Teknologi
Wamenkomdigi: AI Tidak Bisa Gantikan Empati dan Pikiran Manusia
Wamenkomdigi Nezar Patria menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan manusia karena tidak memiliki empati dan kemampuan berpikir kritis.
MPN Indonesia 10 November 2025 - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria menegaskan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia.
Menurutnya, AI tidak memiliki empati dan kemampuan berpikir kritis yang menjadi inti dari komunikasi manusia.
Pernyataan ini ia sampaikan dalam acara Pekan Komunikasi UI 2025 di Universitas Indonesia, Depok, Kamis (6/11).
Nezar menjelaskan bahwa proses komunikasi manusia tidak hanya bergantung pada bahasa verbal.
Gestur, ekspresi wajah, dan nuansa emosional menjadi bagian penting yang tidak dapat direplikasi oleh mesin.
“Mesin artificial intelligence ini di belakangnya bekerja dengan rumus-rumus matematika, semuanya dengan angka-angka. Sementara kita punya cara berkomunikasi yang khas manusia, yang kadang hanya bisa dibaca oleh sesama manusia,” ujar Nezar, sebagaimana dikutip MPN Indonesia dalam siaran pers di laman resmi komdigi.go.id, Senin (10/11).
Ia menekankan bahwa teknologi, termasuk AI, tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu.
Dalam setiap proses pengambilan keputusan, sentuhan manusia harus tetap hadir agar nilai-nilai etika dan kemanusiaan tidak terabaikan.
“Teknologi hanyalah alat. Di balik setiap keputusan penting, tetap harus ada sentuhan manusia,” kata Nezar.
Keterbatasan AI dan Risiko Halusinasi
Nezar juga menyoroti keterbatasan AI generatif yang kini mampu memproduksi teks, gambar, maupun video dengan intervensi manusia yang minimal.
Meskipun memberikan kemudahan, teknologi ini berpotensi menghasilkan informasi yang tidak akurat atau halusinasi algoritmik.
Ia mencontohkan sebuah kasus di mana salah satu konsultan internasional yang mengerjakan proyek untuk pemerintah Australia harus mengembalikan dana karena laporan riset yang disusun ternyata merujuk pada dokumen dan jurnal yang tidak pernah ada.
“Salah satu konsultan terbesar di dunia harus mengembalikan uang karena hasil konsultansi yang mereka buat, riset dan survei yang mereka lakukan, ternyata berasal dari sumber yang fiktif,” jelasnya.
Ajakan untuk Praktisi Komunikasi
Menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin cepat, Nezar mengajak para praktisi komunikasi untuk mengasah empati dan kemampuan berpikir kritis.
Menurutnya, hal tersebut menjadi penentu agar pesan yang disampaikan tetap bermakna dan manusiawi.
“Komunikasi manusia bukan sekadar rangkaian kata, tapi juga melibatkan gestur, ekspresi tubuh, dan empati yang tidak bisa direplikasi oleh mesin,” tutur Nezar.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
