Connect with us

Lifestyle

Kenapa Gen Z Mudah Stres di Tempat Kerja? Ini Penyebabnya

Mengapa Gen Z mudah merasa lelah di dunia kerja? Simak penyebab stres, tantangan, work-life balance, dan peran lingkungan kerja.

Logompn

Published

on

Kenapa Gen Z Mudah Stres di Tempat Kerja Ini Penyebabnya
Kenapa Gen Z Mudah Stres di Tempat Kerja Ini Penyebabnya. Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 18 Agustus 2026 - “Capek sih, tapi ya tetap harus bertahan.”

Kalimat ini mungkin sering terdengar, atau bahkan kita sendiri yang merasakannya.

Kalimat sederhana ini sering kali menggambarkan apa yang dirasakan banyak Generasi Z (Gen Z) yang baru memasuki dunia kerja.

Baru memulai, namun sudah merasa lelah terhadap berbagai tuntutan yang dihadapinya.

Tuntutan untuk cepat beradaptasi, cepat tanggap dengan segala tugas yang diberi, selalu produktif, serta mampu mengikuti ritme kerja yang cepat membuat tekanan terasa semakin berat.

Meskipun dari luarnya terlihat baik-baik saja, tidak sedikit yang sebenarnya sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut.

Dunia kerja memang menawarkan banyak peluang, tetapi sekaligus membawa dinamika tekanan yang semakin kompleks dan sering kali diabaikan.

Tantangan Gen Z Saat Memasuki Dunia Kerja

Setelah melalui masa sekolah dan perkuliahan, Gen Z mulai memasuki dunia kerja dengan semangat dan harapan besar.

Mereka memiliki harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak serta menemukan makna dalam pekerjaan yang dijalani.

Namun, realita yang dihadapi tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi tersebut. Di balik semangat besar tersebut, tidak sedikit yang ternyata merasa kewalahan di awal.

Bukan karena tidak adanya daya juang, tetapi karena tuntutan yang dihadapi jauh lebih kompleks dari yang terlihat.

Sayangnya, Gen Z masih sering disalahpahami. Mereka sering dianggap terlalu sensitif ataupun lemah terhadap tekanan.

Padahal, generasi ini tumbuh di tengah berbagai perubahan besar, mulai dari pandemi, ketidakpastian ekonomi, hingga arus informasi yang terus-menerus diterima.

Kondisi tersebut justru membuat mereka lebih sadar akan kesehatan mental dan lebih berani mengakui ketika sedang merasa tidak baik-baik saja.

Baca Juga:  5 Jenis Olahraga yang Ampuh Hilangkan Stres

Mengapa Generasi Z Lebih Mudah Mengalami Stres

Untuk memahami fenomena tersebut, Job Demands-Resources (JD-R) Model dapat digunakan sebagai salah satu kerangka untuk melihat hubungan antara tuntutan pekerjaan dan sumber daya yang dimiliki karyawan.

Dalam kerangka ini, stres dan kelelahan kerja dapat muncul ketika tuntutan pekerjaan terus meningkat, sementara dukungan yang tersedia, seperti peran atasan, otonomi, dan kesempatan berkembang, belum memadai.

Temuan Saputra dan Adetya (2024) menunjukkan bahwa beban kerja berlebihan dapat meningkatkan tekanan psikologis karyawan, terutama jika berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang cukup.

Sementara itu, penelitian Hapiti et al. (2025) menemukan bahwa beban kerja yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya stres, kecemasan, dan kelelahan emosional pada karyawan Gen Z.

Kondisi ini menjadi berat ketika tuntutan tersebut berlangsung secara terus-menerus tanpa adanya dukungan yang memadai.

Menariknya, kondisi ini tidak dialami secara merata oleh tiap individu. Tidak semua individu merespons tekanan dengan cara yang sama.

Salah satu faktor yang membedakan adalah motivasi kerja. Individu dengan motivasi kerja yang tinggi cenderung lebih tahan banting saat menghadapi tekanan, bahkan dalam situasi yang kompleks (Djalil et al., 2025).

Misalnya bagi mereka yang memilih kuliah sambil bekerja. Bayangkan harus memenuhi deadline tugas kampus sekaligus target kantor setiap harinya.

Selain itu, keseimbangan antara kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi juga menjadi faktor penting.

Penelitian menunjukkan bahwa work-life balance yang baik dapat membantu menurunkan tingkat stres sekaligus meningkatkan kinerja karyawan (Nasution et al., 2024).

Namun, ada dimensi lain yang sering luput dari perhatian, yaitu lingkungan kerja.

