Viral
Cerita Hakim di Aceh Tamiang Selamat dari Banjir, Dibantu oleh Tahanan yang Pernah Divonisnya
Qisthi Widyastuti, seorang hakim berusia 31 tahun di Pengadilan Negeri Aceh Tamiang, membagikan perjuangannya bertahan hidup saat banjir melanda Kabupaten Aceh Tamiang.
MPN Indonesia 11 Desember 2025 - Qisthi Widyastuti, seorang hakim berusia 31 tahun di Pengadilan Negeri Aceh Tamiang, membagikan perjuangannya bertahan hidup saat banjir melanda Kabupaten Aceh Tamiang.
Ceritanya dimulai ketika ia tiba di Aceh Tamiang pada Senin (24/11) untuk menjalani tugasnya sebagai hakim.
Kemudian pada Rabu (26/11), sejumlah pegawai tidak masuk kerja karena rumah mereka sudah terdampak banjir usai hujan deras mengguyur sejak Sabtu (22/11) sore.
Karena kondisi tersebut, Qisthi meminta izin kepada pimpinan untuk kembali ke Medan, tempat tinggal suami dan anaknya.
Di tengah perjalanan, ia melihat longsor di dekat Kodim Aceh Tamiang sehingga langkahnya terhenti. Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah dinasnya.
Namun beberapa jam kemudian, hujan deras merembes melalui atap yang bocor. Ia kemudian memutuskan pindah ke rumah dinas pimpinan untuk menginap.
Detik-detik Banjir Mulai Meninggi
Malamnya, listrik mulai padam. Qisthi pun melihat situasi di kantornya dan ternyata sejumlah warga sudah mulai mengungsi di pengadilan.
Qisthi akhirnya kembali ke rumah dinas pimpinanannya sambil berusaha tetap tenang karena pengadilan dan rumah dinas belum pernah terkena banjir sebelumnya.
Kemudian pukul 05.00 WIB, Qisthi mendapat kabar dari rekan yang menginap di pengadilan bahwa banjir sudah mencapai 2,5 meter di lantai satu pengadilan. Tetapi saat itu lingkungan rumah dinas masih aman dari banjir.
Pukul 06.30 WIB, barulah Qisthi terbangun dan mendapati air sudah menggenangi lantai rumah. Ia pun kembali ke rumah dinasnya dan membawa mobil ke tempat yang lebih tinggi saat air naik sekitar 60 cm.
“Saya masih pikir banjir biasa. Jadi saya selamatkan laptop ke atas lemari. Terus satu baju saya masukkan ke dalam ransel,” ucap Qisthi saat diwawancarai di Medan pada Selasa (9/12).
Qisthi bersama wakil ketua pengadilan dan dua pegawai lainnya pun mencoba mengevakuasi diri. Namun karena lokasi kantor berjarak ratusan meter dan arus air kuat, mereka berjalan menuju sebuah jembatan.
“Karena air di sana itu sudah seleher ini, terus arusnya deras kali. Belum lagi hujan lebat kan. Kami jalanlah ke jembatan yang jaraknya 800 meter,” ungkapnya.
Sempat Dapat Bantuan dari Tahanan yang Sempat Divonis
Di jembatan, mereka sempat kebingungan karena terjebak banjir dengan kondisi listrik mati dan sinyal telekomunikasi yang terputus.
Mereka kemudian bertemu dengan seorang pria berbaju warga binaan yang baru divonis oleh Qisthi karena mencuri berondolan sawit.
“Ditanyanya kami mau ke mana. Terus saya bilang mau ke kantor. Sempat waswas juga saya, entah nanti sakit hati dia terus dicelakainya kami kan,” ucap Qisthi.
Namun ternyata, pria itu bersama tiga warga binaan lain justru membantu Qisthi dan teman-temannya dengan mencarikan boat untuk evakuasi.
Karena boat itu satu-satunya alat evakuasi anak-anak, Qisthi memutuskan untuk tidak menggunakannya.
Pengungsian di Kantor BSI
Qisthi terus bergerak mencari lokasi pengungsian. Mereks sempat ke sebuah kafe namun ditolak sebelum akhirnya menemukan tempat mengungsi di Kantor Bank Syariah Indonesia (BSI).
Mereka menemukan ruang kosong kecil di lantai dua berukuran 2 x 1,5 meter untuk beristirahat beralaskan kain dan memakai sepatu yang diberi pegawai BSI agar tidak kedinginan.
“Kondisi gelap gulita. Untuk makannya, kami dikasih aqua kecil dan pop mie masing-masing satu,” ujar Qisthi.
Malam itu, debit air terus meninggi. Bahkan hingga Jumat (28/11) pagi sekitar pukul 10.00 WIB hujan tetap mengguyur di tengah stok makanan yang terus menipis.
