Connect with us

Berita

Kompol Aditia Meninggal Dunia usai 7 Tahun Koma akibat Pengeroyokan saat Lerai Pesilat

Kompol Aditia meninggal setelah 7 tahun koma akibat pengeroyokan pesilat di Wonogiri.

Actress 1299250

Published

on

Kompol Aditia Wafat Setelah 7 Tahun Koma, Jadi Korban Pengeroyokan Pesilat pada
Kompol Aditia Wafat Setelah 7 Tahun Koma, Jadi Korban Pengeroyokan Pesilat pada 2019. Gambar: Instagram/@humas_poldajateng

MPN Indonesia 27 Oktober 2026 - Mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Kompol Aditia Mulya Ramdhani, meninggal dunia pada Senin (26/10) sekitar pukul 03.00 WIB. 

Ia meninggal di kediamannya di Kota Semarang setelah mengalami koma selama tujuh tahun.

Kondisi tersebut dialaminya sejak menjadi korban pengeroyokan saat mengamankan bentrokan antarkelompok pesilat di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, pada Mei 2019.

Kabar meninggalnya Kompol Aditia dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Yuliyanto.

“Benar (Kompol Aditia) meninggal hari ini pukul 03.00 WIB. Sejak peristiwa 2019 itu beliau koma,” kata Yuliyanto dalam keterangannya. 

Jenazah AKBP Anumerta Aditia Mulya Ramdhani dimakamkan secara kedinasan di TPU Tegal Binangun, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (26/10) sore.

Lokasi pemakaman tersebut berada di kampung halamannya, Kecamatan Klaten Utara.

Kronologi Kejadian

Peristiwa pengeroyokan terjadi pada Rabu (8/5/2019) malam di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Saat itu, Aditia masih berpangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP).

Saat itu, ia menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Wonogiri.

Aditia sedang bertugas mengamankan tawuran antarkelompok pesilat di Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri, pada malam hari.

Saat melakukan pengamanan, ia mengenakan pakaian preman dan terpisah dari anggota kepolisian lainnya.

Aditia kemudian menjadi korban pengeroyokan hingga mengalami luka serius.

Ia dibawa ke Rumah Sakit Dr Oen Solobaru, Sukoharjo, untuk menjalani perawatan intensif.

Kasubbag Humas Polres Wonogiri saat itu, Iptu Suwondo, membenarkan peristiwa pengeroyokan tersebut pada Kamis (9/5).

“Iya (menjadi korban pengeroyokan). Saat ini beliau (Kasat Reskrim) dirawat intensif di Rumah Sakit Dr Oen Solobaru,” kata Suwondo.

Baca Juga:  Viral! Pria Tendang Kucing hingga Mati di Blora

Menjalani Perawatan Medis di Indonesia hingga Singapura

Setelah menjadi korban pengeroyokan, Aditia menjalani perawatan di ruang ICU Rumah Sakit Dr Oen Solobaru.

Pada Senin (13/5/2019), keluarga membatalkan rencana pemindahan Aditia ke Singapura karena kondisinya dinilai belum cukup stabil untuk melakukan perjalanan.

Pada Rabu (15/5/2019), perwakilan dokter Singapore General Hospital (SGH), dr Yohanes yang bertugas di RS SOS Jakarta, memeriksa kondisi Aditia di ruang ICU RS Dr Oen Solobaru.

Pemeriksaan dilakukan setelah ia menjalani perawatan selama tujuh hari di rumah sakit tersebut.

Pemeriksaan itu turut didampingi Wakapolda Jawa Tengah saat itu, Brigjen Ahmad Luthfi.

Sejumlah pejabat kepolisian lainnya juga hadir dalam kunjungan tersebut.

Setelah menjalani pemeriksaan, Aditia akhirnya diberangkatkan ke Singapura melalui Bandara Adi Soemarmo, Solo, untuk mendapatkan perawatan lanjutan.

Namun, berbagai pengobatan yang dijalaninya belum mampu memulihkan kondisi kesehatannya.

“Udah dilakukan pengobatan di Semarang, Jakarta, Singapura juga, namun tetap dalam kondisi koma,” ujar Yuliyanto.

Setelah kembali dari Singapura, Aditia melanjutkan perawatan di kediamannya di kawasan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Selama menjalani perawatan di rumah, ia menggunakan alat bantu pernapasan dan alat untuk memasukkan nutrisi makanan.

