Teknologi
China Kerahkan Robot Humanoid untuk Awasi Wilayah Perbatasan
China gunakan robot humanoid Walker S2 di perbatasan Vietnam senilai Rp643 miliar. Integrasi AI dan patroli otomatis 24 jam.
MPN Indonesia 16 Februari 2026 - China mulai mengerahkan robot humanoid untuk mendukung pengawasan wilayah perbatasan di pos lintas batas Fangchenggang, wilayah Guangxi, yang berbatasan langsung dengan Vietnam, dalam kontrak senilai sekitar 264 juta yuan (sekitar 37 juta USD atau Rp643 miliar).
Robot humanoid tersebut dikembangkan oleh UBTech Robotics yang berbasis di Shenzhen dan akan digunakan untuk membantu patroli, inspeksi, serta dukungan logistik di salah satu pusat transit tersibuk di kawasan tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi China dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dan sistem robotik ke dalam infrastruktur keamanan publik.
Model yang digunakan adalah Walker S2, robot humanoid industri yang diluncurkan pada pertengahan 2025 dan disebut sebagai robot humanoid pertama yang mampu mengganti baterainya sendiri secara otomatis.
Di perbatasan Fangchenggang, robot humanoid ini dirancang untuk membantu petugas manusia, bukan menggantikan sepenuhnya, dengan fungsi utama meliputi panduan kerumunan, pengelolaan antrean, inspeksi, patroli checkpoint, serta dukungan operasional lainnya.
Pengerahan robot humanoid di wilayah perbatasan ini juga dipandang sebagai uji coba berskala besar di lingkungan dengan lalu lintas tinggi yang melibatkan arus truk, bus, dan pelancong harian.
Otoritas China menargetkan sistem ini mampu beroperasi hampir 24 jam tanpa henti melalui teknologi baterai ganda yang memungkinkan penggantian daya otomatis dalam waktu sekitar tiga menit, sehingga mendukung keberlanjutan operasional tanpa penghentian sistem.
Implementasi dan Ekspansi Teknologi Robot Humanoid
Secara teknis, Walker S2 dirancang untuk penggunaan berkelanjutan di lingkungan nyata.
Sistem baterai gandanya memungkinkan robot melakukan penggantian baterai secara mandiri dalam waktu sekitar tiga menit.
Selain itu, modul terstandarisasi dan daya cadangan disiapkan untuk memastikan tugas tetap berjalan tanpa gangguan.
Kemampuan ini menjadi bagian dari upaya China meningkatkan skala penggunaan robot humanoid dari tahap prototipe menjadi infrastruktur yang dapat diandalkan dalam sektor logistik, manufaktur, serta layanan publik.
Di pos perbatasan Fangchenggang, robot humanoid dipersiapkan untuk menjalankan sejumlah fungsi operasional, antara lain memandu pelintas batas, mengatur antrean kendaraan, melakukan patroli di koridor dan area tunggu, serta menjawab pertanyaan dasar dari pelancong.
Sistem ini dilengkapi dengan AI, sensor, dan kemampuan pengisian daya mandiri untuk mendukung operasional di lapangan.
Pengerahan ini juga menjadi salah satu penggunaan paling terlihat dari robot humanoid dalam konteks keamanan publik di titik perbatasan utama dekat Vietnam.
Jika implementasi di Fangchenggang berjalan sesuai rencana, teknologi serupa berpotensi diperluas ke bandara, pelabuhan laut, dan stasiun kereta api sebagai bagian dari integrasi teknologi dan inovasi global dalam sistem transportasi dan keamanan.
UBTech sebagai perusahaan pengembang mencatat peningkatan dalam ekspansi pasar global.
Pada 2025, pesanan robot humanoid perusahaan tersebut melampaui 1,4 miliar yuan (sekitar USD 200 juta atau Rp3,4 miliar).
UBTech juga menjalin kemitraan internasional, termasuk penyediaan unit Walker S2 untuk Airbus SE dan sektor manufaktur semikonduktor.
Produksi dilaporkan meningkat, dengan ratusan unit telah dikirim ke berbagai pabrik serta target produksi ribuan unit per tahun dalam beberapa tahun mendatang.
Respons dan Perkembangan di Eropa
Penggunaan robot humanoid untuk pengawasan perbatasan di China turut menarik perhatian di Eropa, terutama di tengah tekanan migrasi yang berkelanjutan.
Badan penjaga perbatasan dan pantai Uni Eropa, Frontex, saat ini telah memanfaatkan berbagai teknologi pengawasan berteknologi tinggi untuk meningkatkan kesadaran situasional, mendeteksi kejahatan lintas batas, serta mengurangi beban operasional petugas di lapangan.
Pernyataan tersebut menempatkan robot humanoid sebagai potensi evolusi lanjutan dalam sistem kontrol perbatasan berbasis AI di kawasan tersebut.
Komisaris Pemerintah Hungaria untuk kecerdasan buatan, László Palkovics, pada akhir Maret melakukan kunjungan ke Israel dan menyatakan bahwa kerja sama teknologi antara kedua negara dapat menghasilkan terobosan, termasuk produksi robot humanoid di Hungaria.
“Teknologi ini sekarang telah melewati fase eksperimental dan siap untuk produksi massal,” ucapnya, dikutip MPN Indonesia melalui Hungarian Conservative, pada Senin (16/2).
Menurut Palkovics, mesin berteknologi tinggi tersebut telah siap dipasarkan di Israel dan menunggu pengiriman ke perusahaan komersial.
Dengan sektor otomotif yang kuat, Hungaria dinilai memiliki kapasitas untuk memproduksi massal robot humanoid, seiring fokus negara tersebut pada perlindungan perbatasan.
Langkah China dalam mengerahkan robot humanoid di perbatasan Fangchenggang menjadi salah satu implementasi teknologi dan inovasi global dalam sistem keamanan modern.
Integrasi AI, sensor, serta kemampuan operasional mandiri menunjukkan arah pengembangan infrastruktur berbasis robotik yang mulai diterapkan secara langsung di titik perbatasan strategis.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
