Internasional
China Soal Tarif Trump: Ketika Ditantang, Kami Tak Akan Pernah Mundur
China menegaskan tak akan mundur dari perang tarif dagang dengan Amerika Serikat.
MPN Indonesia 10 April 2025 - China menyatakan tidak akan mundur dalam menghadapi kebijakan tarif dagang tinggi yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dengan langkah balasan termasuk tarif tambahan dan tindakan proteksionis lainnya.
Ketegangan Tarif Dagang Kembali Meningkat
Sejak awal 2024, pemerintahan Donald Trump memberlakukan tarif impor baru terhadap produk-produk asal China. Dimulai dari 10% pada Januari, tarif meningkat tajam hingga mencapai 125% hanya dalam waktu tiga bulan.
China merespons dengan mengenakan tarif balasan sebesar 84% terhadap barang-barang dari Amerika Serikat, serta menyiapkan langkah-langkah tambahan sebagai bagian dari strategi pertahanan dalam perang tarif dagang.
Berdasarkan pemantauan MPN Indonesia dari The Guardian, pernyataan keras datang dari juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, yang menegaskan bahwa negaranya “Tidak akan pernah mundur ketika ditantang.”
Kementerian Perdagangan China menambahkan bahwa pihaknya akan “Berjuang sampai akhir” jika AS terus memilih jalur konfrontasi.
Strategi Balasan China dalam Perdagangan Global
China tidak hanya merespons dengan tarif dagang balasan, tetapi juga melakukan diversifikasi mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. Sejak perang dagang pertama pada 2018, China memperluas kerja sama perdagangan, khususnya dengan negara-negara seperti Brasil.
Ekspor kedelai Brasil ke China meningkat lebih dari 45% antara 2018 hingga 2020 dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya, sementara ekspor dari AS menurun sebesar 38% dalam periode yang sama.
Kementerian Keuangan China juga mengumumkan tarif tambahan sebesar 34% terhadap semua barang dari AS mulai (10/4), sebagai respons terhadap tarif baru yang diberlakukan oleh Trump pada waktu yang sama.
Produk yang terdampak terutama adalah hasil pertanian dan energi, yang sebelumnya menjadi andalan ekspor AS ke China.
Ketahanan Ekonomi dan Langkah Non-Tarif
Menurut Dan Wang dari Eurasia Group, tarif yang melebihi 35% akan membuat eksportir China kehilangan seluruh margin keuntungannya, sehingga kemungkinan besar akan menghentikan ekspor ke Amerika Serikat secara keseluruhan.
Pemerintah China juga merilis buku putih resmi yang mengkritik kebijakan tarif AS sebagai tindakan sepihak dan bentuk perlindungan ekonomi yang tidak adil.
China menilai kebijakan tarif AS tidak akan menyelesaikan masalah surplus perdagangan, justru memperburuk tekanan inflasi dan mengguncang pasar keuangan.
Pemerintah China juga mempertimbangkan langkah-langkah tambahan seperti menangguhkan kerja sama pengendalian fentanyl, menyelidiki perusahaan-perusahaan AS terkait hak kekayaan intelektual, serta melarang penayangan film Hollywood di negaranya.
Ketegangan Politik Internasional yang Semakin Mendalam
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga memperburuk hubungan politik internasional antara China dan Amerika Serikat.
China menuding AS telah melanggar kesepakatan dagang “Phase 1” yang dibuat pada masa kepresidenan pertama Donald Trump.
Perjanjian tersebut mencakup komitmen China untuk meningkatkan pembelian barang AS sebesar $200 miliar selama dua tahun, target yang tidak tercapai akibat pandemi COVID-19.
Sementara itu, otoritas China menegaskan kesediaannya untuk berdialog dan mencari solusi bersama, dengan syarat bahwa AS bersikap saling menghormati dan mengedepankan prinsip saling menguntungkan.
Dampak Luas bagi Ekspor Impor dan Sektor Industri
Konflik tarif dagang ini memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekspor impor kedua negara.
Di satu sisi, harga barang-barang konsumen impor dari China di AS, seperti ponsel pintar dan mainan ini mengalami kenaikan tajam.
Sebuah analisis memperkirakan harga iPhone termurah bisa melonjak dari $799 menjadi $1.142 saat tarif baru diterapkan.
Di sisi lain, China lebih mudah mengalihkan sumber impor produk-produk industri dari negara lain.
Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi China dalam menghadapi kebijakan proteksionis AS bersifat menyeluruh, mencakup aspek ekonomi, diplomasi, dan pengaruh terhadap opini publik domestik.
(ADN/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
