Connect with us

Penyakit

Mengenal Asfiksia yang Diduga jadi Penyebab Yai Mim Meninggal

Asfiksia jadi sorotan usai kasus Yai Mim, berikut penjelasan lengkap penyebab dan gejalanya.

Logompn

Published

on

Mengenal Asfiksia yang Diduga jadi Penyebab Yai Mim Meninggal
Mengenal Asfiksia yang Diduga jadi Penyebab Yai Mim Meninggal. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 15 April 2026 - Eks dosen UIN Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Imam Muslimin atau yang dikenal sebagai Yai Mim, dilaporkan meninggal dunia dengan dugaan penyebab mengarah pada kondisi medis asfiksia.

Tim Kedokteran Forensik dan Medikolegal Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang menyimpulkan adanya tanda-tanda yang mengarah pada kondisi tersebut setelah proses visum et repertum yang dilakukan pada Senin (13/4).

Dugaan tersebut berkaitan dengan gangguan masuknya oksigen ke dalam tubuh yang dapat berakibat fatal jika tidak tertangani.

Kasatreskrim Polresta Malang Kota AKP Rahmad Aji Prabowo menjelaskan hasil awal pemeriksaan medis yang dilakukan tim forensik RSSA menunjukkan indikasi yang mengarah pada kondisi tersebut.

“Dokter menyimpulkan tanda-tanda menonjol ke arah asfiksia,” ujar AKP Rahmad Aji Prabowo saat dikonfirmasi, Senin (13/4).

Mengenal Asfiksia dalam Dunia Medis

Dikutip MPN Indonesia melalui Alodokter pada Rabu (15/4), asfiksia merupakan kondisi ketika tubuh tidak mendapatkan suplai oksigen yang cukup untuk menjalankan fungsi organ secara normal.

Pada bayi baru lahir, kondisi ini dikenal sebagai asfiksia neonatorum, yang terjadi akibat gangguan aliran oksigen selama atau setelah proses persalinan.

Dalam penjelasan medis, asfiksia terjadi ketika aliran oksigen ke paru-paru terganggu sehingga proses pertukaran gas tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Kondisi ini dapat menyebabkan pingsan hingga kematian apabila tidak segera ditangani.

Secara umum, proses pernapasan manusia dimulai dari masuknya oksigen melalui hidung atau mulut, kemudian dialirkan ke paru-paru dan disebarkan melalui darah ke seluruh jaringan tubuh.

Gangguan pada salah satu tahap ini dapat memicu kondisi kekurangan oksigen (asfiksia).

Baca Juga:  Ini Cara Mencegah Amenore

Kondisi ini juga sering dibandingkan dengan hipoksia, yaitu keadaan ketika kadar oksigen dalam darah menurun atau jaringan tubuh tidak mampu memanfaatkan oksigen secara optimal.

Perbedaan Asfiksia dan Hipoksia

Asfiksia dan hipoksia sama-sama berkaitan dengan gangguan oksigen, namun memiliki mekanisme yang berbeda.

Asfiksia terjadi ketika oksigen tidak dapat masuk atau tersalurkan ke saluran pernapasan secara normal, sedangkan hipoksia terjadi ketika oksigen yang sudah masuk tidak dapat digunakan secara efektif oleh jaringan tubuh.

Dalam berbagai literatur medis, kedua kondisi ini dapat saling berkaitan dan sama-sama berpotensi mengganggu fungsi organ vital.

Pada kondisi tertentu, gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan darurat medis yang membutuhkan penanganan segera untuk mencegah kerusakan organ.

Penyebab Asfiksia

Asfiksia dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah tersedak, yaitu kondisi ketika saluran napas tersumbat oleh benda asing atau makanan.

Selain itu, paparan zat berbahaya seperti karbon monoksida, amonia, atau gas kimia lain juga dapat menghambat distribusi oksigen dalam tubuh.

Asfiksia juga dapat terjadi akibat kondisi medis seperti anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang menyebabkan pembengkakan saluran napas, serta asma yang menyebabkan penyempitan saluran pernapasan.

Dalam kondisi lain, tekanan pada dada atau leher juga dapat menghambat masuknya oksigen, terutama pada bayi atau individu yang tidak dapat mengubah posisi secara mandiri.

Selain itu, asfiksia dapat terjadi pada kasus tenggelam, kejang, overdosis obat tertentu seperti opioid, hingga cedera fisik yang mengganggu saluran pernapasan.

Asfiksia juga dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu misalnya penyakit atau gangguan pada saluran pernapasan, seperti asma, bronkitis kronis, emfisema, atau tumor yang menghambat jalan napas.

Gejala Asfiksia

Berikut ini adalah berbagai gejala yang akan muncul jika seseorang mengalami asfiksia:

  • Kesulitan berbicara
  • Kesulitan menelan (biasanya akibat tersedak makanan)
  • Batuk
  • Sesak napas (dyspnea)
  • Napas dengan sangat cepat (hiperventilasi)
  • Suara serak
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Wajah atau bibir menjadi merah, ungu, biru, atau abu-abu
  • Pingsan atau penurunan kesadaran
Baca Juga:  Keseringan Main Padel, Wanita di Jakbar Curhat Kena Kista di Bahu

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending