Connect with us

Teknologi

Pria TikTok Ini Temukan Inovasi Ubah Sampah Plastik jadi BBM, Begini Penjelasan BRIN

Seorang pria di TikTok menciptakan bahan bakar alternatif dengan mengubah sampah plastik menjadi BBM alternatif bernama Petasol.

Logompn

Published

on

Pria asal banjarnegara temukan inovasi ubah sampah plastik jadi bbm, begini penjelasan brin
Pria asal Banjarnegara Temukan Inovasi Ubah Sampah Plastik jadi BBM, Begini Penjelasan BRIN | Gambar: TikTok/@khemkorner

Jawa Tengah, MPN Indonesia 10 September 2025 - Seorang pria di TikTok membuat terobosan baru dengan menciptakan bahan bakar alternatif dengan mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif bernama Petasol.

Dalam penjelasannya di akun TikTok @khemkorner, ia menjelaskan bahwa sampah plastik diolah menggunakan mesin yang dia buat khusus untuk mengembangkan teknologi energi terbarukan tersebut.

“Saya sudah menggunakan bahan bakar yang namanya Petasol, nah Petasol itu bahan bakar alternatif dari sampah plastik. Jadi kita mengolah sampah plastik itu di mesin yang kita buat sehingga bisa menjadi bahan bakar yang kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya dalam video, dikutip MPN Indonesia pada Rabu (10/9).

Sebelumnya, ia mengatakan sudah tidak pernah lagi menggunakan bahan bakar yang dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

“Saya sudah mewujudkan kemandirian di bidang energi sejak saya menggunakan Petasol, saya sudah tidak lagi menggunakan pengisian bahan bakar di SPBU dan saya sudah tidak lagi memakai bahan bakar yang disubsidi oleh pemerintah,” jelas pria dengan akun TikTok @khemkorner itu.

Tuai Respons Positif dari Warganet

Dalam video lain, ia menunjukkan ketika mobil model Innova miliknya sedang diisi bahan bakar menggunakan Petasol.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya sudah menggunakan bahan bakar alternatif tersebut setiap hari.

“Kita memproduksi mesinnya, kita melakukan penelitian terhadap bahan si Petasol itu, kita melakukan penelitian terhadap sampah plastik itu, dan ini hasilnya Petasol. Saya sudah gunakan setiap hari Petasol,” jelasnya.

Atas inovasi tersebut, TikTok @khemkorner pun mendapat respons positif dari sejumlah warganet.

Baca Juga:  Viral! SPBU di Klaten Diduga Campur BBM dengan Air

Banyak yang menyebut terobosan pria itu bisa menjadi solusi dalam mengurangi sampah plastik dan membuka peluang pekerjaan baru.

“Mengurangi sampah plastik, menambah lowongan pekerjaan bisa ini,” tulis salah satu akun dalam kolom komentar.

“Ini solusi biar ga ada sampah plastik, tapi gimana ya pengelolaan sampah aja Indonesia gagal padahal udah 80 tahun merdeka ga ada undang-undang yg tegas mengatasi sampah,” tulis warganet lain.

Inovasi Serupa di Banjarnegara

Seorang warga Banjarnegara, Jawa Tengah, juga berhasil mengembangkan teknologi serupa pada Mei 2025 lalu.

Inovasi ini berasal dari upaya komunitas Bank Sampah Banjarnegara (BSB), yang dipimpin oleh Endi Rudianto dan didirikan oleh Budi Trisno Aji.

Petasol tersebut diproduksi menggunakan teknologi fast pyrolysis 5.0 (Faspol 5.0), yaitu metode pembakaran kantong kresek bekas yang menghasilkan cairan, lalu dimurnikan menggunakan katalis khusus.

Mesin pengolah milik BSB memiliki kapasitas 200 kilogram bahan baku dan mampu menghasilkan 170 hingga 180 liter Petasol.

“Sebagai gambaran, sampah kering bersih dapat menghasilkan 95 persen. Namun, untuk rata-rata sampah kering dan basah menghasilkan 70 hingga 80 persen,” kata Endi dikutip MPN Indonesia dari laman resmi BRIN.

Sejak digunakan secara mandiri oleh Endi, ia tidak lagi membeli BBM dari SPBU.

BRIN sendiri telah terlibat sejak 2022 untuk melakukan uji laboratorium terhadap kualitas Petasol, termasuk uji termodinamika kendaraan.

BRIN Sebut Petasol Layak Dikembangkan

BRIN yang terlibat dalam pengembangan Petasol oleh BSB menilai bahwa bahan bakar alternatif ini memiliki nilai ekonomi dari sampah plastik yang dikelola.

Peneliti BRIN, Tri Martini, menjelaskan bahwa biaya produksi Petasol sekitar Rp6.160 per liter, dengan harga jual yang direkomendasikan sebesar Rp9.700 per liter bisa menghasilkan keuntungan baik bagi pengelola maupun masyarakat.

Baca Juga:  Mahasiswi Bunuh Diri di Jembatan Jurug Solo, Tinggalkan Surat Wasiat

“Sehingga diperoleh keuntungan Rp3.540 per liter. Keuntungan yang diperoleh dapat dibagi dua, yaitu untuk pengelola BSB dan masyarakat,” ujarnya.

Analisis ekonomi dari BRIN juga menunjukkan bahwa investasi mesin berkapasitas 50–100 liter dapat kembali dalam waktu sekitar 1,5 tahun.

“Benefit cost ratio sudah di atas satu dengan revenue cost ratio di atas dua, yang artinya aktivitas ini menguntungkan dan layak untuk dikembangkan,” kata Tri.

Tri juga menekankan pentingnya replikasi teknologi ini ke wilayah pedesaan untuk menunjang kebutuhan energi nelayan dan petani.

Menurutnya, keberhasilan replikasi ini berpotensi menciptakan kemandirian energi dan mendukung kemandirian pangan di Indonesia.

“Kondisi ini jika terus berlanjut, dapat menciptakan kemandirian energi di pedesaan yang ujungnya mendukung kemandirian pangan sebagai cita-cita kita semua,” ungkapnya.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending