Connect with us

Berita

Masinis Tragedi Bintaro 1987 Mbah Slamet Meninggal Dunia

Mbah Slamet Suradio, masinis KA 225 dalam Tragedi Bintaro 1987, meninggal dunia di usia 87 tahun dan dimakamkan di Purworejo.

Logompn

Published

on

Masinis Tragedi Bintaro 1987 Mbah Slamet Meninggal Dunia
Masinis Tragedi Bintaro 1987 Mbah Slamet Meninggal Dunia. Gambar: Instagram/@edansepurid

MPN Indonesia 4 Juni 2026 - Slamet Suradio (87), masinis kereta api (KA) 225 dalam Tragedi Bintaro 1987, meninggal dunia di Cengkareng pada Rabu (3/6) dini hari setelah kondisi kesehatannya menurun akibat faktor usia.

Jenazah Mbah Slamet dimakamkan di kampung halamannya di Dusun Krajan, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada hari yang sama.

Kabar meninggalnya masinis yang dikenal sebagai Mbah Slamet tersebut dibenarkan oleh anak bungsunya, Safitri (26).

“Ya sakit karena sudah sepuh. Meninggal tadi dini hari sekitar jam 01.00 WIB. Meninggalnya di tempat kakak. Terus dimakamkan di sini (Desa Gintungan, Purworejo),” kata Safitri, dikutip MPN Indonesia melalui detikJateng pada Kamis (4/6).

Sekretaris Desa Gintungan, Jafar Sadan Arif, menyampaikan kabar duka diterima dari pihak keluarga pada dini hari.

“Tadi malam sekitar jam 1-an ada kabar dari anaknya, Mbah Slamet meninggal, terus di sini (Gintungan) mempersiapkan upacara pemakaman beliau,” ujar Jafar, dikutip MPN Indonesia melalui Kompas.com.

Riwayat Kesehatan dan Keluarga

Kondisi kesehatan Mbah Slamet dilaporkan menurun dalam beberapa tahun terakhir.

“Kurang lebih sudah tiga sampai empat tahun terakhir beliau sering sakit dan rutin kontrol kesehatan,” ujar Jafar.

Sebelum meninggal dunia, Mbah Slamet tinggal berdua bersama istrinya di Purworejo.

Anak-anaknya sebagian besar merantau ke luar daerah.

Dalam kondisi kesehatan yang menurun, ia kemudian diboyong ke wilayah Jabodetabek untuk tinggal bersama salah satu anaknya agar mendapat pengawasan lebih dekat.

“Informasi yang kami terima, beliau berada di Cengkareng di tempat anaknya. Meninggalnya di rumah sakit di sana,” ucap Jafar.

Baca Juga:  Viral! Acara Maulid Nabi di Pekalongan Digelar di Samping Rel Kereta Api

Hingga akhir hayatnya, Slamet Suradio meninggalkan seorang istri, empat anak, dan empat cucu.

Peran sebagai Masinis dalam Tragedi Bintaro 1987

Nama Slamet Suradio tercatat dalam sejarah perkeretaapian Indonesia sebagai masinis KA 225 rute Rangkasbitung–Tanah Abang yang terlibat tabrakan dengan KA 220 Patas Merak di Pondok Betung, Bintaro, pada 19 Oktober 1987.

Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Tragedi Bintaro 1987.

Tabrakan antarkereta api di jalur rel tunggal itu terjadi akibat salah komunikasi persilangan antarstasiun dan menewaskan lebih dari 130 orang serta melukai ratusan lainnya.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu kecelakaan kereta api terbesar dalam sejarah Indonesia.

Menurut penuturan tetangganya, Basori, Mbah Slamet menyampaikan bahwa dirinya telah menjalankan tugas sesuai prosedur saat peristiwa itu terjadi.

“Jadi Mbah Slamet itu cerita sama saya gini, ‘aku itu kan masinis mosok wani ngeblong, aku ki nggowo nyowo akeh. Nek ra ono tandane yo ra wani ngeblong. Andaikata tidak ada izin jalan ya nggak berani wong aku ki nggowo nyowo’ (aku itu kan masinis masa berani jalan tanpa izin, aku ini bawa nyawa banyak. Kalau nggak ada tandanya ya nggak berani jalan. Andaikata tidak ada izin jalan ya nggak berani orang aku bawa nyawa),” kata Basori menirukan ucapan Slamet saat ditemui di rumah duka, Rabu (3/6).

Meski demikian, proses hukum tetap berjalan setelah tragedi tersebut.

Mbah Slamet divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.

Ia juga dipecat dari PJKA, yang kini menjadi PT KAI, tanpa menerima uang pensiun atau pesangon.

“Setelah kejadian dihukum 5 tahun. Jadi setelah halangan itu (Tragedi Bintaro 1987) Mbah Slamet dirawat di rumah sakit. Setelah boleh pulang dari rumah sakit ada yang menjemput dan katanya mau diantarkan pulang, tetapi ternyata dimasukkan penjara, dipecat dari kereta api. Itu ceritanya Mbah Slamet,” imbuh Basori.

Baca Juga:  Remaja Bakar 3 Gerbong Kereta di Jogja hingga Sebabkan KAI Rugi Rp6,9 Miliar, Ternyata Ini Motifnya

(AKM/NID/RAD)

MPN adalah platform media digital yang berdedikasi menyatukan suara dari seluruh Indonesia dengan konten yang akurat, seimbang, dan menginspirasi

Trending