Connect with us

Internasional

Yoweri Museveni jadi Presiden Uganda yang Ketujuh Kali

Yoweri Museveni kembali memenangkan pemilu Uganda dengan 71,65 persen suara di tengah tuduhan represi, intimidasi oposisi, dan pemadaman internet nasional.

Logompn

Published

on

Yoweri museveni jadi presiden uganda yang ketujuh kali
Yoweri Museveni jadi Presiden Uganda yang Ketujuh Kali. Gambar: Reuters/Abubaker Lubowa

MPN Indonesia 20 Januari 2026 - Yoweri Museveni kembali memenangkan pemilihan umum Uganda dan resmi menjabat sebagai presiden untuk masa jabatan ketujuh.

Hasil resmi tersebut diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum Uganda pada Sabtu (17/1).

Pemilu yang digelar Kamis (15/1) itu berlangsung di tengah situasi tegang, dengan tuduhan kecurangan, intimidasi terhadap oposisi, serta pemadaman internet secara nasional.

Museveni, yang kini berusia 81 tahun, meraih 71,65 persen suara, mengalahkan pesaing utamanya, Bobi Wine, yang memperoleh 24,72 persen suara.

Sorotan Internasional dan Tuduhan Represi

Pemilu Uganda kali ini berada di bawah pengawasan ketat komunitas internasional.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggambarkan proses kampanye sebagai tahapan yang dipenuhi dengan “represi dan intimidasi yang meluas,” termasuk pembubaran rapat umum oposisi oleh aparat keamanan.

Ketegangan semakin meningkat ketika Bobi Wine, yang bernama asli Robert Kyagulanyi, menuding adanya kecurangan besar-besaran dan menyebut situasi tersebut sebagai “penggelembungan suara secara masif.”

Museveni, yang telah memimpin Uganda sejak 1986, kembali menghadapi kritik atas tindakan represif terhadap kelompok oposisi.

Pengakuan Bobi Wine dan Respons Aparat

Bobi Wine melaporkan bahwa pasukan keamanan menggerebek rumahnya pada malam sebelum pengumuman hasil pemilu, sehingga ia terpaksa melarikan diri.

“Saya ingin menegaskan bahwa saya berhasil melarikan diri dari mereka. Saat ini, saya tidak berada di rumah, meskipun istri dan anggota keluarga saya lainnya masih berada di bawah tahanan rumah,” tulis Wine melalui platform X pribadinya @HEBobiwine pada Sabtu (17/1), dikutip MPN Indonesia pada Selasa (20/1).

Baca Juga:  Kamboja Tuding Thailand Picu Ketegangan dengan Batasi Akses Perbatasan

Polisi Uganda membantah melakukan penggerebekan, namun mengakui telah membatasi akses ke wilayah tersebut dengan alasan keamanan.

“Kami tidak serta-merta melarang orang mengaksesnya, tetapi kami tidak bisa menoleransi penggunaan kediamannya untuk berkumpul dan … menghasut kekerasan,” ujar juru bicara polisi Kituuma Rusoke.

Pemilu di Tengah Intimidasi dan Pemadaman Internet

Pengamat dari Uni Afrika dan organisasi regional menyatakan tidak menemukan bukti penggelembungan suara, namun mencatat banyak laporan intimidasi, penangkapan, dan penculikan yang menargetkan oposisi serta masyarakat sipil.

“Hal ini menimbulkan rasa takut dan mengikis kepercayaan publik terhadap proses pemilu,” kata mantan presiden Nigeria Goodluck Jonathan.

Ia juga menilai pemadaman internet menghambat pemantauan pemilu secara efektif dan “meningkatkan kecurigaan.”

Pasca-pemilu, situasi keamanan di ibu kota Kampala diperketat untuk mengantisipasi aksi protes.

Kekerasan dan Kendala Teknis Pemilu

Insiden kekerasan dilaporkan terjadi selama masa kampanye dan setelah pemilu. Sedikitnya satu orang tewas dan ratusan pendukung oposisi ditangkap.

Di wilayah Butambala, sekitar 55 kilometer dari Kampala, oposisi melaporkan sedikitnya 10 orang tewas akibat serangan polisi di rumah seorang anggota parlemen.

Namun, otoritas menyatakan jumlah korban sebanyak tujuh orang dan menuding kelompok oposisi bersenjata parang menyerang kantor polisi serta pusat penghitungan suara.

Selain isu keamanan, Komisi Pemilihan Umum juga menuai kritik akibat kegagalan mesin identifikasi pemilih biometrik pada hari pemungutan suara.

Gangguan ini menyebabkan keterlambatan di wilayah perkotaan seperti Kampala, yang dikenal sebagai basis kuat oposisi.

Akibatnya, petugas menggunakan daftar pemilih manual, yang kemudian memicu kritik dari aktivis pro-demokrasi dan berpotensi menjadi dasar gugatan hukum terhadap hasil pemilu.

Dukungan dan Kritik Terhadap Museveni

Selama masa kepemimpinannya, Museveni telah dua kali mengubah konstitusi untuk menghapus batas usia dan masa jabatan presiden.

Baca Juga:  Belgia akan Akui Negara Palestina di Sidang Majelis Umum PBB

Partainya, National Resistance Movement, juga unggul signifikan dalam perolehan kursi parlemen berdasarkan hasil sementara, meskipun penghitungan suara masih berlangsung.

Di tengah kritik luas, sebagian warga Uganda tetap menyatakan dukungan terhadap Museveni.

Seorang guru berusia 37 tahun, Isaac Kamba, mengungkapkan kegembiraannya dalam rapat umum pendukung pemerintah di Kampala.

“Saya benar-benar sangat senang melihat dia menang. Kemenangan ini datang karena kerja keras, dedikasi, dan komitmennya kepada rakyat Uganda,” pungkasnya kepada AFP.

Meski demikian, suasana rapat umum tersebut dilaporkan tidak terlalu meriah, bahkan seorang pemandu acara meminta massa untuk lebih bersemangat agar mendapatkan makanan gratis.

(ADN/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending