Connect with us

Internasional

Hubungan Antarnegara Tidak Baik, Mantan Presiden Israel: Ratu Elizabeth II Sebut Orang Israel Teroris

Ketegangan diplomatik Inggris-Israel, yang dipicu oleh masa lalu kolonial Palestina, diungkap oleh mantan Presiden Israel, Reuven Rivlin.

Actress 1299250

Published

on

Hubungan Antarnegara Tidak Baik, Mantan Presiden Israel Ratu Elizabeth II Sebut Orang Israel Teroris
Hubungan Antarnegara Tidak Baik, Mantan Presiden Israel Ratu Elizabeth II Sebut Orang Israel Teroris. Gambar: vox.com

MPN Indonesia 12 Desember 2024 - Mantan Presiden Israel, Reuven Rivlin, baru-baru ini mengungkapkan ketegangan diplomatik yang terjadi selama pemerintahan mendiang Ratu Elizabeth II.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara gala di London pada Minggu (8/12), yang diadakan untuk memperingati 100 tahun berdirinya Institut Teknologi Technion Haifa.

Hubungan antara Kerajaan Inggris dan Israel disebut mengalami ketegangan politik internasional yang berkepanjangan.

Hubungan Inggris dan Israel

Rivlin, yang menjabat sebagai Presiden Israel dari 2014 hingga 2021, menyatakan bahwa hubungan negaranya dengan Ratu Elizabeth II “agak sulit.”

Dalam pernyataannya, ia mengungkapkan bahwa sang Ratu menganggap orang Israel sebagai “teroris atau anak seorang teroris.”

Hal ini menyebabkan pejabat Israel hampir tidak pernah diundang ke Istana Buckingham, kecuali dalam acara internasional tertentu.

Pernyataan ini diperkuat Rivlin ketika dimintai konfirmasi lebih lanjut.

Ratu Elizabeth II, yang memerintah selama lebih dari 70 tahun hingga wafat pada 2022, tercatat mengunjungi lebih dari 120 negara dan menempuh perjalanan sejauh 1,6 juta kilometer.

Namun, ia tidak pernah mengunjungi Israel sepanjang hidupnya.

Setelah kematiannya, Stuart Polak, presiden kehormatan Conservative Friends of Israel (CFoI), mengungkapkan bahwa Kementerian Luar Negeri Inggris diduga melarang keluarga kerajaan mengunjungi Israel.

Alasan di Balik Ketegangan

Spekulasi mengenai sikap Ratu Elizabeth II terhadap Israel mencuat ke publik.

Salah satu teori menyebut bahwa ketegangan ini berakar pada tindakan kekerasan kelompok bersenjata Zionis terhadap mandat Inggris di Palestina pada 1940-an, sebelum Israel mendeklarasikan kemerdekaannya.

Dalam sebuah kunjungan ke Yordania pada 1984, sang Ratu dilaporkan menunjukkan keprihatinannya terhadap situasi di wilayah tersebut.

Baca Juga:  Jadwal Perebutan Juara 3 Piala Dunia 2026

Ia menyatakan betapa menakutkan ketika melihat pesawat tempur Israel terbang di atas wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Ratu Noor dari Yordania, yang mendampinginya saat itu, menanggapi dengan mengatakan, “Ini mengerikan.”

Selain itu, Ratu Elizabeth II disebut pernah diperlihatkan peta permukiman ilegal Israel di Tepi Barat dan menggambarkannya sebagai “peta yang sangat menyedihkan.”

Hingga 2018, tidak ada anggota keluarga kerajaan Inggris yang secara resmi mengunjungi Israel, sebelum Pangeran William hadir untuk memperingati ulang tahun ke-70 kemerdekaan negara tersebut.

Raja Charles III dan Hubungan Diplomatik yang Berbeda

Reuven Rivlin menyebut bahwa Raja Charles III, yang naik takhta setelah wafatnya Ratu Elizabeth II, memiliki pendekatan yang lebih ramah terhadap Israel.

Charles, yang melakukan kunjungan resmi ke Israel pada Januari 2020 sebagai Pangeran Wales, menyampaikan harapan agar masa depan membawa kebebasan, keadilan, dan kesetaraan bagi rakyat Palestina.

Namun, Raja Charles III juga sempat memicu kontroversi dengan pandangan dan pernyataan terkait Israel.

Pada 2017, sebuah surat yang ditulisnya pada 1986 terungkap.

Dalam surat itu, ia menyebutkan bahwa masuknya orang Yahudi dari Eropa ke Timur Tengah telah menimbulkan “masalah besar.”

Ia juga mempertanyakan apakah seorang presiden Amerika Serikat seharusnya memiliki keberanian untuk menghadapi lobi Yahudi.

Pada Juli 2024, Raja Charles III menegaskan komitmen Inggris terhadap solusi dua negara sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian antara Israel dan Palestina.

Posisi ini mencerminkan kebijakan pemerintah Inggris yang telah lama dipegang.

Hubungan Israel dengan anggota keluarga kerajaan yang lebih muda juga tidak terlepas dari kontroversi.

Pangeran William, pewaris takhta, menyerukan penghentian perang di Jalur Gaza pada Februari lalu.

Pernyataannya disebut mengecewakan pemerintah Israel, meskipun mereka memilih untuk tidak menanggapinya secara terbuka demi menjaga hubungan diplomatik dengan calon raja masa depan.

Baca Juga:  Menlu Arab Saudi Minta Intervensi Dunia Buat Akhiri Genosida Israel di Gaza

Trending