Otomotif
Penjualan Mobil Listrik 2026 Diprediksi Melambat usai Insentif Pemerintah Dihentikan
Penjualan mobil listrik 2026 diperkirakan melambat setelah insentif pemerintah berakhir. Pakar menilai pasar akan bergeser ke BEV lokal dan hybrid.
MPN Indonesia 30 Desember 2025 - Penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) pada 2026 diperkirakan menghadapi tantangan lebih besar setelah sejumlah insentif pemerintah berakhir pada akhir 2025.
Penghentian insentif tersebut berpotensi memperlambat laju pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional dibandingkan tahun sebelumnya, terutama pada segmen kendaraan impor.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai insentif impor mobil listrik dan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang berakhir pada Rabu (31/12) selama ini berperan besar dalam mendorong minat beli konsumen kelas menengah.
Dengan dihentikannya kebijakan tersebut, penjualan mobil listrik pada 2026 diperkirakan tidak seagresif tahun 2025.
“Tahun 2026 tampaknya laju pertumbuhan total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat dibandingkan tahun 2025, akibat hilangnya insentif impor BEV. Pertumbuhan kelak akan digerakkan oleh BEV rakitan lokal,” kata Yannes saat dihubungi, Senin (22/12), dikutip MPN Indonesia dari CNNIndonesia.com, Rabu (24/12).
Dampak Berakhirnya Insentif terhadap Pasar BEV
Yannes menjelaskan bahwa penghentian insentif akan berdampak langsung pada daya beli konsumen kelas menengah yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan pasar mobil listrik.
Kondisi ekonomi yang masih menantang dinilai memperkuat dampak tersebut terhadap penjualan pada 2026.
“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai perlambatan tersebut tidak berarti melemahkan pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan.
Arah pertumbuhan diperkirakan akan bergeser dari kendaraan listrik impor ke produk BEV yang dirakit secara lokal, seiring berakhirnya insentif impor yang selama ini menjadi pendorong utama permintaan.
Kinerja Penjualan Kendaraan Listrik Sepanjang 2025
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil berbasis baterai di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang 2025.
Pada periode Januari hingga November 2025, penjualan mobil listrik secara wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer tercatat sebanyak 82.525 unit.
Jumlah tersebut meningkat 113 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Data ini mencerminkan kuatnya permintaan pasar selama insentif masih berlaku dan menegaskan besarnya pengaruh kebijakan pemerintah terhadap percepatan adopsi kendaraan listrik di dalam negeri.
Selain BEV, Gaikindo juga mencatat lonjakan tajam pada segmen plug-in hybrid electric vehicle (PHEV).
Selama Januari hingga November 2025, distribusi mobil PHEV mencapai 4.312 unit atau meningkat 3.217 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat 130 unit.
Pada Januari-Desember 2024, distribusi PHEV tercatat sebanyak 136 unit.
Segmen Hybrid dan Pergeseran Preferensi Konsumen
Pertumbuhan juga terjadi pada segmen hybrid electric vehicle (HEV), meskipun tidak setinggi BEV dan PHEV.
Sepanjang Januari hingga November 2025, permintaan mobil hybrid tercatat sebanyak 57.311 unit, naik enam persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 53.986 unit.
Sementara itu, distribusi mobil hybrid sepanjang 2024 tercatat sebesar 59.903 unit.
Yannes menilai segmen HEV berpotensi menjadi penopang utama pasar kendaraan elektrifikasi setelah insentif mobil listrik impor dihentikan.
Karakteristik HEV yang tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.
“Sedangkan segmentasi HEV akan sangat subur, akibat konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven, karena HEV menawarkan efisiensi BBM, range anxiety nol,” ucap dia.
Peran Infrastruktur dan Layanan Purnajual
Selain faktor harga, Yannes juga menyoroti peran jaringan purnajual dalam menjaga daya tarik segmen hybrid, khususnya untuk produk merek Jepang.
Dukungan layanan purnajual dari agen pemegang merek dinilai menjadi pertimbangan penting dalam keputusan pembelian konsumen.
“Khusus untuk HEV Jepang akan lebih solid sales-nya karena didukung oleh after-sales yang solid dari APM-nya,” pungkas Yannes.
Dengan berakhirnya insentif pemerintah, pasar kendaraan elektrifikasi pada 2026 diperkirakan akan bergerak lebih selektif.
Preferensi konsumen cenderung bergeser ke segmen yang dinilai lebih aman dan praktis, seiring kombinasi faktor ekonomi, kesiapan infrastruktur, serta kebijakan pemerintah yang berlaku setelah insentif dihentikan.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
