Connect with us

Teknologi

Google Kembangkan Pusat Data Tenaga Surya di Orbit, Mulai Uji Coba 2027

Google mengumumkan rencana peluncuran pusat data berbasis tenaga surya di orbit Bumi pada 2027 melalui proyek bertajuk Project Suncatcher.

Logompn

Published

on

Google kembangkan pusat data tenaga surya di orbit, mulai uji coba 2027
Google Kembangkan Pusat Data Tenaga Surya di Orbit | Gambar: South China Morning Post

MPN Indonesia 10 Desember 2025 - Google, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, mengumumkan rencana peluncuran pusat data berbasis tenaga surya di orbit Bumi pada 2027 melalui proyek bertajuk Project Suncatcher.

CEO Google, Sundar Pichai, dalam wawancara dengan Fox News menyatakan bahwa pusat data bertenaga surya di luar angkasa menawarkan solusi efisien untuk memenuhi kebutuhan energi skala besar.

“Salah satu target besar kami adalah bagaimana suatu hari nanti kita bisa memiliki pusat data di luar angkasa agar kita bisa memanfaatkan energi matahari yang jumlahnya 100 triliun kali lebih besar dari seluruh energi yang dihasilkan di Bumi saat ini,” katanya dikutip MPN Indonesia pada Rabu (10/12).

Bakal Gandeng Planet dalam Uji Coba

Uji coba ditargetkan pada 2027 dengan menggunakan dua satelit prototipe hasil kerja sama Google dengan perusahaan citra satelit, Planet.

Menurut Pichai, proyek ini akan menjadi standar industri dalam satu dekade karena pendekatan tersebut dinilai lebih efisien pada skala besar seiring dengan lonjakan konsumsi energi dari sistem kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat.

“Namun bagi saya tidak ada keraguan bahwa dalam satu dekade atau lebih, kita akan melihatnya sebagai cara yang lebih normal untuk membangun data center,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pichai menilai pasokan energi matahari di luar angkasa sangat stabil karena bebas dari cuaca dan siklus siang-malam.

Data Centre Orbit Dinilai Lebih Hemat Energi

Proyek ini dilatarbelakangi oleh temuan Laboratorium Nasional Lawrence Berkeley pada 2024 yang menunjukkan bahwa pusat data di Amerika Serikat mengonsumsi lebih dari 4% pasokan listrik nasional, dengan proyeksi kenaikan menjadi 12% pada 2028 jika tidak ada solusi signifikan.

Baca Juga:  Google Luncurkan Pixel 10, HP Pertama di Dunia yang Bisa Akses WhatsApp lewat Koneksi Satelit

Kondisi ini memicu penolakan masyarakat terhadap pembangunan pusat data baru di berbagai wilayah.

Google menyebut bahwa pusat data berbasis orbit akan menggunakan jaringan satelit kecil, masing-masing dilengkapi dengan Tensor Processing Unit (TPU), untuk mendukung operasional sistem AI.

Satelit-satelit tersebut akan terhubung melalui komunikasi optik berkecepatan tinggi, membentuk satu sistem komputasi besar terdistribusi.

Energi diperoleh dari panel surya orbit yang memiliki produktivitas hingga delapan kali lipat lebih tinggi dibandingkan panel di Bumi.

Google sudah merilis makalah teknis awal terkait rancangan arsitektur sistem ini, termasuk metode komunikasi antar-satelit dan distribusi beban kerja.

Dalam jangka panjang, perusahaan menargetkan skala operasi dapat mencapai kapasitas gigawatt, melampaui kemampuan pusat data terrestrial saat ini.

Selain efisiensi energi, pusat data orbit tidak memerlukan lahan atau sistem pendingin seperti pusat data tradisional.

Namun, proyek ini masih menghadapi tantangan teknis seperti sistem pendinginan di ruang hampa dan ketahanan chip terhadap radiasi.

Google menyebut bahwa chip TPU generasi Trilium mampu bertahan terhadap radiasi selama lima tahun misi di orbit.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending