Connect with us

Berita

Pertamina dan Toyota Kembangkan Bioetanol, bakal Bangun Pabrik di Lampung

Indonesia kembangkan bioetanol lewat kerja sama Pertamina dan Toyota, manfaatkan limbah pertanian sebagai energi.

Logompn

Published

on

Pertamina dan Toyota Kembangkan Bioetanol, bakal Bangun Pabrik di Lampung
Pertamina dan Toyota Kembangkan Bioetanol, bakal Bangun Pabrik di Lampung. Gambar: Instagram/@todotua_p

Lampung, MPN Indonesia 21 April 2026 - Pemerintah Indonesia melalui Pertamina dan Toyota sepakat mengembangkan industri bioetanol dengan membangun pabrik pengolahan di Lampung.

Konstruksi ditargetkan mulai kuartal III–IV 2026 dan produksi pada 2028 dengan kapasitas awal 60.000 kiloliter per tahun.

Kesepakatan ini disampaikan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu pada konferensi pers di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta Selatan, Senin (20/4).

Proyek dijalankan melalui skema joint venture antara Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) dan Toyota, dengan dukungan teknologi generasi kedua atau second generation (2G) berbasis multi-feedstock.

Todotua menjelaskan alasan pemilihan Lampung sebagai lokasi pembangunan pabrik.

“Kenapa Lampung? Karena Lampung adalah salah satu provinsi yang sangat kuat untuk feedstock supply-nya terhadap etanol ini. Karena di Lampung seperti kita ketahui bersama, di sana ada penanaman besar tebu dan juga ada penanaman ubi dan feedstock-feedstock yang lain,” jelas Todotua dalam keterangannya, Senin (20/4).

Ia menambahkan, proyek akan mulai konstruksi pada kuartal III–IV 2026 dengan target produksi maksimal 2028.

“Jadi, konstruksinya akan kita mulai tahun ini target di Q3 maksimal di Q4 tahun ini. Kalau berjalan sih seharusnya maksimal 2028 sudah bisa produksi,” kata Todotua.

Kerja sama pertamina dan Toyota ini ditujukan untuk mendukung kebutuhan energi nasional sekaligus mempersiapkan implementasi kebijakan mandatori pencampuran bietanol dalam bahan bakar minyak.

“Untuk awal ini kapasitas produksinya itu untuk plant yang 60 ribu kiloliter setahun. Kita ketahui bahwa total konsolidasi plant etanol yang ada di Indonesia ini kurang lebih sekitar 120 ribuan. Bahkan mungkin cuma efektif 80 ribuan,” ungkap Todotua.

Ia menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari persiapan menuju mandatori E10 pada 2028.

Skema Proyek dan Dukungan Teknologi 2G

Proyek pengembangan bioetanol ini menggunakan teknologi generasi kedua (2G) dari Research Association of Biomass Innovation for Next Generation Automobile Fuels (RABIT).

Baca Juga:  Kejagung Tetapkan Dirut Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan jadi Tersangka Korupsi Rp193 Triliun

Teknologi tersebut memungkinkan produksi etanol dari limbah pertanian seperti limbah tebu dan singkong.

“Artinya waste-nya, waste sugarcane, waste daripada tebu itu sendiri, waste daripada singkong, dan waste-waste itu bisa di-consolidate untuk menghasilkan etanol itu sendiri. Waste di kita menjadi suatu problem daripada tanaman komoditi pangan, ini nanti yang bisa di-extract, dimanfaatkan,” ujar Todotua.

Selain tebu dan singkong, pendekatan multi-feedstock juga mencakup biomassa kelapa sawit, jagung, dan sorgum.

Pemerintah menyebut selain pembangunan pabrik juga akan dilakukan pengembangan penanaman sorgum sebagai bagian dari dukungan pasokan bahan baku.

“Karena di Lampung seperti kita ketahui bersama, di sana ada penanaman besar tebu. Dan juga ada penanaman ubi dan feedstock-feedstock yang lain. Jadi nanti ini rencananya selain pembangunan plan juga nanti ada rencananya juga untuk pembangunan apa namanya penanaman daripada salah satu support team feedstock-nya yaitu sorgum,” jelasnya.

Kerja sama antara pertamina melalui Pertamina NRE dan Toyota disebut telah berjalan sejak tahun sebelumnya dan kini memasuki tahap lanjutan.

“Program ini sebenarnya sudah kita jalankan dari tahun kemarin. Tetapi kita silent memang development-nya. Sudah ada rencana kooperasinya antara Pertamina New Renewable Energy dengan Japanese Group. Dalam hal ini nanti yang akan ditunjuk adalah Toyota Tsusho yang akan menjadi partner,” ungkap Todotua.

CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda menyampaikan pertemuan dengan pemerintah Indonesia menghasilkan kemajuan dalam pembahasan kerja sama tersebut.

“Capaian penting dari pertemuan ini adalah kemajuan menuju kesepakatan kerja sama antara Pertamina New & Renewable Energy dan Toyota dalam pengembangan industri bioetanol di Indonesia,” ujar Masahiko dalam keterangannya.

Dukungan terhadap Mandatori Energi Terbarukan

Pengembangan energi berbasis bioetanol ini sejalan dengan kebijakan pemerintah terkait bauran energi terbarukan dan mandatori pencampuran bioetanol pada BBM.

Baca Juga:  Harga Toyota Land Cruiser FJ 2026 di Indonesia

Roadmap yang disampaikan pemerintah mencakup campuran 5 persen (E5) pada 2026–2027, meningkat menjadi 10 persen (E10) pada 2028–2030, hingga E20.

“Tentunya kita melakukan ini dalam kerangka memang kita harus mem-prepare apabila nanti masuk dalam mandatori E10 itu negara kita juga siap untuk dalam mem-provide kebutuhan etanolnya,” jelas Todotua.

Ia juga menyampaikan kesiapan industri otomotif dalam mendukung penggunaan bioetanol.

Menurut Todotua, kendaraan produksi Toyota telah memiliki kemampuan untuk menggunakan bahan bakar berbasis etanol.

“Teknologinya Toyota ini sebenarnya kalau mengonsumsi 100% etanol sudah bisa,” tutup Todotua.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending