Connect with us

Lifestyle

Apa Itu Haji Mabrur? Ini Pengertian dan Tips Meraihnya

Berikut pengertian haji mabrur, ciri-ciri, dan cara meraihnya agar ibadah haji kamu berjalan dengan lancar dan mendapat pahala di sisi Allah.

Logompn

Published

on

Apa Itu Haji Mabrur Ini Pengertian dan Tips Meraihnya
Apa Itu Haji Mabrur? Ini Pengertian dan Tips Meraihnya. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 25 April 2026 - Setiap Muslim yang menunaikan haji mendambakan kemabruran atas ibadahnya.

Haji mabrur menjadi harapan seluruh jemaah karena dalam berbagai hadits disebutkan balasannya adalah surga.

Rasulullah SAW bersabda:
الْحَجَّةُ الْمَبْرُورَةُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya: “Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR An-Nasa’i).

Hadits tersebut menjadi dasar mengapa setiap orang yang melaksanakan haji berharap memperoleh predikat mabrur sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah.

Haji merupakan rukun Islam yang diwajibkan bagi Muslim yang telah memenuhi syarat kemampuan.

Pelaksanaannya mengharuskan jemaah mencurahkan harta dan tenaga, serta meninggalkan keluarga untuk memenuhi panggilan Allah di Tanah Haram.

Di Indonesia, calon jemaah bahkan harus mengantre bertahun-tahun karena keterbatasan kuota.

Dalam konteks ini, kemabruran menjadi tujuan utama dari pelaksanaan ibadah keagamaan tersebut.

Apa yang Dimaksud dengan Haji Mabrur?

Dikutip MPN Indonesia dari laman MUI Digital, secara bahasa kata “mabrur” berasal dari kata “birr” yang berarti kejujuran dan ketaatan, sebagaimana dijelaskan dalam Lisanul Arab karya Ibnu Manzur (juz 4, hlm 51).

Dengan pengertian ini, haji mabrur dimaknai sebagai haji yang mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang semakin taat dan jujur kepada Allah SWT.

Muhyiddin Syaraf an-Nawawi menjelaskan yang artinya:

Menurut Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, makna hadits “Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga” adalah bahwa ganjaran bagi orang yang memperoleh haji mabrur tidak hanya sebatas penghapusan sebagian dosa, melainkan ia dipastikan masuk surga. Imam Nawawi berkata: Yang paling sahih dan masyhur adalah bahwa haji mabrur yang bersih dari dosa itu diambil dari al-birr (kebaikan) yaitu ketaatan.

Pendapat lain menyebutkan:

Baca Juga:  Ashanty dan Anang Gelar Pengajian jelang Berangkat Haji

Ada pendapat yang mengatakan: Haji mabrur adalah haji yang diterima yang dibalas dengan kebaikan yaitu pahala. Sedangkan pertanda diterimanya haji seseorang adalah kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi melakukan kemaksiatan. (Jalaluddin as-Suyuthi, Syarhus Suyuthi li Sunan an-Nasa’i, juz V, halaman: 112).

Apa Ciri-Ciri Orang yang Mendapat Haji Mabrur?

Ciri kemabruran tidak hanya diukur saat pelaksanaan ibadah di Tanah Suci, tetapi juga setelahnya.

Naib Amirul Hajj yang juga Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Dr. Abdul Mu’ti, menyampaikan sebagai berikut:

“Saya berpendapat, kemabruran haji indikatornya justru pasca menunaikan ibadah haji. Ini sama seperti ibadah lainnya, misalnya puasa. Kita berpuasa tujuannya adalah untuk menjadi manusia bertakwa. Selama kita menunaikan ibadah puasa, kita melakukan amalan-amalan, baik itu ibadah maupun sedekah, dan itu merupakan bagian dari kriteria hamba yang bertakwa. Ukuran takwa itu adalah setelah berpuasa,” kata Naib Amirul Hajj, dikutip MPN Indonesia dari laman resmi Kementerian Agama.

“Kalau kita baca hadist, kriteria haji mabrur bermacam-macam. Ada yang menggunakan parameter sambung silaturahmi, sedekah, banyak ibadah, dan lain-lain. Jadi, yang dimaksud mabrur adalah orang yang senantiasa dimudahkan Allah dalam berbuat kebaikan, baik selama ibadah haji, bahkan setelahnya,” sambungnya.

Bagaimana Cara agar Haji Mabrur?

Kementerian Agama dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah tahun 2020 menjelaskan sejumlah kiat meraih haji mabrur.

Di antaranya meneguhkan niat yang tulus semata-mata karena Allah, menghindari perbuatan sum’ah, riya, dan mubahah.

Kemudian membekali diri dengan takwa, menggunakan biaya yang halal, serta melaksanakan seluruh rukun, wajib, dan sunnah haji sesuai tuntunan syariat.

Selain itu, jemaah diminta mengendalikan diri dari rafas (ucapan dan perbuatan yang bersifat pornografi), fusuq (perbuatan dosa), dan jidal (bertengkar), serta menghindari larangan ihram dengan sungguh-sungguh.

Baca Juga:  6 Rukun Haji yang Tak Boleh Terlewat oleh Para Calon Jemaah Haji

Setelah kembali dari Tanah Suci, peningkatan kualitas ibadah dan kepedulian sosial menjadi bagian dari indikator kemabruran, seperti menunjukkan tutur kata yang baik, menebarkan kedamaian, gemar memberi, dan meninggalkan maksiat.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending