Connect with us

Berita

Rupiah Diproyeksi Melemah, Sri Mulyani Perkirakan Rp16.900 per Dolar AS di 2026

Menkeu Sri Mulyani proyeksikan nilai tukar rupiah 2026 di Rp16.500–Rp16.900 per dolar AS akibat ketidakpastian dan fragmentasi ekonomi global.

Logompn

Published

on

Rupiah diproyeksi melemah, sri mulyani perkirakan rp16.900 per dolar as di 2026
Ilustrasi Dolar dan Rupiah. Gambar : Ilustrasi Canva

MPN Indonesia 21 Mei 2025 - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 2026 akan berada di kisaran Rp16.500 hingga Rp16.900 per dolar AS.

Proyeksi ini lebih tinggi dari asumsi dalam APBN 2025 yang sebesar Rp16.000 per dolar AS.

Perkiraan tersebut disampaikan dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) sebagai bagian awal dari penyusunan RAPBN 2026.

Tantangan Global Pengaruhi Proyeksi

Dalam pidatonya di Sidang Paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Selasa (20/5), Sri Mulyani menyebut bahwa penyusunan KEM-PPKF kali ini tidak mudah karena menghadapi ketidakpastian global.

“Globalisasi dan semangat kerja sama antar negara telah berubah menjadi fragmentasi dan persaingan sengit antar negara di semua segi,” ujar Sri Mulyani.

Menurutnya, tren proteksionisme dan kebijakan ekonomi yang berfokus ke dalam negeri (inward-looking) turut mendorong pelemahan nilai tukar, sekaligus menandai berakhirnya era kerja sama multilateral yang telah berlangsung sejak Perang Dunia II.

Asumsi Dasar Ekonomi RAPBN 2026

Selain nilai tukar rupiah, dokumen KEM-PPKF juga memuat asumsi ekonomi lainnya.

Pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,2% hingga 5,8%, dengan konsumsi domestik sebagai pendorong utama.

Pemerintah menyatakan bahwa arah kebijakan ekonomi dan fiskal akan disesuaikan dengan dinamika global, sambil tetap menjaga stabilitas makroekonomi di dalam negeri.

KEM-PPKF akan menjadi acuan dalam pembahasan RAPBN 2026 antara pemerintah dan DPR.

Fokus Pemerintah: Stabilitas dan Ketahanan Ekonomi

Sri Mulyani menekankan bahwa pemerintah akan merespons perubahan global dengan kebijakan ekonomi yang adaptif dan hati-hati.

Nilai tukar menjadi indikator penting dalam menilai arah dan efektivitas kebijakan pemerintah, terutama dalam menghadapi tantangan global ke depan.

Baca Juga:  Prabowo Ajak Uni Eropa Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Pendidikan, dan Kesehatan

Pemerintah juga akan memperhatikan dampak pelemahan nilai tukar terhadap inflasi, daya beli masyarakat, dan kinerja ekspor-impor, sambil memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

(AKM/NID/RAD)

Trending