Connect with us

Internasional

Dubai bakal Bangun Gedung Melayang di Udara, Asteroid jadi Pondasinya

Analemma Tower, gedung menggantung dari asteroid, akan dibangun di Dubai. Dirancang setinggi 32 km, menara ini tawarkan konsep futuristik dan mobilitas di orbit Bumi.

Logompn

Published

on

Dubai bakal bangun gedung melayang di udara, asteroid jadi pondasinya
Dubai bakal Bangun Gedung Melayang di Udara, Asteroid jadi Pondasinya. Gambar : Doc. Clouds Architecture Office (CAO)

MPN Indonesia 28 Mei 2025 - Dubai akan menjadi lokasi awal pembangunan Analemma Tower, gedung pencakar langit paling unik yang pernah dirancang.

Tidak seperti menara pada umumnya, Analemma Tower tidak berdiri di atas tanah, melainkan menggantung di udara menggunakan kabel yang terhubung ke asteroid.

Proposal revolusioner ini diajukan oleh perusahaan arsitektur asal Amerika Serikat, Clouds Architecture Office (CAO), dan diperkenalkan secara resmi pada Rabu (28/5).

Menggantung dari Asteroid di Orbit Geosinkron

Gedung ini akan ditangguhkan di atmosfer menggunakan kabel yang terhubung langsung ke sebuah asteroid yang ditempatkan dalam orbit geosinkron eksentrik dan miring.

CAO memilih Dubai sebagai lokasi awal pembangunan karena dianggap lebih efisien dari segi biaya. Namun, orbit menara dan asteroid nantinya akan berpindah ke langit di atas New York City.

“Analemma Tower merupakan proposal untuk gedung tertinggi di dunia yang pernah ada. Dengan memanfaatkan kekuatan pemikiran desain planet, gedung ini memanfaatkan keinginan untuk mencapai ketinggian ekstrem, keterpencilan, dan mobilitas konstan,” tulis CAO dalam keterangan resminya di laman cloudsao.com, dikutip MPN Indonesia pada Rabu (28/5).

Menara ini dirancang mencapai ketinggian 32 kilometer, dengan kabel yang memanjang hingga 35.750 kilometer. Asteroid akan berada pada posisi 50.000 kilometer dari permukaan Bumi.

Teknologi Pendukung Kehidupan di Ketinggian Ekstrem

Analemma Tower akan dilengkapi sistem canggih untuk menopang kehidupan manusia di ketinggian ekstrem.

Penghuni gedung ini akan mendapat tambahan 45 menit sinar matahari setiap hari karena efek kelengkungan Bumi.

Namun, mereka juga akan menghadapi tantangan suhu ekstrem hingga minus 40 derajat Celsius serta tekanan udara sangat rendah, yakni hanya 0,162 psi dibandingkan 14,7 psi di permukaan laut.

Baca Juga:  Desril Bocah yang Buktikan Ada Sapi Makan Martabak di Lumajang Dapat Uang Rp1 Juta

Untuk mendukung kehidupan, gedung ini akan mengandalkan panel surya luar angkasa yang dipasang di atas atmosfer padat. Ini memungkinkan suplai energi matahari secara terus-menerus.

“Air akan disaring dan didaur ulang dalam sistem semi-tertutup, diisi ulang dengan kondensat yang diambil dari awan dan air hujan,” jelas CAO.

Air akan didaur ulang dalam sistem semi-tertutup dan ditambah dengan kondensat dari awan serta air hujan.

Mobilitas Harian dan Orbit Berbentuk Angka Delapan

Menara ini tidak akan diam di satu titik, melainkan bergerak secara konstan mengikuti orbit berbentuk angka delapan.

Dengan pergerakan ini, menara akan kembali ke posisi relatif yang sama setiap harinya di langit, menciptakan pola mobilitas yang unik bagi penghuninya.

Sumber asteroid yang akan digunakan dalam proyek ini belum diumumkan secara resmi.

Hingga kini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai jadwal pasti pembangunan maupun tahap realisasinya.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending