Teknologi
AI Habiskan Air Setara Industri Minuman Kemasan dan Emisi Karbon Setara Kota New York di Tahun 2025
Emisi karbon AI pada 2025 diperkirakan setara Kota New York, dengan jejak karbon hingga 80 juta ton dan konsumsi air ratusan miliar liter.
MPN Indonesia 29 Desember 2025 - Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) sepanjang 2025 diperkirakan telah menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2) setara dengan yang dihasilkan oleh seluruh Kota New York.
Peneliti Alex de Vries-Gao, pendiri Digiconomist, mengungkapkan bahwa jejak karbon sistem AI tahun ini bisa mencapai hingga 80 juta ton.
Selain emisi karbon, penggunaan air yang terkait dengan operasional AI pada 2025 diperkirakan berada di kisaran 312 hingga 767 miliar liter.
Angka ini disebut lebih tinggi dari total konsumsi air minum dalam kemasan secara global, yang mencapai sekitar 446 miliar liter per tahun.
“Meskipun kebutuhan daya sistem AI mendekati kebutuhan daya negara sebesar Inggris Raya, dampak lingkungan dari pertumbuhan ini masih belum jelas,” ujar de Vries-Gao, dikutip MPN Indonesia dari The Independent, Senin (29/12).
Ia menambahkan bahwa biaya lingkungan ini pada akhirnya ditanggung oleh masyarakat, bukan oleh perusahaan teknologi yang mendapat keuntungan dari teknologi tersebut.
Emisi AI pada 2025 juga disamakan dengan lebih dari 8% total emisi global dari sektor penerbangan.
Studi yang dipublikasikan di jurnal akademik Patterns ini menjadi upaya awal untuk memisahkan dampak spesifik AI dari pusat data secara keseluruhan, terutama dengan meningkatnya penggunaan layanan seperti ChatGPT dari OpenAI dan Gemini dari Google.
Dampak Listrik dan Emisi dari Pusat Data AI
Penelitian menunjukkan bahwa pusat data yang didedikasikan untuk AI telah menyebabkan lonjakan permintaan listrik global.
Pada akhir 2024, kebutuhan listrik AI diperkirakan sebesar 9,4 gigawatt dan diprediksi meningkat menjadi 23 gigawatt pada akhir 2025.
Hal ini setara dengan kebutuhan listrik negara sebesar Inggris.
International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa pusat data AI terbesar yang sedang dibangun akan mengonsumsi listrik setara dengan dua juta rumah tangga.
Di Amerika Serikat, yang menyumbang 45% konsumsi listrik pusat data global, lonjakan kebutuhan energi telah memicu kekhawatiran tentang dampaknya terhadap warga sekitar dan infrastruktur listrik. Tiongkok berada di posisi kedua dengan 25%, disusul Eropa 15%.
Di Inggris, satu pusat data baru di Blyth, Northumberland, diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 180.000 ton CO2 per tahun saat beroperasi penuh, setara dengan emisi dari lebih dari 24.000 rumah tangga.
Konsumsi Air dan Ketertutupan Data
Selain penggunaan energi, konsumsi air untuk mendinginkan server pusat data menjadi sorotan.
Banyak pusat data menggunakan sistem pendingin berbasis air, di mana sebagian besar air tersebut menguap dan tidak dapat digunakan kembali.
Beberapa perusahaan teknologi dilaporkan mengalami lonjakan konsumsi air tahunan.
Namun, informasi detail mengenai penggunaan air sering disembunyikan oleh perusahaan, membuat publik sulit mendapatkan gambaran dampak lingkungan sebenarnya.
Di sejumlah lokasi, pembangunan pusat data memicu protes publik.
Di Newton County, Georgia, pembangunan pusat data oleh Meta disebut-sebut menyebabkan kenaikan harga air dan kerusakan sumur. Di Phoenix, Arizona, laporan menyatakan bahwa stres air tahunan dapat meningkat 32% jika seluruh pusat data yang direncanakan terealisasi.
“Tanpa data transparan, peluang terbesar untuk mengurangi dampak iklim dari pusat data dan AI tidak akan mudah diidentifikasi,” tulis de Vries-Gao.
Seruan Regulasi dan Transparansi
Lebih dari 200 kelompok lingkungan di AS telah meminta moratorium pembangunan pusat data baru, seiring kekhawatiran akan dampak lingkungan dan sosialnya.
De Vries-Gao juga menyoroti bahwa laporan dampak lingkungan dari perusahaan seperti Google masih belum memasukkan konsumsi air yang digunakan untuk menghasilkan listrik dalam operasional AI mereka, termasuk untuk sistem Gemini.
Google sendiri mencatat pengurangan emisi energi dari pusat datanya sebesar 12% pada 2024, namun menyebut bahwa pencapaian target iklim kini menjadi tantangan besar karena lambatnya penerapan teknologi energi bebas karbon secara luas.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
