Connect with us

Peristiwa

Keracunan Massal di Sleman, 160 Orang Jadi Korban Akibat Konsumsi Siomai

Keracunan massal terjadi di Sleman, diduga akibat konsumsi siomai dalam hajatan dan arisan. 160 warga mengalami gejala, 3 dirawat intensif.

Actress 1299250

Published

on

Keracunan Massal Di Sleman, 160 Orang Jadi Korban Akibat Konsumsi Siomai
Keracunan Massal di Sleman, 160 Orang Jadi Korban Akibat Konsumsi Siomai. Gambar: Disway Jogja/ Anam AK

MPN Indonesia 12 Februari 2025 - Keracunan massal terjadi di Kabupaten Sleman pada Sabtu (8/2), menimpa 160 orang di dua lokasi berbeda: Dusun Krasakan, Kelurahan Lumbungrejo, Tempel, serta Dusun Sanggrahan, Tlogoadi, Mlati.

Diduga, siomai yang disajikan dalam acara pernikahan dan arisan menjadi penyebab utama kejadian ini.

Ratusan Warga Alami Gejala Keracunan

Dinas Kesehatan Sleman mencatat 36 dari 37 orang yang mengonsumsi siomai mengalami gejala keracunan, seperti mual, muntah, diare, nyeri otot, hingga sesak napas.

Tiga orang di antaranya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Di Dusun Krasakan, acara pernikahan yang dihadiri sekitar 500 orang menjadi salah satu lokasi penyebaran kasus.

Sementara itu, di Dusun Sanggrahan, puluhan warga mulai merasakan gejala setelah menghadiri arisan.

Kedua kelompok korban diketahui mengonsumsi siomai yang berasal dari sumber yang sama.

Atas kejadian ini, Pemerintah Kabupaten Sleman menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) guna mencegah dampak lebih luas.

Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan penyebab utama keracunan massal tersebut.

Produsen Siomai Berikan Klarifikasi

Pipit Rahayu, warga Ngentak, Pondokrejo, Tempel, Sleman, merupakan pembuat siomai yang disajikan di kedua acara tersebut.

Pipit, yang telah menjalankan usaha siomai sejak 2015, menegaskan bahwa proses produksinya mengikuti standar tanpa tambahan bahan pengawet.

Menurutnya, adonan siomai dibuat pada Kamis (6/2) dan disimpan dalam freezer hingga Sabtu pagi sebelum disajikan.

“Saya sudah terbiasa dengan sistem ini, dan sebelumnya tidak pernah ada masalah,” ujarnya.

Dalam proses pembuatannya, Pipit membawa daging dan bumbu yang sudah diracik ke tempat penggilingan di Tempel.

Baca Juga:  Viral! 3 Siswa SD Berprestasi Dipulangkan Paksa Gegara Nunggak Bayar SPP Rp42 Juta

Setelah adonan selesai digiling, ia membawanya pulang, mencampurnya dengan daun bawang serta wortel, lalu dikukus sebelum disajikan.

Selain untuk hajatan pernikahan di Dusun Krasakan dan arisan di Dusun Sanggrahan, Pipit juga menyiapkan siomai untuk bazar di Sumberejo.

Total, ia memproduksi 20 kilogram adonan pada Kamis, sementara untuk bazar dibuat pada Jumat (7/2).

Penyelidikan Masih Berlangsung

Kepolisian masih mendalami kasus ini dengan memeriksa delapan saksi, termasuk penyelenggara hajatan dan penyedia makanan.

Kapolresta Sleman, Kombes Pol Edy Setyanto Erning Wibowo, mengungkapkan bahwa penyelidikan dilakukan oleh Satreskrim Polresta Sleman.

Selain itu, sampel makanan yang dikonsumsi para korban, termasuk siomai yang dibuat Pipit, telah dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) DIY untuk diperiksa lebih lanjut.

Hasil uji laboratorium akan menjadi bukti kunci dalam menentukan penyebab pasti keracunan massal ini.

Permintaan Maaf dari Produsen Siomai

Walaupun belum ada kepastian mengenai penyebab utama keracunan, Pipit Rahayu menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat yang terdampak.

Ia mengaku tidak mengetahui apa yang menyebabkan kejadian ini.

“Saya benar-benar tidak tahu, ini usaha saya, tidak mungkin saya mencelakai orang lain. Saya mohon maaf sebesar-besarnya,” jelasnya.

Trending