun cukup beragam, termasuk gorengan, nasi padang, serta lauk-pauk seperti gulai, ikan bakar, ayam kuah, dan gudeg Jogja.

Keberagaman menu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang mencari hidangan berbuka puasa.

Puluhan Pedagang Takjil Dikelola Pasar dan Karang Taruna

Pasar Rawamangun memiliki sekitar 30 pedagang takjil yang dikelola oleh pihak pengelola pasar dan Karang Taruna.

Dari jumlah tersebut, 14 pedagang merupakan binaan Pasar Rawamangun, sementara 16 pedagang lainnya dikelola oleh Karang Taruna.

Baca Juga:  Ariel NOAH Undang Puluhan Musisi di Acara Buka Bersama, Ada BCL hingga Yuni Shara!

Setiap pedagang telah mendapatkan tempat yang tertata dengan baik sejak dua hari sebelum Ramadan. Ukuran lapak telah diatur untuk memastikan tidak ada gesekan antar pedagang.

Proses operasional dimulai pada pukul 13.30 WIB, saat para pedagang mulai menyusun meja dan menata dagangannya. Lapak mereka tetap buka hingga pukul 19.30 WIB.

Meski demikian, pasar tidak menyediakan tenda bagi pedagang, sehingga mereka harus menyiapkan sendiri perlengkapan untuk melindungi dagangan dari panas matahari dan hujan.

“Aturan operasional jam 13.30 WIB mereka menyusun meja dan operasi sampai pukul 19.30 WIB. Tapi pihak pasar tidak menyediakan tenda, pedagang sendiri yang menyediakan meja dan tenda agar tidak tersengat matahari dan agar tidak kehujanan,” jelas Alvi.

Faktor Cuaca Menjadi Kendala bagi Pedagang

Sejauh ini, Alvi menyebutkan tidak ada kendala berarti bagi para pedagang di Pasar Rawamangun selain faktor cuaca.

Mengingat Ramadan kali ini bertepatan dengan musim hujan, kondisi cuaca dapat berpengaruh terhadap jumlah pembeli yang datang ke pasar.

“Kalau hujan kan itu alam ya, tapi teknis lain tidak ada kendala,” ungkapnya.

Selain itu, harga takjil yang dijual di Pasar Rawamangun tergolong ramah di kantong.

Misalnya, bubur kampiun dijual seharga Rp18.000 per porsi, cendol biasa Rp8.000, es buah ukuran besar Rp20.000, es buah kecil Rp10.000, dan cendol durian Rp14.000 per porsi.

Harga yang relatif terjangkau ini menjadi alasan lain mengapa pasar ini terus menarik perhatian pembeli.

Tidak hanya warga sekitar, banyak pengunjung yang mampir ke pasar ini setelah pulang kerja atau turun dari angkutan umum di Terminal Rawamangun untuk membeli takjil sebelum berbuka puasa.

Harapan Agar Pasar Lebih Tertata dan Semakin Ramai

Kepala Pasar Rawamangun, Alvi Rahim, berharap agar ke depan penataan lapak para pedagang bisa lebih rapi dan jumlah pedagang yang berjualan di pasar ini semakin banyak.

Baca Juga:  Fenomena Puasa Singkat di Murmansk Rusia, Hanya Berlangsung Sekitar Satu Jam

“Saya menginginkan tahun depan di Pasar Rawamangun ini tatanannya dapat lebih rapi lagi dan menu-menunya bisa lebih banyak lagi dari yang sekarang ini,” kata Alvi.

Salah satu pedagang takjil di Pasar Rawamangun, Medi (69), telah berjualan di pasar ini sejak tahun 1968 bersama istrinya, Erna Simbolon (64).

Ia menceritakan bagaimana dirinya beralih profesi dari pekerja swasta menjadi pedagang makanan setelah terdampak krisis moneter (krismon) di masa lalu.

“Kalau dagang makanan kan tidak bisa lama disimpan ya. Tapi optimis saya fokus berjualan di pasar, karena sempat terdampak krismon saat itu,” ujar Medi.

Medi berharap dagangannya terus maju dan pembeli semakin ramai. Namun, ia juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi ekonomi saat ini yang masih belum stabil.

“Optimis pasti, tapi Pasar Rawamangun ini diharapkan dapat terus ramai. Satu sisi kalau negara tidak makmur bagaimana pasar mau ramai, PHK di mana-mana, gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR) karyawan kalau belum dibayarkan bagaimana pasar mau ramai,” tutup Medi.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending