Connect with us

Teknologi

OpenAI Bangun Pusat Data Raksasa di UEA, Jadi yang Terbesar di Luar AS

OpenAI bangun pusat data raksasa di UEA senilai $20 miliar untuk pengembangan AI global, sebagai bagian dari proyek Stargate bersama mitra internasional.

Logompn

Published

on

Openai bangun pusat data raksasa di uea, jadi yang terbesar di luar as
OpenAI Bangun Pusat Data Raksasa di UEA, Jadi yang Terbesar di Luar AS. Gambar : Reuters/Dado Ruvic

MPN Indonesia 7 Juni 2025 - OpenAI akan membangun pusat data berskala besar di Uni Emirat Arab (UEA) sebagai bagian dari ekspansi global dalam pengembangan kecerdasan buatan.

Fasilitas ini merupakan bagian dari proyek ambisius “Stargate”, yang dikerjakan bersama mitra teknologi global seperti Oracle, Nvidia, SoftBank, Cisco, serta perusahaan AI asal UEA, G42.

Kompleks ini dirancang sebagai pusat komputasi utama untuk mendukung pengembangan AI berskala besar.

Pusat data pertama di UEA dijadwalkan beroperasi mulai 2026, dengan kapasitas awal 200 megawatt dari total satu gigawatt.

OpenAI menyebut nilai investasi awal untuk satu kampus data mencapai $20 miliar, menjadikannya fasilitas AI terbesar di luar Amerika Serikat.

“Setiap dolar yang diinvestasikan oleh G42 dan mitranya di Emirates akan diimbangi dengan investasi yang sama untuk pusat data di Amerika Serikat,” tulis pernyataan OpenAI, seperti dikutip MPN Indonesia dari The New York Times, Rabu (4/6).

Selain itu, pemerintah UEA menunjukkan komitmen tinggi terhadap pengembangan AI.

UEA akan menjadi negara pertama yang menerapkan ChatGPT secara nasional, memberikan akses gratis ChatGPT Plus kepada seluruh warga dan penduduk, layanan yang biasanya berbayar $20 per bulan.

Rincian Proyek Stargate dan Aliansi Strategis Global

Proyek Stargate diluncurkan secara resmi bersama pemerintahan Trump pada Januari lalu.

Selain UEA, proyek ini juga mencakup pembangunan pusat data di Abilene, Texas, dengan potensi investasi hingga $500 miliar, dipimpin oleh OpenAI, SoftBank, dan Oracle.

G42 kini juga terlibat dalam pendanaan proyek tersebut, memperluas jaringan kerja sama ke dua benua.

Baca Juga:  AI Makin Melejit, Pelatihan Mahasiswa Harus Kian Digenjot

Rencana pembangunan infrastruktur AI di Timur Tengah merupakan bagian dari kesepakatan antara AS dan UEA untuk membangun kampus AI di Abu Dhabi dengan kapasitas listrik lima gigawatt, cukup untuk menyuplai seluruh rumah tangga di negara bagian Minnesota.

Namun, belum semua perusahaan yang akan bergabung dalam proyek empat gigawatt tambahan diidentifikasi secara resmi.

CEO OpenAI, Sam Altman, telah lama menyuarakan pentingnya pembangunan pusat data besar secara global. Proyek di UEA ini menandai langkah konkret dari strategi tersebut.

“Ini adalah kesepakatan yang menempatkan teknologi Amerika sebagai standar global,” ujar David Sacks, pejabat Gedung Putih bidang AI dalam pemerintahan Trump, melalui unggahan media sosial.

Polemik Keamanan Nasional di AS

Ekspansi pusat data ke Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran di Washington, terutama terkait potensi risiko terhadap keamanan nasional.

Pemerintahan Trump melihat langkah ini sebagai cara untuk memperkuat dominasi AI Amerika dan mengurangi ketergantungan pada teknologi Tiongkok.

Namun, sejumlah anggota Kongres mempertanyakan arah kebijakan ini. Mereka khawatir kawasan Timur Tengah dapat menjadi pesaing teknologi AI Amerika di masa depan.

“Pertanyaannya adalah: Apakah ini cetak biru dan model yang akan diterapkan AS di Asia, Afrika, dan Eropa?” ujar Pablo Chavez dari Center for a New American Security.

“Apa yang terjadi dengan ‘America First’?” tanya Rep. Ro Khanna dalam wawancara di ABC, menyayangkan proyek ini tidak dibangun di negara bagian seperti Pennsylvania atau Ohio.

Isu lain yang mengemuka adalah belum adanya jaminan pembatasan akses Tiongkok terhadap chip AI.

Kekhawatiran muncul terkait potensi keterlibatan perusahaan seperti Huawei dalam proyek semacam ini.

Meski demikian, OpenAI dan mitranya menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika seperti Nvidia masih memimpin dalam produksi chip AI, jauh di atas pesaing dari Tiongkok.

Baca Juga:  Apakah AI akan Menggantikan Peran Manusia? Ini Pendapat Para Pakar

Ekspansi Infrastruktur AI Global

Pembangunan sistem AI seperti ChatGPT membutuhkan pusat data raksasa dengan ribuan chip komputasi dan konsumsi listrik besar.

OpenAI berencana membangun 5–10 kampus data di Amerika Serikat, masing-masing dengan kapasitas hingga 1,2 gigawatt. Saat ini, kampus di Abilene menjadi yang pertama memulai pembangunan.

Perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Microsoft terus menjajaki lokasi strategis untuk pusat data, mempertimbangkan faktor pendanaan dan pasokan energi di berbagai kawasan, termasuk Eropa, Asia, dan Timur Tengah.

Kolaborasi OpenAI dengan UEA menunjukkan bahwa ekspansi AI kini bergerak ke skala global, melampaui batas nasional dan menjadi bagian dari dinamika geopolitik teknologi.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending