Connect with us

Pendidikan

Anggota DPR Usul Siswa Wajib Baca Buku 15 Menit Sebelum Belajar

Gamal Albinsaid mengusulkan kebijakan wajib membaca 15–30 menit sebelum belajar untuk meningkatkan literasi di Indonesia, yang masih tergolong rendah.

Actress 1299250

Published

on

Anggota DPR Usul Siswa Wajib Baca Buku 15 Menit Sebelum Belajar
Anggota DPR Usul Siswa Wajib Baca Buku 15 Menit Sebelum Belajar. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 16 November 2024 - Anggota Komisi X DPR RI, Gamal Albinsaid, mengusulkan penerapan kebijakan pendidikan yang mewajibkan siswa membaca selama 15–30 menit sebelum kegiatan belajar-mengajar dimulai.

Usulan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan literasi di Indonesia, yang saat ini masih tergolong rendah.

Literasi dalam Kebijakan Pendidikan

Dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (16/11), Gamal menekankan pentingnya merancang gerakan literasi yang lebih efektif, dengan mengintegrasikan aktivitas membaca ke dalam pembelajaran.

Ia mengkritisi pendekatan seremonial seperti festival literasi yang dinilainya kurang memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan minat baca.

“Gerakan literasi yang luwes dan lugas diperlukan, misalnya dengan mewajibkan seluruh siswa membaca 15–30 menit sebelum kegiatan belajar-mengajar dimulai pada pagi hari,” jelas Gamal.

Menurutnya, langkah ini sangat relevan untuk mengatasi rendahnya minat baca di Indonesia.

Berdasarkan data UNESCO, hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca.

Laporan The World Most Literate Nation Ranking dari Central Connecticut State University (CCSU) bahkan menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 60 negara terkait tingkat literasi.

Inovasi Pendidikan untuk Meningkatkan Literasi

Gamal mengidentifikasi beberapa penyebab rendahnya literasi di Indonesia, termasuk keterbatasan akses, dominasi teknologi, dan kurangnya budaya membaca.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengusulkan berbagai inovasi pendidikan, seperti:

  • Membuka perpustakaan di lokasi strategis seperti pasar, terminal, mal, pesawat, dan penjara.
  • Memberikan apresiasi kepada siswa atas kemajuan literasi mereka.
  • Membiasakan memberikan hadiah berupa buku.
  • Mengadakan kunjungan rutin ke perpustakaan dan kegiatan membaca lainnya.

Selain itu, Gamal merekomendasikan pendekatan pembelajaran berbasis literasi, seperti meresensi buku, menulis setelah membaca, atau melakukan bedah buku secara berkala.

Baca Juga:  Warga Manfaatkan Kayu Gelondongan Sisa Banjir, DPR: Tak Bisa Dibiarkan

Peran Guru, Orang Tua, dan Masyarakat

Gamal menyoroti pentingnya keterlibatan guru, orang tua, dan masyarakat dalam membangun budaya membaca.

Ia menegaskan bahwa peran mereka harus lebih dari sekadar penyampai informasi.

“Tugas kita adalah mendorong anak-anak untuk memiliki gairah membaca, sehingga mereka merasa ‘haus’ akan pengetahuan,” katanya.

Ia juga mengajak agar kebiasaan membaca dimulai dari rumah dan kelas, menciptakan lingkungan yang mendukung siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan secara mandiri.

Langkah Strategis Menuju Budaya Literasi

Sebagai bagian dari kebijakan pendidikan untuk meningkatkan literasi, Gamal mendorong sinergi antara pendidikan formal dan informal dalam mendukung minat baca siswa.

Ia juga meminta semua pihak terkait, termasuk pemerintah, guru, dan masyarakat, untuk berkolaborasi mempercepat perbaikan literasi nasional.

Trending