Connect with us

Berita

Pemerintah Wajibkan Ayah Antar Anak Sekolah Hari Pertama, Pentingkah?

Pemerintah mewajibkan ayah untuk mengantar anak sekolah di hari pertama. Namun apakah kebijakan ini efektif? Ini ulasannya.

Logompn

Published

on

Mpnbagas(1250 x 849 px) mpn 2025 07 16t150925.810
Pemerintah Wajibkan Ayah Antar Anak Sekolah Hari Pertama, Pentingkah? | Gambar: Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 16 Juli 2025 - Kementerian Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 7 Tahun 2025 yang mewajibkan para ayah Aparatur Sipil Negara (ASN) mengantar anak ke sekolah di hari pertama masuk.

Gerakan ini menyasar ayah ASN yang memiliki anak usia sekolah. Bagi ASN yang mengikuti gerakan ini wajib melakukan presensi RL di sekolah disertai dokumen pendukung berupa surat edaran hari pertama masuk sekolah.

“Khusus untuk hari pertama anak masuk sekolah di hari Senin besok jangan buru-buru langsung ke kantor atau Balai Penyuluhan KB ya,” demikian tulis Instagram @birosdmkemendukbangga pada Minggu (13/7).

Dampak Psikologis Kehadiran Ayah di Hari Pertama Sekolah

Menanggapi kebijakan ini, Psikolog Klinis A. Kasandra Putranto menjelaskan bahwa kehadiran ayah di hari pertama sekolah memiliki dampak emosional yang signifikan bagi anak.

“Kehadiran ayah di hari pertama sekolah sangat penting dari sisi psikologis anak karena memberikan dampak emosional dan perkembangan yang positif,” kata Kasandra kepada MPN Indonesia, Selasa (15/7).

Menurut Kasandra, beberapa manfaat utama dari kehadiran ayah antara lain:

  • Memberikan rasa aman dan percaya diri: Hari pertama sekolah penuh ketidakpastian bagi anak. Oleh sebab itu, ayah yang hadir bisa memberikan perlindungan emosional dan membantu anak merasa lebih percaya diri menghadapi lingkungan baru.
  • Membangun ikatan emosional: “Momen penting anak dianggap penting juga oleh orang tua, sehingga memperkuat ikatan emosional,” kata Kasandra.
  • Menjadi contoh dukungan emosional yang seimbang: Ayah yang suportif memperlihatkan bahwa perhatian dan kehangatan bukan hanya peran ibu. Hal ini bisa mengajarkan anak bahwa menunjukkan perhatian adalah hal yang sehat.
  • Membentuk kenangan positif: Hari pertama sekolah akan menjadi memori yang kuat dalam tumbuh kembang anak jika didampingi oleh ayah.
Baca Juga:  Purbaya: Saya Tak akan Lakukan Tax Amnesty selama jadi Menteri

Cukupkah hanya Satu Hari?

Terkait efektivitas kehadiran ayah dalam satu hari ini, Kasandra menegaskan bahwa dampaknya tergantung pada konteks relasi antara ayah dan anak.

“Tergantung pada konteks relasi anak dan ayah sebelumnya, serta bagaimana momen tersebut dijalani,” ucap Kasandra.

Menurut Kasandra terdapat dua kemungkinan antara keberhasilan dan kegagalan upaya pendekatan ini, yaitu:

  • Bisa bermakna jika:
    • Dilakukan dengan penuh perhatian dan empati sehingga bisa memperkuat hubungan emosional antara anak dan ayah.
    • Selain itu, momentum hari pertama sekolah seperti ini disebut dengan transisi besar alias critical moment atau milestone. Momen ini lah yang bisa memberikan memori emosional kuat jika dilakukan dengan tepat.
  • Hanya simbolik jika:
    • Ayah hanya hadir saat hari pertama sekolah saja. Hal ini bisa menyebabkan sang anak bingung. “Anak-anak (terutama usia di atas 6 tahun) bisa merasakan ketidakkonsistenan emosional. Anak belajar dari pola, bukan hanya momen tunggal,” jelas Kasandra.
    • Hanya hadir secara fisik, tidak secara emosional. “Tidak ada kontak emosional atau komunikasi yang mendalam, maka efek psikologisnya minimal atau nihil,” tegas Kasandra.

Dengan demikian, dapat disimpulkan kebijakan pemerintah terkait ayah antar anak ke sekolah tidak hanya sekadar simbolik semata, tetapi juga mengarah pada transformasi budaya pengasuhan dalam masyarakat Indonesia.

Kehadiran ayah yang benar-benar nyata secara fisik dan emosional bagi anak akan sangat berpengaruh pada tubuh kembang anak yang nantinya juga akan berpengaruh pada kehidupannya.

(AKM/NID/RAD)

Trending