Connect with us

Berita

Menolak Lupa! Ini Jasa Radio Raya saat Perjuangan Kemerdekaan: ‘Duel Udara’ Lawan Propaganda Belanda

Aceh menjadi saksi peran Radio Rimba Raya dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dari propaganda Belanda.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 06 18t113810.963
Tugu Radio Rimba Raya | Gambar: Dok. Pemkab Bener Meriah Aceh

MPN Indonesia 18 Juni 2025 - Aceh 20 Desember 1948 menjadi saksi peran krusial Radio Rimba Raya dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia dari propaganda Belanda yang menyatakan bubarnya Republik Indonesia.

Ketika Radio Republik Indonesia (RRI) di Yogyakarta dihancurkan pada masa Agresi Militer Belanda II, Radio Rimba Raya menjadi satu-satunya saluran komunikasi Indonesia ke dunia internasional.

Radio yang bermarkas di Kampung Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh ini mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia masih ada, memiliki pemerintahan sah, dan tengah berjuang mempertahankan kemerdekaannya.

Mengudara dari Belantara Hutan

Dikutip MPN Indonesia dari laman Kemenkeu, berdasarkan narasi di Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya yang terletak di Kampung Rimba Raya, keputusan penting diambil pada 19 Desember 1948 oleh Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo dalam sidang Dewan Pertahanan Daerah.

Mereka menetapkan bahwa pada 20 Desember 1948, pemancar darurat yang kemudian dinamakan Radio Rimba Raya harus mengudara.

Langkah penyelamatan alat pemancar dilakukan oleh Panglima Divisi X Gajah Kolonel Hoesin Yoesoef bersama Sultan Aman Mar, yang mengawal pemindahan peralatan ke hutan Burni Bies secara rahasia.

Namun, pemindahan ke hutan Burni Bies sangan berisiko tinggi dari intai udara militer Belanda.

Alhasil, lokasi pemancar pun akhirnya dipindahkan ke hutan Rimba Raya yang sulit dijangkau.

Radio ini mengudara menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, dan Urdu melalui pemancar berkekuatan satu kilowatt di frekuensi 19,25 dan 61 meter.

Siaran tersebut menjangkau Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Australia, bahkan Eropa.

Dari hutan lebat kawasan Ronga-Ronga di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Radio Rimba Raya menyuarakan bahwa semangat Revolusi 1945 masih menyala dan bahwa Republik Indonesia berdasarkan Pancasila tetap eksis.

Baca Juga:  Link Download Buku Sejarah Indonesia yang Baru Dirilis Kemenbud

Siaran dari belantara hutan ini berhasil menangkal propaganda Belanda yang menyatakan pada dunia bahwa Indonesia telah dihancurkan.

‘Duel Udara’ yang Menegangkan

Dalam menghadapi upaya sistematis Belanda menghapus eksistensi Indonesia dari mata dunia, Radio Rimba Raya menjadi ujung tombak perlawanan melalui udara.

Siaran dipancarkan hingga ke Medan, Batavia (Jakarta), dan bahkan saling beradu dengan radio Hilversum di Belanda.

‘Duel udara’ antara Radio Rimba Raya dengan berbagai radio milik Belanda digadang-gadang sebagai ‘duel’ yang seru kala itu.

Siaran ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi didengarkan juga oleh Kepala Perwakilan RI di India, Dr. Sudarsono, yang meneruskannya ke perwakilan RI di PBB, L.N. Palar.

Oleh sebab besarnya kekuatan Radio Rimba Raya, Belanda pun berusaha memburu untuk menghancurkan pemancar radio tersebut.

Alhasil, keberadaan radio yang jadi ujung tombak perjuangan Indonesia mendapat dukungan dari luar negeri ini pun harus berpindah-pindah tempat.

Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya

Kini, jejak heroik itu dikenang melalui monumen Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya, yang diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Badan Logistik, Bustanil Arifin, pada 27 Oktober 1987.

Beberapa peninggalan perangkat radio tersebut disimpan di Museum TNI AD Yogyakarta, dilengkapi catatan bahwa perangkat itu merupakan hasil selundupan dari Malaya yang digunakan oleh Pemerintah RI di Sumatera/Aceh tahun 1948.

Radio Rimba Raya terus berperan aktif sampai pemerintahan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Berikut narasi lengkap di Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya tentang perjuangan Indonesia melawan klaim Belanda yang mengatakan Tanah Air telah dikuasai Belanda.

“Saat itu sangat kritis …………………………

Pada tanggal 19 Desember 1948, Ibukota Negara Republik Indonesia Yogyakarta, dikuasai Belanda. Radio Republik Indonesia yang mengumandangkan suara Indonesia Merdeka ke seluruh dunia, tiada lagi mengudara. Radio Belanda Hilversum, secara lantang menyiarkan bahwa Republik Indonesia sudah hancur. Sebagian dunia mempercayai berita itu.

