Connect with us

Otomotif

Kereta Tanpa Masinis? Kenali Teknologi CBTC dengan GoA 3

LRT Jabodebek mengoperasikan kereta dengan sistem Communication-Based Train Control GoA 3 yang memungkinkannya berjalan tanpa masinis.

Logompn

Published

on

Kereta Tanpa Masinis Kenali Teknologi CBTC dengan GoA
Kereta Tanpa Masinis Kenali Teknologi CBTC dengan GoA 3. Gambar: Instagram/@pt_inka

MPN Indonesia 6 Juni 2026 - LRT Jabodebek menerapkan sistem Communication-Based Train Control (CBTC) Grade of Automation 3 (GoA 3) yang memungkinkan kereta berjalan tanpa masinis.

Sistem ini digunakan pada LRT untuk mengatur perjalanan kereta secara otomatis dengan dukungan teknologi kendali terintegrasi.

Pada sistem CBTC GoA 3 yang diterapkan di LRT Jabodebek, pengoperasian kereta dikendalikan melalui On-Board Control Unit (OBCU) yang mengintegrasikan fungsi Automatic Train Operation (ATO) dan Automatic Train Protection (ATP).

OBCU bekerja bersama Train Control and Monitoring System (TCMS) untuk mengendalikan berbagai subsistem secara otomatis dan terintegrasi.

Grade of Automation (GoA) dalam Sistem Kereta

Dikutip MPN Indonesia melalui Instagram @pt_inka pada Sabtu (6/6), GoA merupakan tingkatan yang menunjukkan besarnya otomatisasi dalam pengoperasian kereta.

Semakin tinggi tingkatannya, semakin kecil intervensi masinis dalam pengendalian perjalanan.

Pada GoA 0 atau On-Sight/Cab Signalling, seluruh pengoperasian kereta dilakukan secara manual oleh masinis dengan bantuan persinyalan konvensional tanpa pengawasan otomatis terhadap kecepatan.

GoA 1 mengintegrasikan ATP dengan masinis tetap bertanggung jawab penuh atas operasional.

GoA 2 memadukan ATP dan ATO untuk mengendalikan kecepatan serta pergerakan secara otomatis, namun masinis tetap berada di dalam kabin untuk intervensi jika diperlukan.

LRT Jabodebek menerapkan GoA 3, yaitu operasi kereta berjalan otomatis dengan keberadaan petugas di dalam rangkaian untuk penanganan kondisi darurat dan pelayanan penumpang.

Sementara itu, GoA 4 atau Unattended Train Operation (UTO) merupakan tingkat otomatisasi tertinggi karena seluruh operasi dilakukan tanpa masinis maupun petugas di dalam kereta.

Automatic Train Control (ATC) pada LRT Jabodebek

ATC merupakan sistem kendali yang mengintegrasikan fungsi supervisi, operasi, dan proteksi untuk memastikan perjalanan kereta aman dan efisien.

Baca Juga:  Kenapa Gerbong Wanita di Paling Depan dan Belakang Kereta?

ATC terdiri atas tiga komponen utama, yakni Automatic Train Supervision (ATS), Automatic Train Operation (ATO), dan Automatic Train Protection (ATP).

ATS berfungsi mengawasi, mengatur, serta memantau operasional kereta dari Operation Control Center (OCC).

ATO menjalankan operasi kereta secara otomatis meliputi pengaturan akselerasi, pengendalian kecepatan, pengaturan pengereman, dan pemberhentian kereta di stasiun.

ATP mengawasi batas kecepatan dan pergerakan kereta serta dapat melakukan intervensi otomatis untuk mencegah kondisi yang membahayakan keselamatan operasi.

Teknologi Communication-Based Train Control (CBTC)

CBTC merupakan teknologi kendali kereta berbasis komunikasi data yang umumnya menggunakan jaringan radio nirkabel.

Sistem ini mengintegrasikan ATS, ATO, dan ATP sehingga memungkinkan peningkatan kapasitas dan fleksibilitas operasi kereta.

Berbeda dengan sistem persinyalan konvensional yang menggunakan prinsip fixed block, CBTC menerapkan konsep moving block.

Dalam konsep ini, jarak aman antar kereta dihitung secara dinamis berdasarkan posisi kereta, kecepatan kereta, serta profil pengereman kereta di depannya.

Dengan pendekatan tersebut, kereta dapat beroperasi dengan jarak lebih dekat tanpa mengurangi tingkat keselamatan.

Penerapan CBTC memberikan sejumlah manfaat operasional, yakni mengurangi headway atau jarak waktu antar kereta, meningkatkan kapasitas lintas, meningkatkan frekuensi perjalanan, meningkatkan ketepatan waktu layanan, serta meningkatkan efisiensi operasional.

Otomasi Operasi LRT Jabodebek

Pada LRT Jabodebek, fungsi otomatis dijalankan melalui kolaborasi ATO, ATP, dan TCMS.

Pergerakan kereta dilakukan dengan pengaturan akselerasi, pengendalian kecepatan, serta pengereman secara otomatis.

Pengoperasian pintu dilakukan dengan membuka dan menutup pintu secara otomatis sesuai posisi kereta di stasiun.

Selain itu, sistem juga mengatur penerangan dan suhu kabin secara otomatis untuk menjaga kenyamanan penumpang.

Dari sisi proteksi, ATP menjalankan overspeed protection untuk mencegah kereta melampaui batas kecepatan, speed restriction sesuai karakteristik jalur, interlocking system untuk memastikan rute aman dan bebas konflik, serta safe train separation guna menjaga jarak aman antar kereta.

Baca Juga:  Hore! Tarif LRT Jabodebek selama Libur Lebaran 2026 Maksimal Rp10.000

Dengan penerapan CBTC GoA 3, LRT Jabodebek mengoperasikan kereta secara otomatis dengan dukungan sistem kendali terintegrasi, sementara petugas tetap berada di dalam rangkaian untuk memastikan penanganan keadaan darurat dan pelayanan kepada penumpang tetap berjalan sesuai prosedur.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending