Connect with us

Teknologi

Open AI Rilis GPT-Rosalind untuk Riset Biologi dan Penemuan Obat!

OpenAI mengumumkan peluncuran GPT-Rosalind, model kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk mendukung riset biologi dan penemuan obat, Kamis (16/4) waktu Amerika Serikat.

Logompn

Published

on

Open AI Rilis GPT Rosalind untuk Riset Biologi dan Penemuan Obat!
Open AI Rilis GPT-Rosalind untuk Riset Biologi dan Penemuan Obat! | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 17 April 2026 - OpenAI mengumumkan peluncuran GPT-Rosalind, model kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk mendukung riset biologi dan penemuan obat, Kamis (16/4) waktu Amerika Serikat.

Model ini diperkenalkan sebagai bagian dari seri model ilmu hayati OpenAI dan tersedia dalam versi research preview melalui ChatGPT, Codex, serta API bagi pelanggan yang memenuhi syarat.

Kehadiran GPT-Rosalind ditujukan untuk membantu peneliti di bidang biokimia, kedokteran translasi, dan penemuan obat dalam mempercepat tahap awal penelitian melalui dukungan analisis ilmiah berbasis kecerdasan buatan.

“Dengan mendukung sintesis bukti (evidence synthesis), pembuatan hipotesis, perencanaan eksperimen dan tugas penelitian multi-langkah lainnya, model ini dirancang untuk membantu para peneliti mempercepat tahap awal penemuan,” kata OpenAI dalam laman resminya.

GPT-Rosalind dibangun di atas model internal terbaru OpenAI, meski rincian versinya tidak dijabarkan.

Nama Rosalind diambil dari ilmuwan Inggris abad ke-20, Rosalind Franklin, yang penelitiannya berkontribusi dalam mengungkap struktur DNA dan menjadi dasar biologi molekuler modern.

OpenAI menegaskan bahwa model ini tidak ditujukan untuk menggantikan ilmuwan, melainkan membantu pekerjaan analitis yang kompleks dan memakan waktu.

Dirancang untuk Alur Kerja Ilmiah

GPT-Rosalind dioptimalkan untuk alur kerja ilmiah modern yang melibatkan literatur ilmiah, basis data khusus, data eksperimental, serta hipotesis yang terus berkembang.

Dalam penjelasannya, OpenAI menyebut bahwa rata-rata dibutuhkan sekitar 10 hingga 15 tahun untuk beralih dari penemuan target hingga persetujuan regulasi untuk obat baru di Amerika Serikat.

Oleh karena itu, percepatan pada tahap awal dinilai dapat berdampak terhadap proses selanjutnya, termasuk pemilihan target dan kualitas eksperimen.

Baca Juga:  Bantu Pelajar Berpikir Kritis, Google Rilis Guided Learning di Gemini AI

“Kami percaya bahwa sistem AI canggih dapat membantu para peneliti bergerak lebih cepat melalui alur kerja ini—bukan hanya dengan membuat pekerjaan yang ada lebih efisien, tetapi juga dengan membantu para ilmuwan mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan,” katanya.

Model ini disebut mampu melakukan penalaran atas molekul, protein, gen, jalur biologis, serta biologi yang relevan dengan penyakit, sekaligus lebih efektif dalam penggunaan alat dan basis data ilmiah dalam alur kerja multi-langkah.

Dalam evaluasi internal, GPT-Rosalind menunjukkan kinerja pada berbagai subdomain ilmiah, termasuk mekanisme reaksi kimia, struktur protein, efek mutasi, interaksi molekuler, serta interpretasi filogenetik dari sekuens DNA.

Model ini juga diuji untuk menafsirkan hasil eksperimen, mengidentifikasi pola relevan, serta mensintesis informasi eksternal guna merancang eksperimen lanjutan dalam konteks riset biologi dan penemuan obat.

Hasil Uji Performa

Untuk mengukur performa, OpenAI menguji GPT-Rosalind pada sejumlah platform benchmark publik.

Pada BixBench, yang dirancang berdasarkan bioinformatika dan analisis data dunia nyata, GPT-Rosalind mencatat skor Pass@1 sebesar 0,751.

Skor tersebut lebih tinggi dibandingkan model lain yang dievaluasi dengan akses tersedia, termasuk GPT5, GPT5.4, GPT5.2, Grok 4.2, dan Gemini 3.1 Pro.

Pada LABBench2, tolok ukur yang mengukur kinerja dalam tugas penelitian seperti penelusuran literatur, akses basis data, manipulasi sekuens, dan desain protokol, GPT-Rosalind mengungguli GPT-5.4 pada enam dari sebelas tugas yang diuji.

Peningkatan paling signifikan terlihat pada CloningQA, yang membutuhkan desain lengkap reagen DNA dan enzim untuk protokol kloning molekuler secara end-to-end.

OpenAI juga bermitra dengan Dyno Therapeutics untuk mengevaluasi model pada tugas prediksi dan pembangkitan urutan RNA berdasarkan fungsi menggunakan urutan yang belum dipublikasikan.

Ketika dievaluasi langsung di aplikasi Codex, sepuluh model terbaik yang diajukan berada di atas persentil ke-95 dari para ahli manusia pada tugas prediksi dan sekitar persentil ke-84 dari para ahli manusia pada tugas pembangkitan urutan.

Baca Juga:  Setelah 12 Tahun Menikah, Wanita Gugat Cerai Suami karena Ramalan ChatGPT

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending