Connect with us

Berita

Badai PHK Diprediksi Masih Berlanjut hingga 2026, Simak Bocorannya!

WEF memproyeksikan gelombang PHK berlanjut hingga 2030 akibat perkembangan AI dan ketidakpastian ekonomi global. Perusahaan mulai otomatisasi dan reskilling besar-besaran.

Logompn

Published

on

Badai phk diprediksi masih berlanjut hingga 2026, simak bocorannya!
Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 9 Desember 2025 - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang berlangsung sepanjang 2025 diperkirakan akan terus berlanjut hingga 2026, bahkan sampai 2030.

Proyeksi ini disampaikan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) melalui laporan Future of Jobs Report.

Fenomena ini didorong oleh dua faktor utama, yaitu meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Menurut survei terbaru WEF, sebanyak 41% perusahaan di seluruh dunia berencana melakukan pengurangan karyawan secara signifikan hingga 2030.

Hal tersebut terjadi karena semakin banyak pekerjaan yang dapat diotomatisasi dan digantikan oleh teknologi, terutama AI.

Laporan yang sama juga menyebut bahwa perusahaan besar mulai mengadaptasi strategi menghadapi disrupsi teknologi.

Dari ratusan perusahaan yang disurvei secara global, sebanyak 77% menyatakan akan melatih ulang dan meningkatkan keterampilan pekerjanya pada periode 2025-2030 agar mampu bekerja bersama AI.

Disrupsi Teknologi Ubah Kebutuhan Tenaga Kerja

WEF menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, khususnya AI dan energi terbarukan, kini membentuk ulang pasar tenaga kerja.

“Perkembangan AI dan energi terbarukan tengah membentuk ulang pasar tenaga kerja, mendorong meningkatnya permintaan untuk banyak peran teknologi atau spesialis, sekaligus menurunkan kebutuhan untuk pekerjaan lain, seperti desainer grafis,” kata WEF dikutip MPN Indonesia dari CNN International.

Saadia Zahidi, Managing Director WEF, juga menyoroti peran AI generatif yang berpotensi mengubah struktur tugas di berbagai sektor industri.

Teknologi ini mampu menciptakan teks, gambar, hingga konten orisinal sebagai respons atas perintah pengguna.

Ia menyebut bahwa pekerjaan seperti petugas layanan pos, sekretaris eksekutif, dan petugas penggajian diperkirakan akan mengalami penurunan paling signifikan dalam waktu dekat akibat penetrasi AI maupun faktor lainnya.

Baca Juga:  Pemerintahan AS Shutdown, 750 Ribu PNS Terancam Kena PHK

Masuknya profesi seperti desainer grafis dan sekretaris hukum ke daftar sepuluh besar pekerjaan yang paling cepat menurun, menurut laporan WEF, menunjukkan kapasitas AI generatif (GenAI) dalam menggantikan pekerjaan berbasis pengetahuan.

“Masuknya desainer grafis dan sekretaris hukum ke daftar sepuluh besar pekerjaan yang paling cepat menurun untuk pertama kalinya dalam sejarah laporan Future of Jobs mungkin menggambarkan meningkatnya kapasitas GenAI dalam mengerjakan pekerjaan berbasis pengetahuan,” tulis laporan tersebut.

Permintaan Pekerja dengan Keahlian AI Meningkat

Di tengah risiko PHK akibat otomatisasi, keterampilan berbasis AI justru semakin dicari.

Sekitar 70% perusahaan dalam survei tahun lalu menyatakan akan merekrut pekerja yang mampu merancang alat serta mengembangkan teknologi AI.

Sementara itu, 62% perusahaan mengaku akan menambah karyawan dengan kemampuan bekerja berdampingan bersama AI.

Walaupun laporan WEF menyinggung potensi kolaborasi manusia dan mesin sebagai aspek positif perkembangan teknologi, realitasnya sejumlah perusahaan telah melakukan PHK karena penggunaan AI.

Perusahaan seperti Dropbox dan Duolingo secara terbuka menyebut bahwa keputusan pemutusan hubungan kerja yang mereka lakukan dipengaruhi oleh adopsi teknologi kecerdasan buatan.

(AKM/NID/RAD)

Trending