Connect with us

Berita

Blak-blakan soal Revisi Sejarah Nasional, Guru Besar UI Ungkap Proses di Baliknya

Revisi buku sejarah nasional ini tengah digarap besar-besaran. Lebih dari seratus sejarawan dilibatkan.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 05 21t150353.539
Cover buku Sejarah Indonesia karya Drs. Djakarian, M. PD | Gambar: Penerbit Ombak

MPN Indonesia 21 Mei 2025 - Revisi buku sejarah nasional ini tengah digarap besar-besaran. Lebih dari seratus sejarawan dilibatkan.

Proyek ini bukan sekadar perbaikan kurikulum, tapi mencerminkan semangat menggali kembali jati diri bangsa Indonesia.

Salah satu tokoh kunci di balik penulisan ulang ini adalah Prof. Susanto Zuhdi, Guru Besar Sejarah Universitas Indonesia.

Dalam wawancara eksklusif bersama MPN Indonesia, Susanto berbicara blak-blakan mengenai urgensi, proses, tantangan, dan arah baru penulisan sejarah nasional.

“Menulis sejarah itu hal yang lumrah, biasa dilakukan oleh siapa saja, terutama sejarawan ya, karena tugasnya memang begitu,” ucap Susanto membuka pembicaraan, Sabtu (17/5).

Bukan Sekadar Revisi

Menurut Susanto, buku sejarah nasional yang sebelumnya disusun pada 1970-an dan 2010 kini dianggap sudah tidak lagi mencerminkan kekayaan data dan temuan terbaru.

Generasi sejarawan muda, lulusan S2 dan S3 dari dalam maupun luar negeri, telah menghasilkan banyak kajian yang memperkaya perspektif sejarah Indonesia.

Ia menilai, saat ini adalah momentum tepat untuk menyusun ulang narasi bangsa.

“Sekarang sudah muncul temuan-temuan baru, karya-karya baru dari sejarawan muda. Jadi memang sudah ada kebutuhan. Kita memahami lebih dalam lagi siapa kita. Ini tentang identitas bangsa Indonesia,’ kata Susanto.

Lebih lanjut, Susanto menyatakan bahwa proyek ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menjawab kebutuhan akan sejarah yang lebih ilmiah dan representatif.

“Pemerintah tentu punya kebijakan untuk pencerdasan kehidupan bangsa. Menteri bilang, reinventing Indonesian identity. Ini bukan hal baru, tapi pertanyaan lama yang akhirnya dijawab dengan tindakan,” tegasnya.

Baca Juga:  Komdigi Minta Internet Dimatikan saat Nyepi di Bali

10 Jilid Sejarah, 120 Sejarawan, Satu Semangat

Penulisan ulang ini akan dibagi dalam 10 jilid, mencakup masa prasejarah hingga era kontemporer.

Proyek ini melibatkan sekitar 120 sejarawan dari berbagai universitas di seluruh Indonesia, dari Universitas Syiah Kuala di Aceh sampai Universitas Cendrawasih di Papua.

Namun, kendati jumlahnya besar, Susanto menegaskan tidak ada konflik internal yang berarti.

“Enggak ada perbedaan sebenarnya, justru kami sudah jadi satu. Perbedaannya bukan dalam arti bertentangan, tapi beragam tema. Ada yang nulis politik, ekonomi, sosial, agama, maritim, pemerintahan. Semua itu diikat oleh satu tema besar: bagaimana menggambarkan keindonesiaan dalam perjalanan panjang,” katanya.

Koordinasi memang menjadi tantangan besar. Setiap dua minggu sekali, para editor dan penulis menggelar rapat via daring. Setiap bulan, ada pertemuan langsung untuk membahas kemajuan dan kendala.

“Koordinasi itu biasa, apalagi jumlahnya banyak. Tapi kami rutin ketemu. Setiap unit itu ada dua editor. Editor umumnya saya, Prof. Ganjar dari UIN, dan Prof. Singgih dari Undip. Sekarang mungkin sudah 60 persen rampung,” jelasnya.

Angkat Narasi yang Selama Ini Terpinggirkan

Salah satu hal paling menarik dari proyek ini adalah upaya mengangkat narasi-narasi sejarah yang selama ini kurang terekspos dalam buku resmi.

“Banyak narasi yang belum terpublikasikan, sekarang dimasukkan. Misalnya dari temuan arkeologis: ada gambar-gambar perahu dari zaman kuno, artinya nenek moyang kita itu bangsa bahari. Tapi saat orang Eropa masuk, kita mundur dari laut ke darat dan akhirnya terpuruk,” ucap Susanto.

Susanto menyoroti pentingnya menulis sejarah dengan bangga, tapi tetap kritis. Buku ini tidak akan menutupi sisi gelap sejarah, namun justru menyajikannya sebagai cermin pembelajaran.

“Sejarah itu cermin. Kita harus tahu kapan kita jatuh, kapan kita gagal, konflik sosial, reformasi, bahkan sampai kita hampir pecah saat G30S. Itu semua harus ditulis. Kita ingin pembaca tahu bahwa bangsa ini pernah bangkit, pernah juga terpuruk,” katanya.

Baca Juga:  Wamenkes akan Pangkas Pengobatan TBC, dari 6 Bulan jadi 1 Bulan

Menghidupkan Kembali Kesadaran Berbangsa

Lebih dari sekadar dokumen akademik, Susanto berharap buku ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri kolektif sebagai bangsa.

Ia mengingatkan pentingnya menyadari bahwa kemerdekaan tidak datang tiba-tiba.

“Kita ini bangsa besar. Bisa merdeka itu karena perjuangan. Kesadaran bahwa kita ini bangsa pejuang itu penting. Maka semangat nasionalisme harus terus dipupuk. Sejarah bisa membangkitkan itu,” kata Susanto.

Bukan Proyek Sempurna, Tapi Langkah Besar

Tak hanya fokus ke dalam, Susanto juga menekankan bahwa sejarah Indonesia memiliki kontribusi global, terutama dalam konteks solidaritas dunia ketiga dan gerakan non-blok.

“Kita ini yang merintis solidaritas bangsa-bangsa terjajah. Konferensi Asia Afrika itu bukti. Kita bantu perjuangan negara-negara yang belum merdeka. Itu sumbangan kita buat dunia. Maka sejarah Indonesia juga harus dikaitkan dengan pergaulan internasional,” katanya.

Di akhir wawancara, Susanto mengakui bahwa buku ini tidak bisa memuat seluruh dimensi sejarah Indonesia secara sempurna.

Banyak tema lokal yang belum bisa ditampung, dan akan ditulis dalam proyek lanjutan.

“Enggak semua bisa kita muat. Ini kan nasional, jadi highlight saja dulu. Nanti tema-tema lokal bisa ditulis tersendiri. Tapi setidaknya ini adalah langkah awal yang kuat untuk mencerdaskan bangsa dan memperkuat identitas kita,” ucapnya.

(AKM/NID/RAD)

Trending