Pada saat demikian gentingnya suasana, tanggal 20 Desember 1948 malam, RRR (Radio Rimba Raya) mengudara menembus angkasa memberitakan bahwa Republik Indonesia yang berdasarkan PANCASILA masih ada dan Revolusi 1945 masih tetap menyala.

Tanggal 19 Desember 1948, Gubernur Militer Aceh, Langkat ,dan Tanah Karo, dalam sidang Dewan Pertahanan Daerah, antara lain memutuskan, tanggal 20 Desember 1948 pemancar RADIO yang kemudian dinamakan Radio Rimba Raya harus telah mengudara.

Tanah Aceh, DAERAH MODAL REPUBLIK INDONESIA, dalam menghadapi segala peristiwa yang terjadi, mempersiapkan diri mendatangkan sebuah pemancar yang kuat dari luar negeri.

Di Ronga—Ronga inilah, akhirnya setelah mengalami proses perjalanan panjang Radio Rimba Raya bermukim, dan tanggal 20 Desember 1948 secara berkala mulai mengudara.”

(AKM/NID/RAD)

Baca Juga:  Sejarah Panjang Bendera Merah Putih: Dijahit Istri Soekarno dari Kain Ini
MPN Studio Hadirkan Perjalanan MT Harjono Lewat Film Pendek, Ceritakan Perjuangannya untuk Indonesia
Film3 minutes ago

MPN Studio Hadirkan Perjalanan M.T. Harjono Lewat Film Pendek, Ceritakan Perjuangannya untuk Indonesia

Kadus di Deli Serdang Bakar Sendiri Barak Diduga Markas Narkoba
Berita14 minutes ago

Kadus di Deli Serdang Bakar Sendiri Barak Diduga Markas Narkoba

Daftar 7 Pemain Diaspora yang Masuk Radar Naturalisasi Timnas Indonesia
Olahraga29 minutes ago

Jelang Piala Asia 2027, Ini Daftar 7 Pemain yang Masuk Radar Naturalisasi Timnas Indonesia

Kebakaran Rumah di Menteng Jakpus, 38 Warga Mengungsi ke Lahan Kosong
Berita48 minutes ago

Kebakaran Rumah di Menteng Jakpus, 38 Warga Mengungsi ke Lahan Kosong

Kebakaran Pemukiman di Mappi Papua Selatan, 60 Unit Rumah Hangus
Berita55 minutes ago

Kebakaran Permukiman di Mappi Papua Selatan, 60 Unit Rumah Hangus

Peringati Hari Listrik Nasional ke-81, PLN Beri Diskon Tambahan 50 Persen
Berita1 hour ago

Peringati Hari Listrik Nasional ke-81, PLN Beri Diskon Tambahan 50 Persen

Annie Areeya, Wanita yang Disebut Dekat dengan Aisar Khaled Benarkan Chat yang Beredar soal Hamil dan Suruhan Gugurkan Kandungan
Selebriti1 hour ago

Annie Areeya, Wanita yang Disebut Dekat dengan Aisar Khaled Benarkan Chat yang Beredar soal Hamil dan Suruhan Gugurkan Kandungan

Harga Emas Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Rp20.000 per Gram
Ekonomi2 hours ago

Harga Emas Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Rp20.000 per Gram

Oknum Polisi di Riau Diduga Habisi Ibu Kandung, Pelaku Diduga Alami Gangguan Jiwa
Kriminal2 hours ago

Oknum Polisi di Riau Diduga Habisi Ibu Kandung, Pelaku Diduga Alami Gangguan Jiwa

Tampil Perkasa, Janice Tjen Lolos 16 Besar di Guangzhou Open
Olahraga2 hours ago

Tampil Perkasa, Janice Tjen Lolos 16 Besar di Guangzhou Open 2026

Keturunan Indonesia, Alvin Tedjo Resmi Terpilih jadi Wali Kota Mississauga Kanada
Internasional2 hours ago

Keturunan Indonesia, Alvin Tedjo Resmi Terpilih jadi Wali Kota Mississauga Kanada

Harga Perak Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Dua Hari Beruntun
Ekonomi4 hours ago

Harga Perak Antam Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Dua Hari Beruntun

Harga Minyak Dunia Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik Kembali Dekati Level Tertinggi dalam Empat Tahun
Ekonomi4 hours ago

Harga Minyak Dunia Hari Ini 28 Oktober 2026 Naik, Kembali Dekati Level Tertinggi dalam Empat Tahun

Roma vs Cagliari 4 2 Sempat Tertinggal, Roma Berhasil Balikkan Keadaan
Olahraga4 hours ago

Roma vs Cagliari 4-2: Sempat Tertinggal, Roma Berhasil Balikkan Keadaan

KRL Jakarta-Bogor Keluarkan Percikan Api, Diduga Berasal dari Pantograf
Viral4 hours ago

KRL Jakarta-Bogor Keluarkan Percikan Api dan Asap di Stasiun Jakarta Kota, Penumpang Panik

Trending