Connect with us

Internasional

Wow! Ilmuwan Asal Spanyol Berhasil Sembuhkan Kanker Pankreas pada Tikus

Tim ilmuwan Spanyol dari CNIO berhasil mencapai remisi lengkap kanker pankreas agresif pada tikus menggunakan terapi kombinasi tiga obat dengan efek samping minimal.

Logompn

Published

on

Wow! ilmuwan asal spanyol berhasil sembuhkan kanker pankreas pada tikus
Ilustrasi kelinci percobaan. Gambar: Ilustrasi Canva.

MPN Indonesia 29 Januari 2026 - Sebuah tim ilmuwan dari Pusat Penelitian Onkologi Nasional (CNIO) di Spanyol yang dipimpin Mariano Barbacid berhasil menghilangkan jenis kanker pankreas paling umum dan agresif, adenokarsinoma duktal pankreas, pada tikus laboratorium.

Penemuan ini diumumkan setelah enam tahun penelitian yang menghasilkan terapi kombinasi tiga obat yang mencegah kekambuhan dan menunjukkan efek samping minimal.

Barbacid menjelaskan bahwa terapi rangkap tiga tersebut mencapai remisi lengkap pada model hewan. Hal ini adalah sebuah tonggak sejarah yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Dalam penelitian ini, sebanyak 18 tikus yang membawa sel kanker pankreas manusia menerima kombinasi obat dan menunjukkan hasil signifikan.

Sebanyak 16 dari 18 tikus tersebut tetap bebas penyakit selama 200 hari setelah pengobatan, setara dengan hampir setengah dari masa hidup mereka.

Terapi ini menargetkan tiga protein utama penyebab resistensi kanker, yaitu KRAS, EGFR, dan STAT3, secara bersamaan.

“Kita masih memiliki banyak pekerjaan di depan, tetapi ini adalah langkah besar menuju kemungkinan nyata untuk menyembuhkan kanker pankreas,” ungkap Barbacid, dikutip MPN Indonesia melalui CiberCuba pada Kamis (29/1).

Kanker pankreas dikenal memiliki tingkat kelangsungan hidup sangat rendah, yaitu kurang dari 5% dalam lima tahun dan sering kali terdeteksi pada stadium lanjut.

Barbacid menegaskan bahwa pendekatan tunggal tidak efektif dalam mengatasi tumor ini karena sifat adaptifnya yang tinggi.

“Tumor ini sangat mudah beradaptasi, dan hanya penghambatan terkoordinasi dari berbagai jalur yang dapat menghasilkan respons yang bertahan lama,” jelasnya.

Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) dan menerima tinjauan sejawat independen.

Strategi Terapi dan Mekanisme Obat

Terapi yang dikembangkan oleh tim peneliti, termasuk Vasiliki Liaki, Sara Barrambana, dan Carmen Guerra, menggunakan kombinasi tiga obat, yaitu:

  • Daraxonrasib: inhibitor KRAS yang dikembangkan oleh Revolution Medicines.
  • Afatinib: obat yang umum digunakan untuk kanker paru-paru tertentu.
  • SD36: pengurai protein STAT3.
Baca Juga:  WNA Polandia Meninggal usai Diet Buah, Ini Jenis Diet Ekstrem yang Perlu Dihindari!

Ketiganya bekerja dengan menonaktifkan mekanisme bertahan hidup kanker secara simultan, mencegah tumor mengatur ulang dirinya sendiri, yaitu salah satu penyebab utama kegagalan pengobatan tunggal.

Terapi ini juga tidak menyebabkan toksisitas tinggi pada hewan uji, sehingga dinilai memiliki potensi untuk diuji pada manusia.

Riwayat dan Validasi Ilmiah

Penelitian ini dilakukan di CNIO, salah satu lembaga riset kanker utama di Eropa, dan didukung oleh Fundación CRIS Contra el Cáncer.

Terobosan ini merupakan kelanjutan dari studi Barbacid tahun 2019 yang menargetkan EGFR dan RAF1 dengan efektivitas terbatas.

Penemuan peran STAT3 melengkapi strategi baru yang menghasilkan hasil lebih efektif dan berkelanjutan.

Mariano Barbacid merupakan tokoh sentral dalam penelitian kanker di Eropa.

Ia dikenal atas kontribusinya dalam mengidentifikasi onkogen manusia pertama pada 1980-an.

Fokusnya selama 40 tahun terakhir pada kanker dengan mutasi KRAS, yang muncul pada 90% kanker pankreas, memperkuat kredibilitas pendekatan terapi kombinasi ini.

“Sejak tahun 1981, kita telah membuat kemajuan signifikan dalam pemahaman molekuler tentang kanker. Akan tetapi, dalam kasus kanker pankreas, kita masih belum dapat menawarkan pengobatan efektif di luar kemoterapi konvensional,” ujarnya.

Tahapan Lanjutan dan Harapan ke Depan

Langkah berikut dari penelitian ini mencakup validasi terapi pada model tikus lain dengan mutasi genetik berbeda, studi metastasis, serta identifikasi kelompok pasien manusia yang bisa memperoleh manfaat dari terapi tersebut.

Rencana uji klinis tahap awal akan dilakukan setelah pengujian keamanan dan pendanaan mencukupi.

Ilmuwan juga meminta dukungan dari rumah sakit dan laboratorium untuk memperoleh sampel pasien baru guna melanjutkan penelitian ini.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending