Teknologi
Pendiri Tim AI Google Sebut Gelar Sarjana Hukum dan Kedokteran akan Sia-sia, Kenapa?
Jad Tarifi dalam wawancara dengan Business Insider memperingatkan bahwa gelar sarjana hukum dan kedokteran bisa menjadi tidak relevan di masa depan. Ini alasannya!
MPN Indonesia 24 Agustus 2025 - Salah satu pelopor kecerdasan buatan (AI) di Google, Jad Tarifi, memperingatkan bahwa gelar sarjana hukum dan kedokteran bisa menjadi tidak relevan di masa depan.
Tarifi, yang ikut mendirikan tim AI generatif pertama di Google sebelum keluar pada 2021 untuk membangun startup Integral AI, menilai perkembangan AI yang sangat cepat dapat menggeser kebutuhan tenaga dokter maupun pengacara (23/8).
Dalam wawancara dengan Business Insider, Tarifi menyatakan bahwa menempuh jalur panjang untuk meraih gelar hukum atau kedokteran tidak lagi sepadan.
“Meraih gelar di bidang tersebut perlu waktu sangat lama dibandingkan seberapa cepat AI berevolusi sehingga dapat mengakibatkan siswa hanya membuang tahun-tahun dalam hidup mereka,” ungkapnya dikutip MPN Indonesia dari Futurism, Sabtu (23/8).
Ia menilai bahwa sistem pendidikan, khususnya kedokteran, sudah tertinggal.
“Dalam sistem medis saat ini, apa yang Anda pelajari di sekolah kedokteran sangat ketinggalan zaman dan didasarkan pada hafalan,” tambah Tarifi.
Tarifi menekankan bahwa pendidikan tinggi berada di ambang kepunahan karena tidak lagi mengikuti perkembangan teknologi.
Menurutnya, keberhasilan di masa depan tidak akan ditentukan oleh kumpulan gelar akademik, melainkan oleh perspektif unik, kesadaran emosional, serta kemampuan membangun hubungan antarmanusia.
“Pendidikan tinggi seperti yang kita kenal sekarang berada di ambang kepunahan. Keberhasilan di masa depan takkan datang dari mengumpulkan kredensial, melainkan dari mengembangkan perspektif unik, kesadaran emosional, dan ikatan antarmanusia yang kuat,” ujarnya.
Pakar Teknologi Sebut Pendidikan Tinggi sudah Tak Relevan
Tarifi yang meraih PhD bidang AI pada 2012 menyarankan agar generasi muda lebih baik mempelajari topik khusus terkait AI, seperti pemanfaatan AI untuk biologi, dibanding mengejar gelar akademik panjang.
Bahkan, menurutnya, di masa depan orang mungkin tidak lagi membutuhkan gelar sama sekali.
“Saya mendorong kaum muda untuk berfokus pada dua hal yaitu seni terhubung secara mendalam dengan orang lain, dan upaya batin untuk terhubung dengan diri sendiri,” jelasnya.
Pandangan Tarifi sejalan dengan sejumlah tokoh teknologi lainnya. CEO Meta, Mark Zuckerberg juga menilai perguruan tinggi tidak menyiapkan lulusannya untuk kebutuhan kerja saat ini.
“Saya tidak yakin bahwa perguruan tinggi mempersiapkan orang untuk pekerjaan yang mereka butuhkan saat ini. Saya pikir ada masalah besar tentang itu dan juga semua masalah utang mahasiswa,” ujar Zuckerberg.
Hal serupa juga disampaikan CEO OpenAI, Sam Altman. Ia menegaskan bahwa kemampuan model AI terbaru sudah sebanding dengan lulusan PhD.
“GPT-5 benar-benar terasa seperti berbicara dengan pakar tingkat PhD dalam topik apa pun. Sesuatu seperti GPT-5 hampir tak terbayangkan di masa lain dalam sejarah,” kata Altman.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