Ia bahkan mengungkap harus menghemat sehingga makan satu pop mie mentah dibagi menjadi empat bagian.
“Kondisinya memang memprihatinkan. Stok makanan tipis. Anak-anak kehabisan popok dan susu. Air minum juga minim,” tutur Qisthi.
Upaya Bertahan Hidup di Tengah Banjir
Dalam ceritanya, Qisthi mengungkap bahwa dari atas rooftop pengungsian ia melihat para pengungsi masuk ke pusat-pusat perbelanjaan untuk mencari makanan karena bantuan dari pemerintah tak kunjung tiba.
Beberapa pengungsi kemudian mendapatkan beras, beberapa ekor ikan, roti, dan biskuit yang diambil dari inventaris BSI lalu diangkat ke rooftop untuk dimasak.
“Dimasak lah beras sama ikan itu. Diprioritaskan ke ibu menyusui dan anak-anak. Nasi itu beralaskan amplop BSI,” sebutnya.
Untuk memasak, mereka mematahkan kursi kayu agar bisa digunakan sebagai api. Qisthi juga menggambarkan pengalaman mereka untuk makan seadanya.
“Kami pun makan dari hasil bapak-bapak itu. Kami makan pop mie pakai air biasa. Kami tiup-tiup lah sampai ngembang,” katanya.
Hingga Sabtu (29/11), bantuan logistik dari pemerintah belum tiba. Yang tersedia hanya upaya warga dalam mencari makanan untuk bertahan hidup.
Kembali ke Kantor dan Upaya Pulang ke Medan
Qisthi dan rekan-rekannya kemudian memutuskan untuk berjalan menuju kantor dan menemukan air masih setinggi 80 cm.
Mereka kemudian pergi ke warung ayam penyet yang berjarak 600 meter untuk mencari logistik.
“Jalan lah kami ke sana beli pop mie, biskuit, dan air mineral. Jadi penjualnya di lantai dua. Cara belinya, uang dimasukkan ke dalam toples terus ditarik mereka dari atas,” ungkapnya.
Saat akhirnya masuk ke kantor, Qisthi menemukan 174 pengungsi di lantai dua.
Mereka bermalam di sana dengan makan dan minum seadanya. Pada Minggu (30/11) pagi, air telah surut dan hanya menyisakan genangan lumpur.
Qisthi kemudian mengumpulkan pegawai yang masih terjebak di rumah dinas dan lainnya agar mengungsi di kantor saja.
“Terus ada pegawai bilang rumahnya tak kena banjir di Kampung Payah Bedi. Dilansirlah kami ke sana pakai sepeda motor. Kami ada 12 orang,” katanya.
Sampai di sana, Qisthi bersama rombongannya langsung bersih-bersih menggunakan air kolam ikan, tak peduli lagi dengan baunya.
Di sana, mereka kembali beristirahat sebelum akhirnya dapat kabar pada Senin (1/12) bahwa ada jalur menuju Medan dari Salah Haji ke Pangkalan Susu.
Mereka akhirnya naik boat ke TPI Pangkalan Susu ketika sinyal telekomunikasi mulai muncul.
Qisthi segera menghubungi keluarganya setelah melihat kapal besar di pelabuhan. Menjelang Magrib, ia bertemu dengan keluarganya dan kembali ke Medan menggunakan mobil.
Dalam pernyataannya, Qisthi mengungkap bahwa pengalaman tersebut sempat membuatnya trauma. Bahkan hujan deras yang melanda Medan membuatnya kembali teringat ke momen tersebut.
“Kalau diingat-ingat, gak nyangka bisa melewati itu semua. Dari Rabu sampai Senin itu tak ada bantuan pemerintah,” katanya.
(AKM/NID/RAD)
-
Teknologi2 weeks agoNonton Film LK21 di HP? Ini Cara Streaming Legal lewat Android dan iPhone
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Subtitle Indonesia: 10 Platform Legal untuk Nonton Film Sub Indo
-
Teknologi3 weeks agoKenapa IDLIX Tidak Bisa Dibuka? Penyebab Domain Error hingga Diblokir
-
Politik4 weeks agoProfil dan Agama Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru yang Dilantik Prabowo
-
Teknologi2 weeks agoLK21 Drama Korea Sub Indo: Alternatif Legal untuk Nonton Drakor
-
Teknologi5 days agoLK21 Subtitle Indonesia Tidak Muncul? Begini Cara Cek Bahasa di Netflix, Prime Video dan Apple TV
-
Teknologi1 week agoLK21 Film Jepang Sub Indo: Di Mana Nonton Movie Jepang Legal?
-
Berita2 weeks agoProfil Martha Tilaar: Agama, Keluarga, dan Perjalanan Kariernya