Bagi Gen Z, lingkungan kerja bukan sekadar soal meja yang ergonomis atau koneksi internet yang cepat.

Baca Juga:  Menkes: 28 Juta Warga RI Berisiko Alami Gangguan Jiwa, Layanan Kesehatan Mental Kini Ada di Puskesmas

Lebih dari itu, mereka sangat peduli pada atmosfer tempat mereka bekerja, apakah ada ruang untuk berpendapat, dan apakah ada dukungan nyata dari rekan kerja maupun atasan.

Ketika lingkungan terasa kompetitif secara tidak sehat, tingkat stres mereka bisa melonjak dengan cepat.

Penelitian mencatat bahwa lingkungan kerja yang tidak kondusif menjadi salah satu penyebab utama gangguan mental pada karyawan muda (Wahyuningrum & Khan, 2023).

Dampak yang Tidak Bisa Diabaikan

Stres kerja yang tidak diperhatikan dengan baik tidak hanya berakibat buruk pada individu, tetapi juga pada organisasi.

Dari sisi individu, stres dapat menyebabkan kelelahan, penurunan motivasi, hingga menimbulkan gangguan mental.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menimbulkan kurangnya rasa percaya diri dan kepuasan terhadap pekerjaan.

Sementara itu, dari sisi organisasi, dampaknya terlihat dari menurunnya produktivitas, meningkatnya absensi, hingga tingginya keinginan karyawan untuk meninggalkan pekerjaan.

Penelitian menunjukkan bahwa stres kerja berpengaruh terhadap rendahnya loyalitas karyawan Gen Z (Syafira et al., 2025).

Padahal, keputusan tersebut sering kali bukan karena kurangnya komitmen, tetapi karena mereka tidak menemukan lingkungan kerja yang cukup aman untuk bertahan.

Kerja atau Bertahan?

Berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung mendahulukan pekerjaan di atas segalanya, Gen Z memandang keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai kebutuhan dasar.

Penelitian membuktikan bahwa karyawan Gen Z yang berhasil menjaga keseimbangan ini tidak hanya lebih produktif dan kreatif, tetapi juga lebih loyal.

Artinya, work-life balance adalah fondasi produktivitas, bukan musuhnya.

Dari sisi organisasi, perubahan perlu dimulai dari cara kerja dan gaya kepemimpinan. Evaluasi beban kerja perlu dilakukan secara rutin dan jujur.

Budaya komunikasi yang terbuka perlu dibangun secara aktif, di mana karyawan tidak takut bersuara ketika merasa kewalahan.

Baca Juga:  Apa Itu Mindfulness? Kenali Manfaat dan Cara Melakukannya

Gen Z merespons dengan jauh lebih baik terhadap pemimpin transformasional.

Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Bantam et al. (2024), gaya kepemimpinan transformasional yang efektif untuk Gen Z adalah pemimpin yang mampu menjadi standar moral yang baik, mendorong pemikiran kreatif, memberikan perhatian yang tulus kepada anggota tim, dan mampu memberikan semangat optimisme.

Pemimpin seperti ini menciptakan apa yang dikenal sebagai psychological safety, yaitu kondisi ketika karyawan tidak takut salah, tidak takut bertanya, dan tidak takut untuk jujur soal batas kemampuan mereka.

Sebagaimana diuraikan oleh Uguy et al. (2024), keamanan psikologis ini terbukti menjadi fondasi penting dalam membangun iklim kerja yang produktif dan inovatif.

Di sisi lain, Gen Z juga memiliki peran dalam mengelola stres yang mereka alami. Mengenali tanda-tanda stres sejak dini menjadi hal yang paling penting.

Membangun batasan yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, belajar mengatakan tidak ketika kapasitas sudah penuh, serta tidak segan mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan.

Perubahan tidak harus dimulai dari hal yang besar.

Cukup dari pemimpin yang mau benar-benar hadir, perusahaan yang mau mengevaluasi diri, dan Generasi Z yang mau jujur tentang batas kemampuan mereka.

Ketika semua pihak bergerak ke arah yang sama, lingkungan kerja yang sehat bukan lagi sesuatu yang mustahil.

Pada akhirnya, dunia kerja tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk bertahan.

Dunia kerja seharusnya menjadi ruang untuk berkembang.

Hal tersebut hanya dapat terwujud ketika individu dan organisasi sama-sama bersedia untuk berubah.

Artikel Karya: Merry Christina Sinaga, Nikmah Ramadhani, dan Laila Meiliyandrie Indah Wardani Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending