Connect with us

Politik

SBY Cemas: Sangat Mungkin Perang Dunia Ketiga Terjadi

SBY mengingatkan potensi Perang Dunia III di tengah krisis global. Ia mendesak PBB menggelar sidang darurat untuk mencegah perang besar.

Logompn

Published

on

Sby cemas sangat mungkin perang dunia ketiga terjadi
SBY cemas terhadap kemungkinan Perang Dunia Ke-3. Gambar: Instagram/@presidenyudhoyonoalbum.

MPN Indonesia 21 Januari 2026 - Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyatakan kecemasan atas potensi pecahnya Perang Dunia III yang dinilainya sangat mungkin terjadi.

Pernyataan ini disampaikan SBY melalui akun media sosial X @SBYudhoyono pada Senin (19/1), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.

SBY menilai bahwa kondisi dunia saat ini memiliki banyak kesamaan dengan situasi menjelang pecahnya Perang Dunia I (1914–1918) dan Perang Dunia II (1939–1945).

Ia menyebutkan gejala seperti munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang cenderung provokatif, terbentuknya blok persekutuan antarnegara yang saling berhadapan, hingga peningkatan kekuatan militer dan mesin perang skala besar.

“Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,” ujar SBY, dikutip MPN Indonesia pada Rabu (21/1).

“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” tambahnya.

Kecemasan SBY atas Krisis Global dan Potensi Konflik Internasional

Dalam pernyataannya, SBY menegaskan bahwa ia mengikuti dinamika geopolitik global selama tiga tahun terakhir, terutama perkembangan beberapa bulan terakhir yang ia nilai mengkhawatirkan.

Menurutnya, tanda-tanda krisis global sudah terlihat, tetapi kesadaran dan upaya nyata dari negara-negara dunia untuk mencegah perang besar masih minim.

“Terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” tulisnya.

SBY mengingatkan bahwa banyak studi menyebutkan jika terjadi perang dunia yang melibatkan senjata nuklir, maka dunia akan mengalami kehancuran besar.

Baca Juga:  Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Alot, Ini Hal yang jadi Ganjalan Negosiasi

Ia menyebut potensi korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia, yang berarti musnahnya peradaban dan harapan umat manusia.

“Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” ujarnya.

Desakan kepada PBB dan Seruan Internasional

Sebagai upaya konkret untuk mencegah potensi konflik besar, SBY menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar segera mengambil inisiatif menggelar sidang umum darurat.

Menurutnya, forum tersebut perlu mengundang para pemimpin dunia untuk membahas langkah nyata dalam mengantisipasi krisis global dan mencegah pecahnya Perang Dunia III.

“Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly),” ujar SBY.

“Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru,” tambahnya.

Meskipun SBY menyadari keterbatasan PBB dalam mencegah konflik berskala besar, ia menegaskan bahwa organisasi internasional tersebut tidak boleh diam.

“Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing,” tegasnya.

SBY juga menyampaikan bahwa seruan kepada dunia internasional bisa jadi tidak dihiraukan.

Akan tetapi, ia tetap menyuarakan harapan bahwa kesadaran dan kehendak bersama dapat memicu tindakan kolektif demi menyelamatkan dunia.

“Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu ‘bagai berseru di padang pasir’. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way,” pungkasnya.

Baca Juga:  Di Tengah Konflik Timur Tengah, Prabowo Gelar Pertemuan dengan Mantan Presiden

(AKM/NID/RAD)

Trending