Connect with us

Internasional

Peru Putus Hubungan Diplomatik dengan Iran di Tengah Konflik Timur Tengah

Peru memutus hubungan diplomatik dengan Iran di tengah konflik Timur Tengah dan gangguan perdagangan internasional melalui Selat Hormuz.

Logompn

Published

on

Peru Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Iran, Gangguan Perdagangan Internasional
Menteri Luar Negeri Peru Carlos Espa memberi isyarat saat upacara penyerahan jabatannya di gedung Kementerian Luar Negeri di Lima. Gambar: Dok. Asharq Al-Awsat

MPN Indonesia 3 September 2026 - Pemerintah Peru memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah pada Selasa (1/9).

Keputusan itu diumumkan Kementerian Luar Negeri Peru dengan alasan komitmen terhadap perdamaian, hukum internasional, dan demokrasi.

“Peru telah mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Republik Islam Iran,” kata Kementerian Luar Negeri Peru, dikutip MPN Indonesia dari Asharq Al-Awsat pada Kamis (3/9).

Pemerintah Peru menyatakan keputusan tersebut diambil berdasarkan sikap pasifis yang telah lama dianut negara itu.

Selain memutus hubungan diplomatik, Peru tetap mempertahankan hubungan konsuler untuk melindungi kepentingan dan warga negara kedua pihak sesuai ketentuan Konvensi Wina.

Keputusan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah Iran melalui nota diplomatik.

Dokumen itu dikirim melalui Kedutaan Besar Iran di Ekuador yang juga menangani hubungan diplomatik dengan Peru.

Gangguan Perdagangan Internasional dan Situasi di Iran

Pada pernyataannya, pemerintah Peru menyampaikan sejumlah alasan yang menjadi dasar pemutusan hubungan diplomatik.

Selain kondisi keamanan kawasan, Peru juga mengungkapkan keprihatinan terhadap perkembangan di dalam negeri Iran.

Poin-poin yang disampaikan pemerintah Peru, yaitu keprihatinan terhadap kemerosotan nilai-nilai demokrasi di Iran, penindasan terhadap demonstrasi damai, pembatasan kebebasan pers.

Adapun disampaikan diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan, penganiayaan terhadap lawan politik, dan gangguan terhadap perdagangan internasional melalui Selat Hormuz sejak Maret.

Penolakan terhadap tindakan yang dinilai memicu kekerasan dan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Keberatan atas tindakan yang disebut menghambat pekerjaan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Kementerian Luar Negeri Peru juga menyatakan keprihatinan terhadap pembatasan yang diberlakukan pemerintah Iran.

Baca Juga:  Ratusan Warga AS Demo Trump, Protes soal Serangan Udara di Iran

“Peru memandang dengan keprihatinan mendalam soal pembatasan ketat yang diberlakukan oleh rezim Iran, serta gangguan perdagangan internasional melalui Selat Hormuz,” jelasnya.

Pemerintah Peru menilai gangguan pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga energi serta rantai pasok global.

Jalur pelayaran itu menjadi perhatian karena aktivitas maritim di kawasan mengalami gangguan di tengah meningkatnya konflik.

Ketegangan Timur Tengah Meningkat

Keputusan Peru diambil ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.

Situasi tersebut berkembang setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya telah menyelesaikan gelombang serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran pada Rabu (2/9).

“Pasukan AS menyerang target-target Korps Garda Revolusi Islam (Iran), termasuk lokasi pertahanan udara, sistem radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan penebaran ranjau, dan lokasi komunikasi,” kata CENTCOM melalui pernyataan di media sosial X.

CENTCOM menyebut operasi tersebut respons dari dugaan upaya serangan IRGC terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz serta personel militer Amerika Serikat yang bertugas.

Sementara itu, laporan televisi pemerintah Iran menyebut rentetan ledakan terdengar di sekitar Pulau Qeshm dan wilayah dekat Selat Hormuz.

Menurut laporan tersebut, lebih dari lima ledakan terdengar di dekat Desa Mesen di Pulau Qeshm, sedangkan empat ledakan lainnya berasal dari arah Selat Hormuz.

Politik Internasional dan Langkah Pemerintah Peru

Keputusan ini juga berlangsung setelah Presiden Peru Keiko Fujimori mulai menjalankan pemerintahan barunya.

Beberapa hari setelah dilantik pada 28 Juli, Fujimori menyatakan kesiapan mempererat kerja sama dengan Amerika Serikat.

Pemerintah Peru sebelumnya juga mengumumkan rencana bergabung dalam inisiatif Shield of the Americas yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Baca Juga:  Dubes Iran Sebut Selat Hormuz Tak Ditutup

Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari kerja sama dengan Washington dalam dinamika politik internasional.

Menteri Luar Negeri Peru yang baru ditunjuk, Carlos Espa, juga menyebut Amerika Serikat sebagai mitra strategis.

Pemerintahan Fujimori menyatakan akan menyediakan ruang yang signifikan untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintahan Presiden Trump.

Di kawasan Amerika Selatan, Chile beberapa hari sebelumnya menutup kedutaan besarnya di Teheran.

Namun, negara tersebut tidak memutus hubungan diplomatik dengan Iran karena mempertimbangkan faktor ekonomi dan keamanan.

Hingga pengumuman tersebut disampaikan, Peru menegaskan hubungan diplomatik dengan Iran telah diputus.

Meski demikian, hubungan konsuler antara kedua negara tetap dipertahankan untuk melindungi kepentingan serta warga negara masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku.

(RAD/NID/RAD)

Trending