Istrinya, Dewi Setyawati, pernah menjelaskan bahwa suaminya mengalami kerusakan otak yang memengaruhi fungsi saraf motorik.

Pada Februari 2021, keluarga Aditia mengupayakan terapi stem cell melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Islam Sultan Agung, Semarang, sebagai salah satu langkah penanganan kondisi kesehatannya.

Meski telah menjalani berbagai perawatan, kondisi kesehatannya belum menunjukkan pemulihan yang berarti.

Polisi Tetapkan Sejumlah Tersangka Pengeroyokan

Kepolisian melakukan penyelidikan terhadap kasus pengeroyokan yang menimpa mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri tersebut.

Sembilan tersangka awal yang diumumkan polisi pada 29 Mei 2019 berinisial DFR, AP (17), P, ER, AH, HPA, S, A, dan JN.

Baca Juga:  Setiap Pagi lewat Rumah Ferdy Sambo, Bule asal Jerman Ini Sindir Gaya Hidup Pejabat Indonesia bak Raja

Delapan tersangka menjalani penahanan, sedangkan AP tidak ditahan karena masih di bawah umur.

Dalam perkembangan penanganan perkara, jumlah keseluruhan tersangka mencapai 25 orang.

Sebanyak 15 orang ditahan, sementara 10 lainnya tidak ditahan karena masih di bawah umur.

Polisi juga melaporkan penambahan tiga tersangka yang menjalani proses hukum terkait pengeroyokan tersebut.

Berdasarkan keterangan tersangka tambahan, mereka tidak mengetahui bahwa korban merupakan anggota kepolisian.

Para tersangka mengira Aditia merupakan anggota kelompok silat yang sedang mereka cari.

Saat kejadian, korban mengenakan pakaian preman.

Kompol Aditia Dikenang Mantan Anggotanya di Solo

Selain pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Wonogiri, Aditia juga pernah bertugas sebagai Kapolsek Pasar Kliwon, Solo.

Mantan anggotanya, Aiptu Saimun, membenarkan kabar meninggalnya Kompol Aditia pada Senin (26/10).

“Iya kabar ini (meninggalnya Kompol Aditia) sudah saya terima,” ujar Saimun.

Saimun yang kini bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Kelurahan Joyosuran mengenang kepemimpinan Aditia ketika menjabat sebagai Kapolsek Pasar Kliwon.

“Kapolsek baru pertama kali itu ngajak dolan bareng anggota yo Pak Adit ini, luar biasa,” ujarnya.

Menurut Saimun, Aditia membangun hubungan dengan anggotanya melalui kegiatan bersama di luar tugas kepolisian.

“Keren, membangun hubungan enggak cuma anak buah dan pimpinan enggak, dia membentuk suatu keluarga kecillah katakanlah, tidak hanya tugas saja, ya itu,” terangnya.

Saimun juga mengingat keterlibatan Aditia dalam menangani persoalan warga di bantaran sungai kawasan Pasar Kliwon.

Saat itu, sejumlah warga menolak proyek penutupan tanggul. Aditia mendatangi tokoh masyarakat setempat untuk berkomunikasi secara langsung.

“Terus kemudian yo akhirnya hubungan mencair dengan kelompok-kelompok Pak Budi Tato itu,” katanya.

Aditia juga pernah mengajak Saimun berboncengan sepeda motor ketika mendatangi warga untuk melakukan pendekatan sosial.

Baca Juga:  BCA KCP Fatmawati Ramai Dikunjungi Nasabah usai Libur Lebaran

Saimun mengaku sempat bertemu Aditia di Solo sebelum peristiwa pengeroyokan yang menyebabkan mantan atasannya menjalani perawatan panjang.

Polda Jawa Tengah Sampaikan Dukacita

Polda Jawa Tengah menyampaikan dukacita atas meninggalnya mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri tersebut.

Kombes Yuliyanto menyampaikan bahwa institusi kepolisian kehilangan salah satu anggotanya setelah menjalani perawatan sejak 2019.

“Kami dari Polda Jateng merasa kehilangan, semoga beliau husnul khatimah, dan kami berharap tidak ada lagi peristiwa perkelahian massal yang dilakukan oleh perguruan pencak silat yang merugikan pihak di luar perguruan pencak silat maupun pihak perguruan juga,” ujarnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending