Teknologi
Tanggapan AJI tentang Tantangan Jurnalis dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi AI
AJI Indonesia tegaskan AI bukan pengganti jurnalis. Teknologi harus berada di bawah kendali manusia agar jurnalistik tetap etis dan akurat.
MPN Indonesia 14 Mei 2025 - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menegaskan pentingnya peran jurnalis dalam menjaga kendali atas proses jurnalistik di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).
Dalam wawancara yang dilakukan pada Rabu (14/5), Sekretaris Jenderal AJI, Ajijak Bayu Wardhana, menyampaikan bahwa AI seharusnya digunakan untuk mendukung, bukan menggantikan peran manusia dalam kerja jurnalistik.
Pernyataan ini disampaikan menanggapi tantangan yang dihadapi jurnalis Indonesia dalam menyikapi perkembangan teknologi yang semakin mendalam di berbagai sektor, termasuk media.
Ajijak menekankan bahwa jurnalis harus memahami bagaimana kecerdasan buatan bekerja, karena teknologi ini membawa potensi kemudahan sekaligus risiko penyebaran bias dan misinformasi.
“AI itu untuk jurnalistik adalah fungsinya adalah untuk membantu mempermudah kerja-kerja jurnalistik tetapi bukan untuk menggantikan, ya,” ujarnya kepada MPN Indonesia melalui sambungan telepon.
Dalam praktiknya, AI dapat membantu pencarian data statistik atau penyusunan latar belakang berita, namun hasilnya tetap memerlukan verifikasi dan penyuntingan oleh jurnalis manusia.
Menurut AJI, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menempatkan AI pada posisi yang tepat dalam ekosistem kerja media.
Jurnalis harus menyadari bahwa AI tidak sepenuhnya sempurna dan dapat memiliki kecenderungan bias tergantung pada data yang digunakan.
Oleh karena itu, pemahaman tentang cara kerja AI menjadi penting agar teknologi ini tidak menjadi alat yang memperburuk kualitas informasi publik.
Literasi Teknologi dan Etika dalam Praktik Jurnalistik
Ajijak menyoroti pentingnya literasi digital dan penguasaan teknologi bagi para jurnalis.
Ia menekankan bahwa proses jurnalistik yang melibatkan wawancara, verifikasi fakta, dan pemeriksaan silang tetap menjadi ranah kerja manusia.
“Prinsipnya harus meletakkan AI sebagai mendukung kerja kita, mempercepat kerja kita. Jadi prinsipnya harus itu,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa aspek pekerjaan jurnalistik memang bisa tergantikan oleh AI, seperti penyiaran.
Namun, peliputan langsung dan interaksi dengan narasumber masih memerlukan kehadiran manusia.
“Di TV1, misalnya, sudah menggunakan penyiar AI. Tapi tetap perlu ada yang melakukan liputan lapangan supaya penyiar AI itu bisa bicara,” jelasnya.
Ajijak menyatakan bahwa teknologi AI, jika digunakan secara tepat, dapat membantu jurnalis mempercepat produksi konten tanpa mengorbankan kualitas.
Ia mencontohkan, dalam pekerjaan jurnalistik yang menuntut produktivitas tinggi, seperti penulisan berita mendalam (in-depth), AI bisa digunakan untuk menyusun latar belakang informasi, sementara bagian analisis tetap dilakukan oleh jurnalis.
Risiko Bias dan Pentingnya Kendali Manusia
Dalam pandangan AJI, keberadaan AI dalam jurnalistik tidak lepas dari risiko bias karena model AI dibentuk berdasarkan data yang dimasukkan.
Ajijak menyoroti bahwa banyak produk AI yang digunakan di Indonesia berasal dari luar negeri, sehingga membawa kemungkinan bias budaya dan perspektif yang tidak selaras dengan konteks lokal.
“Pasti ada bias. Cara kerja AI tergantung asupan datanya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa AJI tidak setuju dengan praktik jurnalisme otomatis sepenuhnya yang menyerahkan proses penulisan artikel kepada AI tanpa intervensi manusia.
Ia menegaskan bahwa prinsip keberimbangan, verifikasi ganda, dan akurasi masih merupakan elemen utama yang harus dijaga oleh jurnalis.
“Saya atau kami tidak setuju dengan journalism automatic AI karena bagaimanapun itu harus diperiksa ulang oleh manusia untuk melihat kebenaran,” katanya.
Meskipun AI membawa dampak pada pengurangan tenaga kerja di media, seperti penyiar, AJI melihat potensi teknologi ini dalam meningkatkan kualitas jurnalisme asal penggunaannya tetap dalam kendali manusia.
Ajijak mengingatkan bahwa masa depan jurnalisme tidak bergantung pada penolakan teknologi, melainkan pada bagaimana jurnalis menguasai dan mengarahkannya secara etis dan profesional.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
