Politik
Singgung Sikap PBB soal Penangkapan Maduro, Purbaya: Hukum Dunia Agak Aneh
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik lemahnya respons PBB atas operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan dampaknya bagi Indonesia.
MPN Indonesia 7 Januari 2026 - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti lemahnya respons Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap operasi militer Amerika Serikat (AS) yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Kritik tersebut disampaikan menyusul serangan militer AS ke wilayah Venezuela yang menargetkan pemimpin negara berdaulat tanpa sanksi atau pengawasan internasional yang jelas.
“Hukum dunia agak aneh sekarang. Jadi kalau kita lihat negara bisa nyerang negara lain yang berdaulat, dan seperti bisa get away dari pengawasan PBB. Jadi PBB-nya amat lemah sekarang,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/1).
Penangkapan Nicolas Maduro terjadi pada Sabtu (3/1) dini hari di Caracas melalui operasi militer pasukan Delta Force AS.
Setelah dinyatakan sebagai pemimpin yang tidak sah oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, langsung dibawa ke Amerika Serikat.
Dampak Konflik bagi Indonesia
Purbaya menyebut konflik tersebut mencerminkan dinamika hukum internasional yang mengkhawatirkan.
Meski demikian, ia menilai dampaknya terhadap Indonesia masih terbatas karena faktor jarak geografis serta peran Venezuela yang sudah lama tidak signifikan di pasar minyak global.
“Venezuela udah lama nggak terlalu aktif di pasar minyak dunia juga kan, terbatas ininya, kapasitas produksinya,” jelasnya.
Ia menegaskan Indonesia tetap perlu menjaga kekuatan nasional di tengah ketidakpastian global.
“Itu kan jauh dari negara kita. Jadi gini… artinya kita mesti selalu menjaga kekuatan kita, gitu aja,” lanjutnya.
Purbaya juga memastikan tidak ada dampak negatif langsung terhadap perekonomian nasional.
Menurutnya, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) justru menunjukkan tren positif.
“Agak aneh sebenarnya, tapi itu yang dilihat pasar,” ucapnya.
Operasi Militer AS di Venezuela
Serangan militer AS ke Venezuela dipimpin langsung oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Selain menangkap Maduro, militer AS melancarkan serangan udara presisi ke sejumlah titik strategis, termasuk Caracas, Negara Bagian Miranda, La Guaira, dan Aragua.
Donald Trump menuding Maduro sebagai tokoh utama jaringan narkoba Cartel de los Soles yang diduga menyelundupkan ribuan ton kokain ke AS dengan bantuan kelompok gerilya Kolombia.
Tuduhan tersebut merujuk pada dakwaan Departemen Kehakiman AS sejak 2020.
Donald Trump juga menyebut Maduro bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat penggunaan narkoba ilegal.
Sejak September 2025, AS dilaporkan telah melancarkan lebih dari 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba di kawasan Karibia dan Pasifik, dengan korban lebih dari 100 orang.
Sejumlah ahli hukum menilai langkah AS berpotensi melanggar hukum internasional dan hukum domestik negara tersebut.
Kerja Sama Indonesia-Venezuela
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan konflik tersebut belum berdampak nyata terhadap Indonesia, khususnya terkait harga minyak dunia.
“Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor, kalau satu dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah, kan masih sekitar 63 dolar AS per barel,” ungkap Airlangga dalam keterangannya pada Senin (5/1).
Terkait hubungan bilateral, Airlangga menyebut adanya kemungkinan perubahan nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Venezuela.
“Ya tentunya ada perubahan ya dengan perubahan yang terjadi kemarin itu karena pemerintahannya kan berganti,” katanya.
Ambisi AS atas Industri Minyak Venezuela
Pasca penangkapan Maduro, Trump secara terbuka menyampaikan niat AS untuk mengambil alih industri minyak Venezuela.
Ia menyatakan perusahaan-perusahaan besar AS akan mengucurkan investasi miliaran dolar guna membangun kembali infrastruktur energi negara tersebut.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” pungkas Donald Trump.
Chevron, satu-satunya perusahaan minyak asal AS yang masih beroperasi di Venezuela, diketahui mengekspor sekitar 140 ribu barel minyak per hari pada kuartal keempat 2025.
Berdasarkan data OPEC 2025, Venezuela memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 303,22 miliar barel atau hampir seperlima dari total cadangan minyak dunia.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
