Connect with us

Lifestyle

Tak hanya Paru-Paru, Ternyata TBC Bisa Serang Berbagai Organ Ini!

TBC umumnya dikenal menyerang paru-paru, namun ternyata dapat pula menginfeksi organ tubuh lain.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 04 09t163810.104
Tak hanya Paru-Paru, Ternyata TBC Bisa Serang Berbagai Organ Ini! | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 9 April 2025 - Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Penyakit ini umumnya dikenal menyerang paru-paru, namun ternyata dapat pula menginfeksi organ tubuh lain.

Fakta ini diungkap oleh anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia Mira Yudanti dalam siniar Kementerian Kesehatan RI.

Gejala TBC Paru

TBC menular melalui udara, terutama dari penderita aktif yang batuk, bersin, atau berbicara.

Berbeda dari COVID-19 yang menyebar lewat droplet, TBC bersifat airborne, membuatnya lebih mudah menular dalam ruang tertutup dengan ventilasi buruk.

Seseorang yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru aktif berisiko tinggi terpapar karena kontak yang terus-menerus.

Gejala TBC paru paling umum meliputi batuk lebih dari dua minggu dan kadang disertai darah, penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, dan keringat malam.

Ada TBC Ekstra Paru

Mira mengungkapkan bahwa TBC bisa menyerang berbagai organ tubuh, seperti mata, kulit, kelenjar, hingga otak.

Hal ini dikenal sebagai TBC ekstra paru, dengan gejala yang tentu berbeda dengan gejala TBC paru.

Gejala TBC ekstra paru muncul tergantung organ yang terinfeksi, seperti uveitis pada mata, benjolan di leher untuk TBC kelenjar, atau gangguan saraf untuk TBC otak.

“TBC tidak hanya menyerang paru-paru. Bisa juga menyerang organ lain, seperti otak, mata, kulit, dan kelenjar,” ujar Mira, dikutip MPN Indonesia dari YouTube Kementerian Kesehatan, Rabu (9/4).

Deteksi Dini TBC

Faktor risiko utama TBC berkaitan dengan sistem imun yang lemah, seperti pada penderita HIV, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, penerima transplantasi organ, dan pasien autoimun yang mengonsumsi obat imunosupresif.

Baca Juga:  Air Kelapa Bantu Netralisir Asam Lambung, Ini Aturan Minumnya

Selain itu, paparan berulang dari penderita TBC aktif juga meningkatkan risiko infeksi.

Untuk mendeteksi infeksi TBC laten, di mana bakteri ada dalam tubuh namun belum menyebabkan penyakit, bisa dilakukan tes tuberkulin atau IGRA.

Infeksi laten tidak menunjukkan gejala, namun berpotensi berkembang menjadi TBC aktif jika tidak dicegah.

Terapi Pencegahan TBC (TPT)

Sebagai upaya pencegahan, terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) diberikan kepada kelompok berisiko, termasuk orang dengan HIV, pasien dengan gangguan imun, dan kontak serumah penderita TBC aktif.

TPT tersedia dalam bentuk obat, seperti isoniazid yang digunakan selama 6 bulan, atau kombinasi rifapentin dan INH yang digunakan selama 3 bulan.

“TPT bertujuan mencegah bakteri TBC laten berkembang menjadi penyakit aktif. Efektivitas perlindungan bisa berlangsung hingga 3–5 tahun,” ujar Mira.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending