Connect with us

Berita

Gunung Anak Krakatau Erupsi 10 Kali, Bagaimana Statusnya hingga Saat Ini?

Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada 18 Oktober 2026. Kolom abu mencapai 500 meter di atas puncak. Berikut rincian letusan dan kondisi gunung.

Actress 1299250

Published

on

Gunung Anak Krakatau Erupsi 10 Kali, Bagaimana Statusnya hingga Saat Ini?
Gunung Anak Krakatau Erupsi 10 Kali, Bagaimana Statusnya hingga Saat Ini? Gambar: X/@badangeologi_

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, dilaporkan mengalami sepuluh kali erupsi hingga pagi ini Senin (19/10).

Pada Minggu (18/10) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat semburan abu mencapai 500 meter di atas puncak gunung.

MPN Indonesia 19 Oktober 2026 - “Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 11:44 WIB. Tinggi kolom letusan teramati ± 500 m di atas puncak (± 657 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah utara. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung,” tulis keterangan Magma Indonesia, dikutip MPN Indonesia dari Magma Indonesia, Senin (19/10).

Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III Siaga

Gunung Anak Krakatau dilaporkan masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

Dengan status tersebut, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

“Masyarakat di sekitar Gunungapi Anak Krakatau dan pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak diperbolehkan mendekat atau melakukan aktivitas di dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi,” imbau Magma Indonesia.

Pembatasan juga berlaku di sekitar pulau baru yang terbentuk pada sektor barat laut dan tenggara gunung.

Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius satu kilometer dari kawasan tersebut.

Rincian Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 18 dan 19 Oktober 2026

Dikutip MPN Indonesia dari Liputan6, Senin (19/10), rangkaian aktivitas erupsi gunung berapi tersebut mencapai tujuk kali erupsi.

  • Pukul 11.44 WIB: Erupsi menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 500 meter di atas puncak atau 657 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah utara.
  • Pukul 12.01 WIB: Letusan kembali menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 500 meter di atas puncak. Seismograf merekam amplitudo maksimum 51 milimeter dengan durasi 41 detik.
  • Pukul 12.57 WIB: Kolom abu mencapai sekitar 100 meter di atas puncak. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan mengarah ke timur laut.
  • Pukul 12.59 WIB: Erupsi kembali terjadi dengan kolom abu setinggi sekitar 100 meter di atas puncak. Sebaran abu berwarna kelabu hingga hitam terpantau bergerak ke timur laut.
  • Pukul 17.22 WIB: Letusan pada sore hari menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter di atas puncak atau 357 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam dan mengarah ke barat laut.
  • Pukul 22.22 WIB: Aktivitas erupsi kembali terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum 45 milimeter dan durasi 100 detik.
  • Pukul 22.25 WIB: Erupsi kembali tercatat tiga menit setelah letusan sebelumnya. Namun, kolom abu tidak teramati secara visual dan aktivitas erupsi masih berlangsung ketika laporan dibuat.
Baca Juga:  Puluhan Rumah Tampak Rata dengan Tanah usai Diterjang Awan Panas Erupsi Gunung Semeru

Berdasarkan informasi dari akun Instagram resmi BPBD Lampung, @bpbdlampung, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami tiga kali erupsi pada Senin (19/10) pagi, masing-masing pukul 09.31, 09.33, dan 09.40 WIB.

Ketiga erupsi tersebut, letusan tidak teramati secara visual dan dilaporkan masih berlangsung saat laporan dibuat.

Aktivitas Kegempaan dan Potensi Bahaya Vulkanik

Selama periode pemantauan, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih terdeteksi.

Petugas mencatat 21 kali gempa hybrid atau fase banyak, tiga kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa vulkanik dalam, serta satu kali gempa frekuensi rendah.

Sementara itu, potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran material pijar, hujan abu lebat, aliran lava, dan erupsi sekunder akibat kontak lava panas dengan air laut atau air hujan.

Masyarakat di kawasan pesisir Lampung dan Banten juga diminta tetap tenang serta tidak menyebarluaskan informasi mengenai potensi tsunami yang tidak memiliki dasar resmi.

PVMBG dan BPBD menjadi rujukan informasi bagi masyarakat terkait perkembangan aktivitas vulkanik dan pembatasan kawasan berbahaya.

(AKM/NID/RAD)

Trending