Connect with us

Lifestyle

Waduh! Studi Ungkap Keseringan Makan Sendiri Berbahaya untuk Kesehatan Mental-Fisik

Studi terbaru menunjukkan kebiasaan makan sendiri pada lansia berkaitan dengan gizi buruk, penurunan protein, dan gangguan kesehatan mental.

Logompn

Published

on

Waduh! studi ungkap keseringan makan sendiri berbahaya untuk kesehatan mental fisik
Potret makan sendirian. Gambar: Ilustrasi Canva.

MPN Indonesia 10 Januari 2026 - Kebiasaan makan sendiri, terutama pada malam hari, berisiko tinggi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik, khususnya pada lansia.

Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Appetite menunjukkan bahwa makan sendirian dikaitkan dengan pola makan buruk, kekurangan gizi, penurunan berat badan, serta peningkatan risiko kerapuhan mental.

Penelitian dilakukan oleh tim dari Flinders University, Australia, yang meninjau 24 studi dalam dua dekade terakhir terkait lansia yang rutin makan sendiri.

Data menunjukkan bahwa semakin sering seseorang makan sendirian, asupan protein hariannya menurun dari 58 gram menjadi 51 gram.

Penurunan ini berdampak langsung terhadap kesehatan fisik dan mental lansia yang bersangkutan.

Peneliti juga menemukan bahwa orang lanjut usia (65 tahun ke atas) yang tidak makan bersama teman atau keluarga cenderung memiliki kebiasaan makan yang lebih buruk dan tidak mengonsumsi makanan bergizi secara cukup.

Penurunan konsumsi protein, kalium, serta nutrisi penting lainnya tercatat terutama pada perempuan, yang berpotensi menyebabkan osteoporosis.

Dampak Buruk Pola Makan Sendiri pada Lansia

Perbedaan kebiasaan makan terlihat signifikan antara mereka yang makan sendiri dan yang makan bersama.

Di Taiwan, pria yang makan sendiri hanya mengonsumsi sayuran sekitar dua kali sehari.

Sebaliknya, mereka yang makan bersama mencatat konsumsi buah dan sayur hampir dua setengah kali sehari.

“Perbedaannya sangat terlihat pada konsumsi buah dan sayur. Di Taiwan, pria yang makan sendirian mengonsumsi sayur sekitar dua kali sehari, sedangkan mereka yang makan bersama mengonsumsinya hampir dua setengah kali sehari,” ucap peneliti dari Daily Mail (30/11/2025), dikutip MPN Indonesia pada Sabtu (10/1).

Fenomena serupa juga ditemukan di Swedia. Lansia yang makan sendiri empat kali lebih mungkin mengonsumsi junk food dibanding mereka yang makan bersama.

Baca Juga:  Waspada! Ini 6 Efek Buruk Jika Terlalu Lama Main Gadget

Konsumsi makanan siap saji yang tinggi garam dan gula ini turut meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan metabolisme lainnya.

Peneliti menekankan bahwa makan bersama tidak hanya meningkatkan asupan nutrisi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial yang mendukung kesehatan mental.

“Menyiapkan makanan bergizi terasa kurang berharga jika hanya untuk diri sendiri. Isyarat sosial yang biasanya mendorong kita makan lebih banyak dan mencoba beragam makanan menghilang dan beban psikologis dari rasa kesepian memberi dampaknya sendiri,” ungkap peneliti.

Untuk mencegah dampak berkepanjangan dari kebiasaan ini, peneliti menyarankan agar dokter dan perawat secara rutin menanyakan kebiasaan makan pasien lansia dalam pemeriksaan.

Keluarga juga diimbau untuk rutin mengajak lansia makan bersama.

“Bagi keluarga yang memiliki orang tua atau kerabat lansia yang tinggal sendirian, pesannya sangat praktis. Makan malam keluarga secara rutin atau janjian makan siang bisa sama pentingnya dengan apa yang sebenarnya ada di atas piring,” kata peneliti.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending