Connect with us

Berita

Gunung Merapi Erupsi, Luncurkan Awan Panas 2 Km ke Kali Boyong

Gunung Merapi erupsi lagi dengan awan panas dan letusan mendadak setinggi 6.000 meter pada 3 Oktober 2025.

Logompn

Published

on

Gunung merapi erupsi, luncurkan awan panas 2 km ke kali boyong
Gunung Merapi Erupsi. Gambar: X/@volcaholic1

MPN Indonesia 3 Oktober 2025 - Gunung Merapi menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dalam dua hari terakhir, dengan terjadinya guguran awan panas dan letusan secara tiba-tiba.

Aktivitas ini tercatat pada Kamis (2/10) dan Jumat pagi (3/10), berdasarkan laporan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dan Pos Pengamatan Gunung Merapi Ngepos.

Aktivitas Gunung pada Kamis

Dalam periode pengamatan Kamis (2/10) pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan.

Tercatat satu kali awan panas guguran meluncur sejauh 2.500 meter ke arah Kali Boyong.

Selain itu, gunung api ini juga mengeluarkan 27 kali guguran lava pijar yang mengarah ke Kali Krasak, Kali Bebeng, serta Kali Sat/Putih, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter.

Visual Gunung Merapi selama periode tersebut umumnya tampak jelas, meski sempat tertutup kabut.

Asap kawah berwarna putih dengan intensitas tebal teramati setinggi 50 meter dari puncak gunung.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya.

“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung dan dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya,” ujar Agus Budi Santoso dalam keterangan resmi pada Jumat (3/10).

Dari sisi kegempaan, BPPTKG mencatat:

  • 1 kali gempa awan panas guguran
  • 100 kali gempa guguran, dengan amplitudo 2–35 mm dan durasi 20–178 detik
  • 118 kali gempa hybrid dengan amplitudo 2–26 mm

Letusan Pagi Ini

Letusan terjadi mendadak pada pukul 08.20 WIB, Jumat (3/10), dan teramati dari Pos Pengamatan Ngepos, Desa Ngablak, Srumbung, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Baca Juga:  10 Rekomendasi Tempat Wisata di Yogyakarta, Wajib Kamu Kunjungi saat Libur Lebaran

Menurut Purwoto, petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Ngepos, letusan disertai suara gemuruh yang berlangsung selama dua menit.

Data yang tercatat menunjukkan amplitudo maksimum gempa letusan mencapai 77 milimeter pada seismograf dan kolom abu setinggi 6.000 meter mengarah ke barat, berwarna putih keabu-abuan dengan tekstur tebal.

Purwoto menyatakan bahwa sebelum letusan tidak terdeteksi adanya peningkatan suhu atau aktivitas kegempaan yang mencolok.

“Hingga pagi ini peningkatan suhu relatif sama seperti kemarin. Tanda awal tidak ada. Untuk gempa juga tidak ada,” ujarnya, dikutip MPN Indonesia dari laman resmi Kabupaten Magelang, Jumat (3/10)

Dampak Letusan terhadap Warga Sekitar

Akibat letusan tersebut, warga dalam radius hingga 15 kilometer dari puncak Gunung Merapi dilaporkan keluar rumah dan berkumpul di beberapa titik guna mengantisipasi situasi lebih lanjut.

Laporan dari BPBD Kabupaten Magelang menyebutkan bahwa hujan abu tipis berdampak pada tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Sawangan, Kecamatan Pakis, Kecamatan Ngablak

Sementara itu, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.

Zona bahaya Gunung Merapi ditetapkan meliputi dua sektor utama.

Pada sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya mencakup aliran Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng dengan jarak ancaman hingga 7 kilometer.

Sementara itu, di sektor tenggara, area rawan meliputi Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol dengan potensi bahaya mencapai 5 kilometer dari puncak.

Untuk wilayah pengamatan Ngepos, status tetap berada pada level waspada dengan zona bahaya sejauh 3 km dari puncak.

BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas di dalam area potensi bahaya dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas maupun lahar, terutama saat hujan turun di sekitar Gunung Merapi.

Baca Juga:  Status Gunung Anak Krakatau Hari Ini 7 September 2026, Cek di Sini

Masyarakat juga diminta untuk mengantisipasi dampak hujan abu yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending