Connect with us

Berita

BMKG: Kondisi Iklim di Indonesia Sepanjang 2026 Diprediksi Normal

BMKG memprediksi iklim Indonesia 2026 cenderung normal. Sebanyak 94,7 persen wilayah diperkirakan alami curah hujan normal dengan suhu rata-rata 25-29 derajat Celsius.

Logompn

Published

on

Bmkg kondisi iklim di indonesia sepanjang 2026 diprediksi normal
Ilustrasi Prediksi Iklim dan Cuaca. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 31 Desember 2025 - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi iklim dan cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026 berada dalam kategori normal.

Prediksi ini disampaikan dalam peluncuran resmi Climate Outlook 2026 di Jakarta, Selasa (23/12), yang disusun berdasarkan analisis perhitungan fisis dan pemodelan berbasis kecerdasan buatan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa pandangan iklim ini merupakan bentuk komitmen BMKG dalam memberikan gambaran menyeluruh terkait dinamika atmosfer dan laut global serta dampaknya bagi Indonesia.

“Informasi Pandangan Iklim 2026 ini diharapkan menjadi panduan umum dalam penetapan perencanaan, langkah mitigasi dan antisipasi serta kebijakan jangka panjang bagi berbagai sektor yang terdampak iklim,” ujarnya dalam konferensi pers Climate Outlook 2026 di Gedung Command Center MHEWS BMKG, Jakarta Pusat, Selasa (23/12).

Prediksi Curah Hujan dan Suhu Udara 2026

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis BMKG, sebanyak 94,7 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan tahunan dengan kategori normal, dengan kisaran 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun.

Sementara itu, sekitar 5,1 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalami curah hujan dengan kategori atas normal.

Untuk suhu udara, rata-rata suhu tahunan Indonesia pada 2026 diprediksi berada pada kisaran 25 hingga 29 derajat Celsius.

Wilayah yang diperkirakan mengalami suhu tahunan di atas 28 derajat Celsius meliputi sebagian Sumatra bagian selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Kalimantan Tengah, pesisir utara Jawa, serta sebagian Papua Selatan.

Adapun wilayah dataran tinggi seperti Bukit Barisan di Sumatra, Pegunungan Latimojong di Sulawesi, dan Pegunungan Jaya Wijaya di Papua diprediksi memiliki suhu lebih rendah, yakni pada kisaran 19 hingga 22 derajat Celsius.

Baca Juga:  Hujan Deras, Pohon Tumbang di Tebet Timpa Warung dan 2 Motor Warga

“Secara bulanan, anomali suhu udara di Indonesia pada tahun 2026 berkisar antara -0,5 sampai +0,3 derajat Celsius dengan anomali terendah diprediksi terjadi pada Mei dan anomali tertinggi terjadi pada Juli 2026,” jelas Faisal.

Fenomena Iklim Global yang Memengaruhi

BMKG juga memantau sejumlah fenomena iklim global yang berpengaruh terhadap kondisi iklim nasional.

Salah satunya adalah La Nina lemah di Samudra Pasifik, dengan nilai indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) sebesar -0,77 pada November 2025.

Fenomena ini diprediksi berlanjut hingga Maret 2026, kemudian memasuki fase netral pada periode Maret hingga April, dan bertahan dalam kondisi netral hingga akhir tahun 2026.

Sementara itu, di Samudra Hindia, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif masih terpantau aktif dengan indeks bulanan sebesar -0,83.

BMKG memprediksi kondisi IOD akan berada pada fase netral sepanjang tahun 2026.

Dampak Iklim terhadap Lingkungan dan Sektor Pembangunan

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa kondisi iklim normal berpotensi menjaga kualitas udara tetap baik karena curah hujan yang cukup mampu membersihkan atmosfer melalui deposisi basah.

Meski demikian, ia mengingatkan perlunya langkah mitigasi, terutama pada periode tertentu.

“Aktifnya fenomena La Nina lemah pada musim hujan awal tahun perlu mendapatkan perhatian untuk antisipasi potensi dampak fenomena hidrometeorologi ekstrem seperti kejadian banjir dan longsor. Di sisi lain, pada periode kemarau, dapat terjadi peningkatan risiko karhutla, sehingga memerlukan upaya mitigasi sistematis lebih dini,” tuturnya.

BMKG mendorong pemanfaatan informasi iklim secara optimal untuk mendukung sektor-sektor terdampak, seperti sumber daya air, pertanian, perkebunan, kesehatan, dan energi.

Pada sektor pertanian dan perkebunan, adaptasi dilakukan melalui penggunaan varietas tanaman berproduktivitas tinggi serta pengelolaan irigasi yang tepat.

Baca Juga:  Update Banjir di Tangsel, 19 dari 22 Wilayah yang Terdampak Mulai Surut

Daerah dengan potensi hujan tinggi perlu memprioritaskan perbaikan saluran irigasi, sementara wilayah dengan curah hujan rendah perlu mengatur pola tanam dan pengelolaan air.

Masyarakat juga diimbau mewaspadai potensi peningkatan penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), mengingat curah hujan dan kelembapan yang tinggi dapat mendukung perkembangan nyamuk Aedes aegypti.

Selain itu, kombinasi suhu hangat dan kelembapan tinggi berpotensi menurunkan kenyamanan termal tubuh.

Dalam pengelolaan sumber daya air, Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT) disusun menggunakan skenario iklim normal guna menjaga stabilitas pasokan air untuk irigasi dan pembangkit listrik.

Pemerintah dan pemangku kepentingan diharapkan mengantisipasi kebutuhan air selama musim kemarau agar keberlanjutan produksi pertanian dan energi tetap terjaga.

BMKG terus menyediakan informasi iklim melalui berbagai produk, seperti Prediksi Hujan Bulanan, Buletin Iklim, Prediksi Musim Hujan dan Kemarau, serta prediksi hujan dasarian yang diperbarui setiap 10 hari.

Seluruh informasi tersebut dapat diakses melalui kanal resmi BMKG di situs web, Instagram, X, TikTok, dan Facebook.

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending