Connect with us

Berita

Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali dalam Sehari, Status Masih Siaga

Gunung Anak Krakatau erupsi 20 kali pada 17 Agustus 2026. Aktivitas vulkanik masih berfluktuasi dan statusnya tetap Level III atau Siaga.

Logompn

Published

on

Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali dalam Sehari
Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali dalam Sehari. Gambar: X/@IndonesiaFedera

Lampung, MPN Indonesia 18 Agustus 2026 - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, mengalami 20 kali erupsi sepanjang Senin (17/8).

Erupsi berlangsung sejak pukul 01.30 WIB hingga 22.10 WIB. Status gunung api tetap berada pada Level III atau Siaga karena aktivitas vulkanik masih berfluktuasi hingga Selasa (18/8).

Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau terus memantau perkembangan berdasarkan aktivitas kegempaan dan amplitudo tremor.

“Masih naik, masih turun. Makanya statusnya masih Siaga,” kata Petugas PGA Anak Krakatau, Andi Suwardi dalam keterangannya pada Selasa (18/8).

Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali dalam Sehari

Rangkaian erupsi gunung berapi terjadi hampir sepanjang hari dengan sebagian letusan terlihat secara visual.

Sejumlah letusan lainnya tidak teramati secara langsung, tetapi tetap terekam oleh seismograf.

Erupsi pertama terjadi pada pukul 01.30 WIB dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan durasi 36 detik.

Aktivitas kemudian berlanjut pada pukul 02.13 WIB dengan amplitudo 61 milimeter selama 53 detik, disusul letusan pukul 03.04 WIB dengan amplitudo 64 milimeter selama 55 detik.

Selanjutnya, aktivitas kembali tercatat pada waktu berikut:

  • 03.29 WIB dengan amplitudo maksimum 57 milimeter.
  • 04.05 WIB dengan amplitudo maksimum 58 milimeter.
  • 04.20 WIB dengan amplitudo maksimum 55 milimeter.

Rangkaian letusan tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik yang berlangsung berulang sejak dini hari hingga pagi.

Aktivitas Vulkanik Berlanjut dari Pagi hingga Malam

Pada pukul 06.26 WIB, letusan kembali teramati secara visual. Kolom abu mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau 557 meter di atas permukaan laut.

Baca Juga:  Kenapa Banyak Gunung Api Erupsi Bersamaan? Ini Penjelasan Ahli

Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal.

Sebaran abu bergerak ke arah utara hingga barat laut, sedangkan erupsi berlangsung selama 107 detik dengan amplitudo maksimum 57 milimeter.

Sekitar pukul 09.22 WIB, aktivitas kembali terjadi. Kolom abu kembali mencapai sekitar 400 meter di atas puncak dengan arah sebaran ke barat laut dan durasi 32 detik.

Memasuki siang hingga sore, aktivitas kembali tercatat pada 12.22 WIB, 12.43 WIB dengan kolom abu sekitar 150 meter di atas puncak, 12.44 WIB dengan kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak, 14.28 WIB, 15.14 WIB dengan kolom abu sekitar 150 meter di atas puncak, dan 15.15 WIB dengan kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak.

Aktivitas kemudian berlanjut hingga petang. Pada pukul 18.01 WIB, kolom abu teramati sekitar 150 meter di atas puncak atau 307 meter di atas permukaan laut.

Sekitar 25 menit kemudian, letusan kembali terjadi pada pukul 18.26 WIB. Kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak dan bergerak ke arah timur laut.

Erupsi berikutnya terjadi pada pukul 18.35 WIB. Kolom abu kembali mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau 457 meter di atas permukaan laut dengan arah sebaran ke timur laut.

Saat malam tiba, aktivitas masih berlangsung. Letusan pada pukul 19.43 WIB dan 19.44 WIB tidak teramati secara visual, tetapi terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter.

Erupsi terakhir pada Senin (17/8) terjadi pukul 22.10 WIB. Aktivitas tersebut juga tidak terlihat secara visual, tetapi tercatat memiliki amplitudo maksimum 53 milimeter dengan durasi 165 detik.

Status Siaga Masih Berlaku di Lampung

Andi Suwardi mengatakan aktivitas vulkanik masih mengalami perubahan sehingga status Gunung Anak Krakatau belum berubah dari Level III atau Siaga.

Baca Juga:  Polisi Gerebek Prostitusi Berkedok Warung Pecel Lele di Lampung

Menurut dia, banyaknya letusan dalam satu hari belum menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan perubahan status gunung api.

Pemantauan terus dilakukan terhadap berbagai parameter kegunungapian, termasuk aktivitas kegempaan.

“Kita lihat saja ke depannya. Kalau amplitudo tremornya masih besar kemungkinan erupsi masih ada,” ujarnya.

Andi menjelaskan Gunung Anak Krakatau berada di pulau yang tidak berpenghuni sehingga tidak terdapat permukiman warga di sekitar pusat erupsi.

Imbauan untuk Masyarakat dan Wisatawan

Meski berada di pulau yang tidak berpenghuni, perubahan aktivitas vulkanik dapat terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki diminta tetap mematuhi rekomendasi keselamatan.

Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan memasuki atau melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.

Andi mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil risiko dengan mendatangi kawasan tersebut.

“Kita kan masyarakat umum tidak punya alat pendeteksi kegiatan dari dalam. Kalau tiba-tiba ada letusan, risikonya sangat besar. Makanya lebih baik jangan ke sana dulu selama status Siaga,” tegasnya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending